Hidden Curriculum dan Penanaman Nilai-nilai Nasionalisme

Hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi dideskripsikan sebagai hasil samping dari pendidikan dalam latar sekolah atau luar sekolah, khususnya hasil yang dipelajari tetapi tidak secara tersurat dicantumkan sebagai tujuan (Rohinah, 2012; Rosyada, 2004; Oliva, 1988) selain juga dapat berupa desakan sekolah, tugas, baca, buku yang memberikan efek yang tak diinginkan begitu pula kebutuhan untuk mempengaruhi orang lain agar menyetujui sesuatu yang diharapkanĀ  (Hamalik, 2006). Konsep kurikulum tersembunyi terekspresikan dalam gagasan bahwa sekolah melakukan lebih dari sekadar menyebarkan pengetahuan, seperti tercantum dalam kurikulum resmi (Kentli, 2009).

Seddon dalam Sanjaya (2008) juga mengungkapkan bahwa hidden curriculum pada dasarnya adalah hasil dari suatu proses pendidikan yang tidak direncanakan, sehingga perilaku yang muncul di luar tujuan yang dideskripsikan oleh guru. Pengertian-pengertian di atas memberikanĀ  gambaran bahwa hidden curriculum dilakukan tanpa perencanaan. Pengalaman belajar tanpa perencanaan ini dapat terjadi melalui interaksi guru-siswa maupun siswa-siswa yang dapat dijadikan media bertukar informasi dan menghasilkan teladan moral dan sosial.

Hidden curriculum mempunyai beberapa fungsi dalam proses pembelajaran, diantaranya sebagai metode untuk memperkaya pengetahuan siswa yang belum ada dalam silabus, contohnya sopan santun, budi pekerti, sikap positif; dan sebagai pencairan suasana, menciptakan minat, dan penghargaan terhadap guru jika disampaikan dengan gaya tutur serta keanekaragaman pengetahuan guru. Untuk dapat menerapkan hidden curriculum, guru harus suka membaca. Dengan membaca, guru akan kaya dengan pengetahuan di luar materi silabus. Guru yang kaya akan pengetahuan akan mampu mengisi dan menambah storagememory siswa dengan pengetahuan yang luas.

Dalam pelaksanaannya, hidden curriculum terdiri dari beberapa variabel. Pada dasarnya, variabel-variabel tersebut erat kaitannya dengan perilaku interaksi sosial di sekolah dan lingkungan sekitar. Variabel- variabel tersebut adalah variabel organisasi, variabel sistem sosial, dan variabel kultur/ budaya (Rohinah, 2012). Variabel organisasi menekankan pada pelaksanaan teamteaching, kebijakan kenaikan kelas, pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan, dan pemfokusan kurikulum. Variabel sistem sosial menyangkut kompetensi sosial guru yang akan berimplikasi pada hubungannya dengan siswa, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan variabel kultur/ budaya dikaitkan dengan kepercayaan sistem, nilai-nilai, stuktur teori, dan maksud/ arti.

Undang-undang Sisdiknas (Pemerintah RI, 2007) menyebutkan bahwa hidden curriculum merupakan jalan by pass mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warna negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Oleh karena pentingnya peran hidden curriculum dalam mencapai tujuan pendidikan, maka setiap sekolah seharusnya mampu memaksimalkan pelaksanaannya.