Islamic Parties Coalition: is It Possible?

Isu untuk koalisi partai-partai ‘Islam’ dalam pemilihan presiden dan wakil presiden terasa menguat setelah dilakukan penjumlahan perolehan suara dari PPP, PAN, PKS, PBB, PKB di sekitar 30%. Pertanyaan apakah mungkin ini menjadi penting karena ujung dari proses demokrasi ini tetap pada kemampuan untuk memegang kendali pada kekuasaan.

Beberapa fenomena yang akan muncul adalah, kalau toh terjadi koalisi maka sesungguhnya itu merupakan koalisi yang rapuh. Karena platform partai yang berbeda dari semua partai ‘islam’ tersebut. Judul mengusung ‘islam’nya saja yang relatif sama. Selain itu memposisikan partai ‘islam’ dan non ‘islam’ mengisyaratkan bahwa akan terjadi orientasi ‘common enemy’ dalam pengelolaan negara. Dikotomi antara ‘islam’ dan ‘non islam’. Ini yang akan berpotensi pada ‘disintegrasi’ bangsa. Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa Indonesia sebagai negara yang plural termasuk dalam beragama. Akan ada kesan kemenangan ‘partai islam’ sebagai usaha dominasi mayoritas pada minoritas. Ini yang akan dibaca. bahwa sesungguhnya orang Islam tidak hanya berada pada partai ‘islam’ tetapi ada di hampir semua partai yang ada. Dan orang islam selalu meyakini bahwa dia tidak akan berbuat kecuali untuk keagungan Asma Allah yang memancar pada kemanfaatan hidupnya bagi orang lain.

Sudah saatnya orang islam bergerak secara lebih multi dimensi dalam memberikan pengaruh pada lingkaran-lingkaran di sekitarnya tanpa harus menyebut ini ‘islam’. Gerakan-gerakan kultural yang membangun budaya masyarakat madani seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan NU serta organisasi sejenis akan jauh lebih hebat pengaruhnya ketika umatnya menyadari dirinya Islam secara kaffah. Gerakan politik warganya dapat saja masuk ke semua partai yang ada baik partai ‘islam’ maupun ‘non islam’ dengan membawa perubahan pada hal-hal yang baik untuk kemajuan umat, masyarakat indonesia yang tantangannya menghadapi dinamika persaingan budaya dengan negeri lain semakin menguat. Hadapi masa bonus demografi dengan generasi yang kuat. Apapun partainya.

NB: kata ‘islam’ dalam tanda petik kami maksudnya ‘islam’ hanya sebagai simbol. Islam tanpa tanda petik adalah islam yang sesungguhnya.