So let him be c…

So let him be cursed! How he plotted! (74: 19)

Membaca ayat-ayat mutashabihah terasa menarik karena dari ayat-ayat itu kita dapat menyelami, mencari, menelusuri, memanjangkan akal, menimbang, mengaitkan dan semua aktivitas observasi untuk memahami suatu fenomena kita lakukan. Apakah hasilnya akurat? Mungkin tidak, karena memang seperti itu karakter ayat-ayat mutashabihah. Namun ada satu yang pasti didapat, yaitu semakin dalam rasa kecintaan kita pada pengetahuan yang mendekatkan pada Allah.

Dalam surat Al Mudatsir ayat 18-25 disebutkan tentang sifat-sifat orang kafir. Seperti dalam tulisan-tulisan kami yang terdahulu, kami cenderung mengartikan orang kafir bukan untuk membenturkan orang Islam sebagai agama dan orang non Islam sebagai agama. Kafir lebih sebagai suatu perilaku atau cara bersikap yang menolak pada hukum-hukum Allah (kauniah, qauliyah). Sehingga sikap kafir dapat juga muncul pada orang-orang yang mengaku dirinya beragama Islam.

Orang-orang kafir sesungguhnya mereka juga berfikir tentang kebenaran dan mereka juga tahu adanya yang benar dan yang salah untuk sesuatu yang memang sudah jelas hitam dan putihnya. Kerena memang ada hal yang sifatnya abu-abu. Yang pada daerah abu-abu ini memang memerlukan kemampuan dan kehalusan jiwa dalam memilih. Sesungguhnya ia telah memikirkan dan menetapkan (Red. Memikirkan benar dan salah; serta menetapkan pilihannya) (74:18). Artinya orang kafir sudah tahu bahwa suatu hal itu baik dan buruknya. Namun ia menetapkan memilih yang tidak baik. Maka binasalah, bagaimana ia menetapkan? Kemudian, binasalah, bagaimana ia menetapkan? (74:18-19). Dua kali kata binasalah disebutkan secara berurutan. Bayangan kami, kalau dalam bahasa Jawa akan jadi begini: ciloko tenan deweke. Wis, ciloko tenan ki….! Suatu penegasan bahwa itu hal yang sangat serius. Apa yang menjadikan dia celaka?

Kemudian ia berfikir/ memikirkan, lalu berwajah masan dan cemberut. Lalu berpaling dan menyombongkan diri. (72:21-23). Ada suatu proses untuk menjadi kafir. Bukan secara tiba-tiba orang menjadi kafir. Dari ayat itu dapat dipelajari bahwa ketika orang berfikir dan darinya ia memperoleh kebenaran; namun ia berpaling (menolak kebenaran itu) dan menyombongkan diri, maka saat itulah ia jatuh dalam jurang kekafiran. Meski KTPnya tetap tertulis Islam.

Akan banyak hal yang menjadikan orang berpaling dari kebenaran. Tanyakan saja misalnya mengapa para pejabat yang ditangkap KPK itu melakukan korupsi. Suatu yang jelas hitam dan putihnya )karena ada UU yang mengaturnya). Pasti dia sudah berfikir dan menetapkan pilihan. Dia memalingkan diri dari kebenaran. Sombong dengan mengira bahwa ia akan dapat lepas dari hukuman. Merasa kuat dengan kekuasaan yang dimiliki, dapat mempengaruhi orang untuk memenuhi hasratnya. Maka karena itu ia menjadi golongan orang kafir. Maka hanya satu kata-kata yang pantas untuk mereka: Mampus! Mampus!