Reading Qur’an is easier than before

Membaca Al-Qur’an beserta memahami maknanya merupakan hal yang baik untuk lebih mencintainya. Menemukan maknanya ayat-ayat yang ada didalamnya, kami menduga saat ini jauh lebih mudah dari zaman-zaman kekhalifahan. Perkembangan teknologi dalam berbagai bidang dapat menjadi penjelas bagi setiap ayat. Maka wajarlah bahwa dalam Al-Qur’an ada ayat yang menyebutkan ‘(semua itu) menjadi peringatan bagi manusia (al-basyar). yaitu bagi siapa diantara kamu yang ingin maju (menerima/ iman) atau mundur (menolak/ kufur)’. Itu tersebut dalam Al-Mudatsir: 37. Semua menjadi semakin jelas. Mau maju silahkan, mau mundur silahkan.

Ayat itu menjadi tantangan atas ayat yang menyebutkan ‘demi bulan; dan demi malam ketika berlalu; dan demi subuh ketika mulai terang’. Seperti dalam cara pembacaan ayat yang lain. Ini bukan sekedar kata-kata kosong. Seperti mengapa pada kata bulan tidak disebutkan apa-apa, cuma demi bulan saja? Sedangkan pada malam dan subuh disebutkan ketika bla-bla..

Dengan ilmu astronomi sekarang kita akan cepat memahami, karena anak-anak SD pun sudah diajari astronomi sederhana. Pada kata bulan tidak disebutkan apa-apa, karena bulan tidak terjadi apa-apa, tidak ada perubahan posisi relatif terhadap bumi yang mengalami perubahan malam dan subuh. Jadi mengapa bulan diam saja, tetapi terjadi perubahan malam dan subuh secara bergantian? Ini terjawab karena bumi berputar pada porosnya. Bumi berotasi. Ini sesuatu yang jelas seperti bedanya malam dan subuh. Beriman silahkan kufur silahkan. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya (al Mudatsir: 38).

Semoga tidak ada yang berpendapat bahwa ini sekedar othak-athik gathuk. Karena sesungguhnya ini menunjukkan bahwa Qur’an itu merupakan sumber ilmu yang dapat terus berkembang maknanya sesuai berkembangnya alam semesta. Peristiwa yang paralel. Dan untuk membangun kesadaran bahwa dalam pengembangan ilmu pengetahuan maka rujuklah pada dua hal yaitu ayat qouliyah dan kauniyah. Kedua-duanya dirujuk sebagai proses verifikasi triangulasi saintifik.

Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamun.