Inna Kurniati: …

Inna Kurniati: Kalo pola pikirnya dibalik bgmn? Maksudnya: bgmn kualitas ustad skrg? Apa layak memberikan pengajian, apa mampu memotivasi peserta pengajian? Bahkan ustad sdh spt selebriti je.

Satu masukan yang kami juga setuju. Bahwa kualitas ustad sekarang kalah dengan kepentingan rating kembali pada bagaimana acara televisi di tonton dan pada akhirnya pemirsa membeli produk tertentu. Kapitalisme. Di sisi lain memang banyak pesantren yang melahirkan lulusan-lulusannya. Dan karena tarikan sistem pendidikan nasional, banyak pesantren yang bergeser menjadi sekolah sebagaimana sekolah ala kebijakan pemerintah. Akhirnya lulusan juga terseret-seret pada bentuk jati diri yang berbeda dengan harapan untuk perubahan masyarakat.

Ada lagi. Kadang pesantren juga dikonotasikan untuk mengubah perilaku secara instan oleh masyarakat. Saat keluarga sudah menyerah karena tidak pernah mendidikan anaknya. Lihat saja pada anak-anak nakal, pencandu obat, dll. oleh orang tua diserahkan ke pesantren. Tetapi anak-anak yang brilian, cerdas, mental baik relatif jarang dikirim ke pesantren. Dengan berbagai alasan. Jadi dimana harus mulai mendidik ustadz (dalam arti agen perubahan nilai di masyarakat)?

Siapa lembaga yang bertanggung jawab mengelola ini? Paling enak adalah kembali ke diri kita dulu, Lha kita harus jadi apa, siapa yang ngajari kita? Seperti telur dan ayam. Dan memang tidak mudah. Menjadikan ‘pengajian’ yang sarat pada sentuhan spiritualnya, intelektualitas, dsb. Piye yo?