Where is the position of Islam in Indonesian election?

Dalam setiap pemilu, umat Islam selalu menjadi primadona setiap partai. Mengapa? Meski bukan negara Islam, Indonesia mayoritas berpenduduk beragama Islam. Kemampuan untuk merebut hati masyarakat Islam akan memberikan buah kemenangan. Dan sebaliknya, semua kelompok yang menyebut dirinya perwakilan Islam akan berusaha memberikan ‘perlawanan’ untuk mencegah masyarakat memilih partai yang lain. Namun tidak dapat lagi dielakkan bahwa pemenang pemilu 2014 bukan partai yang mengusung ‘islam’. 

Kemenangan partai non ‘islam’ dapat diartikan bahwa isu keislaman sudah tidak terlalu penting lagi di masyarakat. Terutama karena memang sejak orde baru semua komponen masyarakat telah bersepakat bahwa NKRI adalah sudah final. Artinya sistemai demokrasi yang berjalan saat ini juga sudah merupakan sebuah pilihan untuk proses peralihan kepemimpinan nasional. Oleh karenanya tersebarnya orang-orang Islam ke berbagai partai yang ada baik itu partai ‘islam’ dan non ‘islam’ adalah merupakan suatu konsekuensi logis. 

Sebagai sebuah pendulum, akan ada bentuk keseimbangan baru dalam proses artikulasi idiologis yang ada di masyarakat. Orang-orang islam yang ada di berbagai partai, dapat saja dilihat sebagai oportunis untuk mencari kekuasaan. Namun sesungguhnya bisa juga dilihat mereka melakukan ‘dakwah’ melalui partai. Sehingga terkadang muncul pernyataan ‘kalau kita tidak masuk ke dalam partai, maka orang lain yang akan masuk’. Proses diskusi sosial politik tersebut akan selalu terjadi sebagai suatu dinamika politik dan akan relatif memanas dan menguat pada masa-masa pemilihan pimpinan nasional. 

Fenomena yang tidak boleh untuk diabaikan adalah semakin tingginya persentase golput dalam pemilu. Barangkali dari data golput akan semakin dapat diselami bagaimana proses perubahan perlahan dalam masyakarat terjadi. Hanya sayang, tidak ada situs yang dapat memberikan data ini secara lebih rinci. Sebagai buah demokrasi, memang akan segera dapat ditentukan siapa presiden dan jajarannya, siapa DPR dan seluruh anggota dewannya. Namun untuk Indonesia ke depan, angka golput ini yang justru akan menentukan wajah Indonesia ke depan. Banyak hal dapat diprediksi melalui analisis data golput ini. Dan peran Islam sebenarnya barangkali justru dapat terbaca dari sini. 

Tingkat pendidikan rata-rata Indonesia yang semakin baik yang dilihat pada angka partisipasi kasar pada sekolah menengah dan tinggi tentu berkorelasi positif pada kesadaran politik masyarakat. Dan dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia juga akan mulai menuai bonus demografi dengan penduduk usia produktif yang dominan. Semakin merebaknya semangat berislam yang juga diajarkan sejak sekolah dasar pada dekade terakhir akan memberi warna tersendiri bagi karakter masyarakat ke depan. Fenomena-fenomena ini yang akan menjadi spider web analysis sebagai penjelas dimana posisi Islam dalam kancah pembangunan bangsa.

Hal yang patut dicatat adalah Islam adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam, membawa cinta kepada sesama -semua pihak tak terkecuali, tidak layak kebencian disebarkan atas nama Islam. Hal yang patut dilakukan oleh semua pihak adalah menegakkan keteladan dalam masyarakat. Insya allah ketenangan dalam bernegara dan bermasyarakat akan datang. Dan Islam akan muncul bukan pada jumlah orang tetapi nilai-nilai universal yang membawa kemakmuran pada negeri ini dan meluas pada negeri-negeri lain. Di sinilah letak Islam dalam berbagai pergumulan nilai dalam berbagai budaya dunia.