Surat Al-Insan

Dalam Al-Qur’an ada surat yang bernama Al-Insan yang artinya Manusia. Namun dalam Qur’an ada beberapa kata yang berarti manusia seperti Al-Basyar dan An-Nas. Terkait dengan hal ini, sangat menarik untuk menuliskan makna dari ketiganya. Pada tulisan sebelumnya telah diuraikan perbedaan ketiganya.

Sebagai Al-Basyar, manusia memiliki sifat-sifat yang tidak berbeda dengan makhluk allah lainnya seperti keinginan untuk mempertahankan diri, membela koloni atau kelompoknya, tumbuh dan berkembang biak. Sedangkan sebagai Al-Insan, manusia memiliki sifa-sifat yang berbeda dengan makhluk allah yang lain. Surat Al-Insan ini yang memberikan penjelasan secara khusus tentang apa yang menjadikan manusia berbeda dengan yang lain; meski tidak dituliskan dalam bahasan yang sifatnya komparatif. Ayat-ayat yang sifatnya komparatif tentang manusia dan makhluk lain dapat ditemui pada surat dan ayat yang lain.  

Dalam surat Al-Insan, ada tertulis: Sesungguhnya kami ciptakan Al-Insan dari nuthfah yang tercampur; Kami akan mengujinya, maka kami jadikan ia mendengar melihat.

Kata penting yang akan kita lihat pada ‘mengujinya’. Sebagai al-basyar, manusia tidak akan diuji sebagaimana makhluk allah yang lain. Dalam ujian maka akan ada yang berhasil dan yang gagal. Bagi yang berhasil akan datang ujian baru. Bagi yang gagal tetap akan datang ujian baru juga. Selalu akan seperti itu hingga datang waktu yang telah ditetapkan yaitu kematian. Dalam ukuran manusia, tidak dapat ditentukan siapa yang baik dan siapa yang buruk, siapa yang berhasil dan siapa yang gagal. Semua yang dilakukan oleh manusia hanyalah sebuah persangkaan. Kualitas sebagai Al-Insan tidak dapat diukur secara pasti hanya indicator-indikator yang tampak saja yang digunakan sebagai predictor. Sementara kualitas sebagai Al-Insan juga perpangkal pada sesuatu yang tidak dapat diketahui selain oleh Allah. Sesungguhnya Aku lebih mengetahui dari apa yang kamu ketahui.

Untuk membekali manusia dalam membangun dirinya sebagai Al-Insan, Allah memberikan petunjuk; sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya: Sesungguhnya Kami beri ia petunjuk jalan (roadmap, kali ya?); ada yang syukur dan ada yang kufur.

Ketika ada ayat yang menyatakan bahwa manusia akan dapat lebih rendah derajatnya dari hewan, maka sesungguhnya ayat ini membahas bahwa kualitas Al-Insan yang buruk yaitu Al-insan yang kufur atas petunjuk jalan yang telah diberikan.Tinggi rendahnya kualitas Al-insan ini adalah tergantung pada tinggi rendahnya dalam tingkat kesyukuran dan kekufurannya. Al-insan berkualitas tinggi berarti memiliki kesyukuran yang tinggi dan sebaliknya berkualitas rendah ketika kekufuran meningkat. Dapat dikatakan bahwa syukur dan kufur adalah dua sisi ekstrim dalam sebuah kontinum. Manusia  akan selalu berada pada salah satu posisi pada kontinum tersebut. Dapat dibayangkan kan? Ibarat sebuah dashboard bahan bakar antara full dan empty. Atau signal battery hp. Atau yang lain.

Kajian ini akan menarik ketika kita mulai menyambungkan surat ini dengan surat At-taghabun (pengungkapan). Mungkin lain kali saja kita kupas.

Lanjut saja dengan surat ini. Dalam surat ini juga disebutkan bahwa sebagai insan yang syukur.