Al-Qiyamah

Dalam al-qur’an ada surat khusus yang bernama Kiamat. Surat Makkiyah, 40 ayat, surat ke-75. Dalam beberapa ayatnya terdapat tanya jawab tentang apa itu kiamat. Dari sisi waktu diberi tanda: “ketika mata terbelalak, dan bulan padam, dan matahari dan bulan dikumpulkan (7-9).”

Terkait dengan bulan padam bisa (setidaknya) dua hal yang dapat dibahas. Pertama kita dari ayat-ayat lain tahu bahwa bulan memang tidak memiliki cahaya sendiri (wal qamaru nuran wa syamsu diya’an). Bulan dapat padam kalau sumber cahayanya padam artinya matahari habis sumber cahyanya. Atau bulan dapat padam kalau tertutup dari sumber cahaya, dan ini terjadi pada saat gerhana bulan. 

DIkaitkan dengan ayat berikutnya, ‘matahari dan bulan dikumpulkan’, ini juga dapat dilihat dalam (setidaknya dua) perspektif. Bila dikumpulkan diartikan sebagai berada pada satu garis, maka jelas ini menunjukkan kiamat terjadi pada hari ketika terjadi gerhana bulan. Kalau dikumpulkan dimaknai sebagaimana anak-anak mengumpulkan kelereng, maka ini terjadi ketika semua benda langit berkumpul, disatukan, digulung menjadi satu. Artinya pada masa itu langit sudah tidak lagi mengembang tetapi kembali mengumpul. Mengumpul karena jarak antara matahari dan bulan menjadi semakin dekat. Ini keadaan yang berkebalikan dimana saat ini langit masih terus mengembang. “Dan Akulah yang meninggikan langit (88:18).” “Dan Allahlah yang meluaskan langit (51:47)”. Apakah memang langit pada waktunya akan mengumpul kembali? 

QS 21:104 menyebutkan bahwa “Pada hari kami gulung langit, seperti menggulung lembaran-lembaran kertas (makin mengecil) seperti Kami telah menjadikan pada awalnya, begitulah Kami mengulanginya”. Ini berarti memang alam semesta meluas dan pada masa datangnya kiamat, alam semesta akan mengumpul.

Hanya Allah yang maha tahu atas segala sesuatu.