Hidden Curriculum: brief review

Kajian tentang hidden curriculum dalam pendidikan karakter telah banyak dilakukan dengan hasil-hasil yang dapat digunakan dalam penanaman nilai-nilai nasionalisme. Hasil penelitian Yüksel  (2005) menyatakan pentingnya penanaman nilai-nilai moral pada generasi muda dalam bentuk hidden curriculum. Hal ini karena dalam masyarakat modern, kurikulum formal relatif kurang menjangkau pada aspek-aspek pengembangan moral. Temuan ini sejalan dengan hasil-hasil penelitian yang menunjukkan besarnya pengaruh penerapan hidden curriculum dalam internalisasi nilai dan karakter di sekolah dasar (Çubukçu, 2010), penanaman nilai-nilai demokrasi (Saleh, 2012) termasuk dengan cara melakukan intervensi psikologis (Urbayatun, 2010).

Dalam pengelolaan berbagai program kerjasama internasional yang dilakukan Universitas Ahmad Dahlan di berbagai negara (China, Thailand, Malaysia, Philipina, Kamboja) menunjukkan adalanya kecenderungan bahwa negara-negara tersebut secara sistematik telah mengembangkan pendidikan nasionalisme mereka dalam pendidikan di sekolah. Hal ini juga ditunjang dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sulisworo dan Ika (2015) dengan dana dari institusi. Penelitian ini membandingkan (studi komparasi) bagaimana pengelolaan hidden curriculum di sekolah-sekolah Indonesia dan Thailand.

Sementara itu dari hasil-hasil penelitian yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Nasional melalui skema hibah pascasarjana, Sulisworo (2012; 2013a) melihat bahwa penetrasi teknologi informasi di sekolah yang sudah sedemikian tinggi namun belum didukung pada kesiapan peserta didik dan juga kesiapan konten akademik di dunia maya. Kecenderungan pemanfaatan teknologi ini oleh anak usia sekolah baru pada penggunaan untuk game dan hal-hal lain yang relatif tidak akademis dan kurang mendukung pada pengembangan moral (Sulisworo dan Wahyuningsih, 2014).

Penelitian lanjutan dari hibah pascasarjana ini menunjukkan adanya potensi di berbagai wilayah Indonesia untuk dikembangkan dan diterapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan memanfaatkan teknologi informasi (Sulisworo, et.al., 2014; Maryani, 2012). Hal ini dapat berjalan, baik di sekolah kota di Jawa maupun Luar Jawa (Sulisworo, 2013b). Ini suatu potensi baik bagi pendidikan yang lebih merata.

Dalam penelitian-penelitian itu juga dilihat bagaimana dampak pengiring pembelajaran kooperatif terhadap kerjasama, komunikasi, minat maupun motivasi belajar (Sulisworo, 2012a; Sulisworo, 2012b; Sulisworo dan Suryani, 2014).

Hasil-hasil ini akan menjadi sebuah peluang baru bagi pengembangan nilai-nilai nasionalisme sebagai sebuah dampak pengiring dan dikelola sebagai hidden curriculum di wilayah perbatasan; dan lebih sesuai pada era pembelajaran personal (Sulisworo, 2014a, 2014b).