Are Islamic parties exist in Indonesia?

Pemilu 2014 telah terlihat pemenangnya. PDIP 19,24 persen, Partai Golkar 15,03 persen, Partai Demokrat 9,42 persen, Partai Gerindra 11,75 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 9,31 persen, Partai Amanat Nasional (PAN)  7,49 persen, PKS 6,99 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih menikmati 6,7 persen, Partai Nasdem, berhasil merebut 6,7 persen, Partai Hanura 5,1 persen, PBB 1,5 persen, dan PKPI 0,94 persen.

Jika digunakan pengelompokkan dengan terminologi partai era orde baru, maka dapat dikatakan ‘Golkar’ (Golkar, Demokrat, Nasdem, Gerindra, Hanura, PKPI) memperoleh 48,94 persen, ‘PDI’ (PDIP) 19,24 persen, dan ‘PPP’ (PPP, PKB, PBB, PKS, PAN) 31,82 persen. Dibandingkan dengan pemiliu yang selalu terjadi pada masa orde baru, sesungguhnya partai-partai Islam mengalami peningkatan yang signifikan. 

Pertanyaannya adalah apakah ini merupakan tanda kenaikan kesadaran politik masyarakat Islam? Jawabnya ‘TIDAK’. Karena sesungguhnya pada sistem multi partai saat ini, hampir semua partai termasuk partai yang yang dikonotasikan partai Islam adalah partai-partai oportunis yang cenderung akan mencari celah untuk ikut merasakan kemenangan dalam pemilu ini. Selain juga sesungguhnya warga yang menyatakan diri sebagai orang Islam baik abangan maupun santri sudah tersebar pada semua partai yang ada. Persebaran seperti itu terjadi karena hasil sistem pendidikan yang ada yang cenderung membangun kesadaran baru pada para warga. 

Sisi lain, akan kita lihat pergerakan lobi antar partai yang akan mengelompok dalam koalisi pengusulan calon presiden dan calon wakil presiden. Tidak akan partai-partai ‘islam’ akan mengelompok dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Selain pengelompokkan partai ‘islam’ akan menjadi common enemy bagi partai lain; meski sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai partai Islam. Lihat saja link situs berikut http://livinginindonesia.info/item/sexiest-legislative-candidates. Link tersebut menegaskan bagaimana sesungguhnya tidak ada lagi partai Islam. Semua menuju satu tujuan, yaitu dapat melenggang ke kursi dewan dan menguasai pemerintahan. Ini memang suatu konsekuensi pada sistem demokrasi apalagi pada demokrasi yang masih muda. 

Hal yang perlu dilihat adalah adanya penguatan pada kelompok golput yang persentasenya dari waktu ke waktu bertambah besar. Angka golput juga terus meningkat. Pemilu 1999 angka golput 10,21%, Pemilu 2004 naik menjadi 23,34%, dan Pemilu 2009 naik lagi menjadi 29,01%. Dan diprediksi pada pemilu 2014 mencapai 34,02 persen. Ada apa ini. Ini akan menjadi tanda pergeseran penguatan pengaruh pada masyarakat. Dapat dikatakan bahwa level pendidikan rata-rata Indonesia semakin tinggi, namun kesadaran untuk ikut serta dalam pemilu atau terlibat dalam partai semakin rendah. Ini tidak dapat dikatakan mereka yang golput tidak memiliki kesadaran politik rendah atau acuh pada sistem partai; tetapi akan ada skenario besar yang tidak terlihat dalam proses pertumbuhan bangsa. Terlebih jika ternyata persentase dari yang golput adalah para pemilih awal atau pemilih muda. 

Pergeseran kekuatan dalam civil society ini perlu penjadi kajian bagi pembangunan Indonesia seutuhnya. Menuju Indonesia Emas.