Avoiding from SAQAR through feeding the poor as a response of Indonesia’s GDP increase

Ada yang menarik pada lanjutan ayat di Al Mudatsir tentang SAQAR. Setelah sumpah Allah atas bulan, malam, dan waktu shubuh. DIsebutkan bahwa saqar adalah salah satu peristiwa besar yang menjadi peringatan bagi manusia. Kata manusia yang disebut bukan an-naas, tetapi al-basyar. Dalam beberapa literatur ada yang membedakan makna antara keduanya.

Dalam al-Qur’an basyar biasa digunakan untuk menunjuk manusia sebagai makhluq yang memiliki kebutuhan biologis; makan, minum, istirahat, tidur  dan sebagainya. Sedangkan al-insan, al-insu, an-naas berasal dari akar kata yang sama. An-nas, dalam al-Qur’an dengan jelas menunjuk kepada keturunan Adam As secara umum. Al-ins, adalah sinonim dari al-insan yang juga berasal dari anasa. Namun penggunaan keduanya dalam Al-Qur’an berbeda; al-ins selalu dihubungkan dengan al-jin dalam hubungan oposisi (kebalikan). Sedangkan al-insan adalah terma yang digunakan tidak terbatas pada manusia sebagai makhluk abstrak (ins), ataupun manusia yang memiliki kebutuhan-kebutuhan biologis (basyar), tapi ia digunakan untuk menunjuk manusia dengan segala totalitasnya, yang berbeda dengan makhluk lain dan diberi amanah untuk menjadi khalifatu’l-Lahfi’l-ardl. Sumber: http://www.sangpencerah.com/2013/07/manusia-dalam-al-quran-memahami.html

Akan menarik lagi pemaknaan perbedaan itu pada definisi yang ditulis oleh Ali Shariati dalam konteks gerakan umat. Silahkan baca sendiri.

Hal yang sebetulnya ingin kami sampaikan adalah bahwa fenomena-fenomena saqar banyak terkait dengan aktivitas al-basyar. Sikap-sikap manusia yang paralel dengan hewan (being). Artinya sikap yang cenderung tidak ada perubahan dari masa ke masa sebagaimana kualitas being. Dari dulu manusia ada yang baik dan buruk, hanya bentuk penampakan baik dan buruk berbeda. Sebagai misalnya, dahulu ada manusia yang cenderung suka berperang dan menghancurkan yang lain. Hanya dulu dengan senjata sederhana, kalau sekarang lebih hebat yaitu dengan menghancurkan aqidah/ akhlak dengan berbagai media. Manusia dulu senang berkumpul hanya dilakukan secara fisik, sekarang juga senang berkumpul melalui sosial media. dan lain lain.

Dari semua aktivitas al-basyar ini ada yang menjadikan mereka menyesal yaitu karena tidak sholat dan tidak memberi makan orang miskin.  Kami ingin menggarisbawahi yang kedua, memberi makan orang miskin terkait dengan GDP. GDP yang tumbuh bagi Indonesia menjadi pertanda akan semakin membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat (meski ini indikator fisik namun memang perlu didukung pada indikator non fisik juga). Kekhawatiran yang muncul adalah apakah kenaikan GDP ini akan dirasakan oleh semua orang? Karena peningkatan GDP ini sesungguhnya hanya akan mendorong pola konsumsi pada kelompok menengah atas (yang porsinya 25% jumlah penduduk) yang menguasai atau merasakan 75% dampak kenaikan GDP. Artinya apa? Hanya 25% kenaikan GDP  yang akan dirasakan oleh golongan bawah atau miskin (meski jumlah mereka 75% jumlah penduduk). Tolong dicatat bahwa terminologi miskin di sini beda dengan yang didefinisikan pemerintah atau lembaga pengukur taraf hidup masyarakat lain.

Terkait ini, indikator yang dapat digunakan untuk melihat tingkat distribusi adalah dengan indek Gini. Definisinya adalah ‘Gini index measures the extent to which the distribution of income or consumption expenditure among individuals or households within an economy deviates from a perfectly equal distribution’. Sumber dari http://data.worldbank.org/indicator/SI.POV.GINI.

Maka tugas kita dalam berdakwah yang memang tugas utamanya adalah salah satunya memastikan agar harta itu tidak tertumpuk atau beredar diantara orang kaya (yang 25% tadi). Ini perintah yang ada di Qur’an surat Al-Hasyr:7. Dan rasanya ini juga menjadi landasan bagi gerakan Al Ma’un oleh KH Ahmad Dahlan masa itu. Memastikan tersantuninya kaum miskin. Dengan gerakan ini maka indeks Gini Indonesia akan membaik yang artinya tingkat kemerataan kesejahteraan juga baik.

Tantangan dalam dakwah ini adalah orang kaya akan berkata “lha aku yang cari kekayaan/ harta ini, kok harus diberikan pada orang lain? masyarakat model apa ini?’ Begitu kali. Namun itu yang sesungguhnya adalah dualisme menarik dan melepaskan. Kita disuruh mencari penghidupan di dunia namun kita juga disuruh melepaskan kehidupan dunia.

NB. terimakasih Mas Priyo dan Mas Muh Arif atas diskusinya yang menjadikan kami lebih sadar.