Pergeseran ‘Ngaji’ dulu dan sekarang

Meski hari libur memperingati Hari Buruh, ternyata anakku tidak libur. Karena latihan ujian kelas 6. Namanya juga pendidikan yang hanya mengejar nilai tinggi pada keterampilan mengerjakan soal. Mau apa lagi. Meski banyak yang menghujat sistem pendidikan ini, toh pemerintah dan para guru masig saja jalan seperti apa adanya. Mengajarkan latihan soal dalam setiap hari pertemuan.

Saat sampai di belokan beteng kulon di arah selatan seberang jalan terlihat sekumpulan para orang tua sedang duduk. Ada yang di dalam dan ada yang di luar. Tempat itu ku kenal sebagi toko Madiyo. Toko besar saat kami masih kecil. Namun saat ini sudah kalah saing dengan toko-toko modern dan fastfood yang menjamur bak cendawan di musin hujan. Cendawan kan jamur juga ya. Kembali ke para orang tua tadi. Tadinya kuduga ada sripah (lelayu). Tetapi saat kuperhatikan sekilas lebih cermat, dugaanku berubah. Sepertinya lebih tepat sedang ada pengajian. Mungkin dari sejak setelah sholat shubuh tadi.

Pulang dari mengantar anak, lewat jalan yang sama. Aku berhenti saat lampu lalulintas berwarna merah. Tempat dimana pengajian tadi berlansung. Saat jalan sepi, sedikit terdengar suara penceramah. Meski sebentar terdengar, itu memastikan bahwa memang sedang berlangsung pengajian ba’da shubuh. Tidak ada anak remaja dan pemuda di sana. Semua orang tua yang dugaanku berusia rata-rata di atas 60 tahun. Aku dapat menduga demikian karena usiaku sendiri juga sudah cukup tua. Hahaha…..

Terlintas sesaat mengapa ya, di hampir pengajian di setiap kampung, di setiap bulan dan bahkan di TV yang hadir adalah para orang tua saja kebanyakan. Kemana para pemudanya? Ini bukan berarti para orang tua itu salah. Beliau-beliau sudah benar dengan mengaji untuk memastikan akan menjadi akhir yang baik. Hal yang paling mudah ditarik kesimpulan adalah para pemuda tidak tertarik pada pengajian seperti itu. Segmentasi yang berbeda kali ya? Ini menjadi penting karena Indonesia dalam beberapa dekade ke depan akan merasakan bonus demografi. Artinya kualitas para pemuda menjadi faktor penentu, faktor kunci keberhasilan. Lha kalau pengajian di kampus yang rata-rata teman kantor kami juga masih muda dan usia produktif, isi pengajian juga banyak humor-humornya. Begitu selesai pengajian, ya kembali pada aktivitas selama ini. Relatif kurang ada perubahan. Harapan ‘gojeg pari keno’ kurang berhasil. Lebih-lebih terkadang pengajian itu di tempat-tempat lain adalah aktivitas yang mengandung sebuah ancaman sosial tertentu. Orang mengaji agar tidak mendapat ‘cap’ tertentu. 

Fenomena-fenomena ini menunjukkan suatu kebutuhan akan bentuk pengajian baru yang dapat membawa para pemuda menjadi bergairah dalam menjalankan ajaran agama. Mungkin tidak harus satu tema dalam sebuah pertemuan. Artinya komunitas yang dimunculkan tidak selalu membahas agama sebagai ritual tetapi agama sebagai pencerah perubahan masyarakat. Orientasi pengajian ini apa ya? Apakah mungkin dalam bentuk gerakan/ action/ movement tertentu dengan produk aktivitas tertentu? Apa sih yang sesungguhnya digemari oleh pemuda? Kalau hanya sekedar digemari mungkin gampang. Gempuran hedonisme yang terjadi selama ini memang telah menjadikan kita senang pada kehidupan dunia. Itu yang digemari. Tapi itu kan bukan sesatu yang kita inginkan untuk tegaknya nilai-nilai moral di masyarakat. Hedonisme tidak akan menunjang produktivitas dan daya saing, apalagi kesejahteraan. Tapi hanya menjadi pasar luas dan besar bagi pengendali nilai-nilai hedonism. Ini perjuangan yang harus dilakukan.

Sampai sini, njur embuh piye carane. Ono sing iso ngandani ora? Help yo