Al Mudatsir menjelaskan Gratifikasi, Suap

Dalam diskusi dengan teman Priyo Pujiwasono kami setuju bahwa pada akhirnya GDP Indonesia yang masuk 10 besar perlu dilihat sebagai suatu yang positif. Memang itu indeks makro yang perlu dikembangkan kebijakan lebih jauh pada level mikro agar support pada kinerja. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah GDP akan menggerakkan kelas menengah dalam perilaku aktivitas ekonomi. Maka bagaimana dengan kelompok pendapatan rendah. Akan ada potensi gab antara kelompok menengah dan bawah. Ini yang menurut kami ada relevansinya dengan ayat ‘agar harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu’ (Al Hasyr: 7).

Selain itu dalam kaitan dengan Al Mudatsir, ada cukup jelas pada ayat-ayat awal bahwa dalam berperilaku menghadapi ‘kesibukan siang hari yang panjang’ (Al Muzammil: 7) adalah pertama tiada lain yang kita lakukan sepanjang hari selain ‘dan Tuhanmu maka Agungkan lah’ (Mudatsir: 3). Kita bekerja mencurahkan kemampuan kita memang hanya untuk itu. Bukan untuk mencari kekayaan, kekuasaan, dan lainnya. Tatapi menyebarkan salam, kasih, kepada semua orang. Aktivitas porduktif yang membawa manfaat bagi semua orang. Jadi ayai ini bukan sekedar bangun tidur kemudian bertakbir. Lebih dari itu.

Dan pakaianmu maka bersihkanlah (Mudatsir: 4). Ayat ini bukan sekedar berarti bahwa pakaian fisik kita bersih, dicuci dengan baik, Tetapi ini adalah pakaian dalam arti majazi, perumpamaan. Pakaian yang dimaksud adalah kekuasaan, amanah yang kita emban. Jadikan amanah itu bersih dari perbuatan-perbuatan buruk. Kalau kita di pelayanan, berikan pelayanan yang baik; kalau kita berdagang, berikan takaran yang benar, dll. Itu yang disebut dengan pakaian yang bersih.

Itu semua akan dapat dilakukan jika kita ‘dan kekejian maka tinggalkanlah’ (Mudatsir: 5). Awal dari sikap kita yang tidak bersih akan mendorong kita untuk berbuat keji. Mempersulit orang, mengambil keuntungan dalam kesempitan, berbauat curang, membohongi orang lain, dll perbuatan keji. Ketika kekejian sudah masuk dalam pengelolaan organisasi, maka akan menjadi awal bagi bobroknya sistem. Maka tinggalkanlah. Hal yang saat ini menjadi perhatian kita sema adalah kekejian dalam perilaku korupsi dalam berbagai bentuk, dan juga gratifikasi dan suap. Ini yang akan dapat meruntuhkan kemajuan bangsa yang sudah dibangun oleh banyak orang menjadi sia-sia dan hanya berakhir dalam teori-teori ekonomi. Ayat yang menyebutkan ‘dan janganlah engkau memberi lalu berharap lebih banyak’ adalah menjelaskan tentang fenomena gratifikasi dan suap. Gratifikasi dan suap dilakukan dengan kita memberikan sesuatu pada pemegang otoritas dengan harapan kita akan memperoleh kemudahan yang menghasilkan sesuatu yang lebih dari yang kita berikan. Selain ini sikap yang keji juga ini menunjukkan bahwa kita bukan orang yang sabar dalam mencari penghidupan. Kita menjadi orang yang rakus dan lupa untuk mengAgungkanNya. Ini yang menjadi penutup cerita ayat awal ‘dan karena Tuhanmu maka bersabarlah’ (Mudatsir: 6). Kesabaran kita dalam penghidupan dunia harus dilakukan terus menerus untuk memastikan kemajuan negeri ini. Kemajuan yang tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia, tetapi seluruh dunia. Menjadikan bangun kita sebagai peringatan untuk mengagungkan Tuhan.

Dengan pemahaman ayat itu akan dapat ditelusur pengembangan sikap-sikap yang lebih baik dalam menghadapi fenomena GDP Indonesia yang menguat. Agar pada saatnya Indonesia menjadi negara yang memberi manfaat pada seluruh negeri di bumi ini. Mulai dari sekarang membangun sikap positif.