DISIPLIN MERUPAKAN LANGKAHPENINGKATAN MUTU

Oleh: Arista

Bermula dari suatu tantangan bagi diri Saya setelah mndapat gelar Strata 1 untuk berpetualang ke kota dan Provinsi lain yang belum pernah Saya jajaki. Di benak Saya mengamalkan ilmu di suatu daerah terpencil adalah suatu hal yang menarik dan menantang. Berhayal akan mengabdikan hasil pendidikan selama menjadi mahasiswa di bidang keguruan membawa saya mencari dan berselancar di dunia maya tentang suatu daerah yang minim dan membutuhkan figure seorang guru  sesuai bidang pendidikan Saya. Dengan harapan mampu membagi ilmu dan membawa perubahan tentang suatu sekolah yang benar – benar membutuhkan akan dapat memberi kepuasan dalam bayangan Saya secara pribadi.

Tak menunggu berapa lama, Saya mendapatkan sebuah informasi tentang sekolahan yang kemudian menjadi tombak awal Saya melancong ketanah Borneo. Luar biasa !! Tidak bisa Saya bayangkan dapat sampai ke kota atau Provinsi yang selama ini hanya Saya lihat di televisi atau majalah saja. Dengan bermodalkan sebuah alamat sekolah yang tertera di secarik kertas, Saya pergi dan mencoba menengok daerah selain tempat Saya lahir dan menuntut ilmu.

LUAR BIASA…!!

Itulah hal pertama yang Saya temukan dalam diri Saya. Ya.. Saya merasa takjub dengan kenekatan Saya sendiri. Bagaimana tidak?. Saya yang selama hidup Saya jauh dari perairan kini harus tinggal di pingiran sungai yang menjulur panjang mengitari dan membelah pulau Borneo. Tidak ada fasilitas yang dulu Saya dapat di pulau Jawa maupun Sumatra. Yang ada hanya suatu kemandrian yang kemudian membawa pada sebuah keraguan.

Jangan membayangkan sekolah yang akan Saya temukan adalah sekolah elite dan mewah dengan fasilitas lengkap dan semua serba canggih. Tidak sama sekali !!

Semua tidak Saya dapatkan. Tetapi yang dapat Saya temukan adalah sebuah keminiman dalam segala keminiman. Lelah memang lelah melihat apa yang selama ini dihayalkan tidak sesuai, bahkan jauh dari hayalan Saya. Tetapi semua sudah diawali dengan niatan, bahwa disini Saya harus menguatkan hati untuk membagi ilmu. Seperti yang Saya inginkan.

Hal yang lebih membuat Saya syock, ketika Saya harus masuk sekolah dan menjumpai segala sesuatu antara kedisiplinan daerah dengan kedisiplinan intelektual. Untuk menjawab keingintahuan Saya tentang sekolah tersebut, serta tugas yang akan Saya emban nantinya. Kemudian  Saya menanyakan pada pihak sekolah mengenai segala sesuatunya yang berhubungan dengan kinerja Saya nantinya. Tidak lama kemudian, Saya sudah di beri satu bendel kertas yang kemudin Saya tau itu adalah peraturan atau sejenis SOP sekolah tersebut. Hati Saya mulai ragu, kemudian Saya tanyakan langsung mengenai kurikulum dan silabus serta RPP. Dan Saya mendapat jawaban,

“ Semuanya tidak perlu Bu, yang penting mengajar di kelas saja”.

Kemudian Saya tanya lagi “ Bagaimana Saya mengajarnya? bukanya harus mengikuti Silabus yang ada sesuai kurikulum KTSP Pak? patokannya berdasarkan apa mengajarnya?”.

Bapak tersebut kemudian menjawab “ Sesuai dan urutkan saja Bu, dengan buku pegangan dan LKS yang sudah dibagikan oleh sekolah, Bu“. Semua membuat Saya terbengong dan tidak tau harus berbuat apa.

Saya mencoba berfikir keras bagaimana bisa sekolah dapat berjalan baik apabila administrasi kelengkapan sekolah tidak di buat sama sekali. Lantas dimanakah pengawasan pemerintah tentang pendidikan selama ini terutama di daerah yang jauh dari kata memadai. Pelayanan seperti apa yang bisa sekolah dan pemerintah berikan kepada pelanggan dalam hal ini orang tua untuk memberi pendidikan kepada anak-anak mereka. Di saat kesadaran orang tua tumbuh dalam menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi anak – anaknya, akan tetapi tidak ada dukungan memadai akan pelayanan bagi pendidikan itu sendiri. Semua tidak akan memadai jika ini terus terjadi dan sekolah – sekolah pedalaman terus terkikis oleh budaya yang setengah – setengah sehingga tidak akan membawa perubahan yang signifikan. Apa yang bisa Saya lakukan sebagai guru muda dan belum memiliki pengalaman banyak tentang perubahan pendidikan ? bisakah Saya guru muda disini memberi perubahan yang bisa membawa mereka pada sebuah perubahan nyata ??

Belum cukup Saya memikirkan perubahan apa yang bisa Saya berikan untuk sekolah ini. Saya harus menyimpan ide Saya dahulu, yang rasanya sudah mau meledak untuk bertindak  merubah sekolah tempat Saya mengabdi nantinya ini. Bermula dari pandangan Saya tentang kepala sekolah Saya, Saya berfikir akan sangat sulit dan sempat membuat Saya mengurungkan niat Saya untuk memberi perubahan yang baik tentunya. Seorang pemimpin memang harus memiliki wibawa. Dan itulah yang kemudian di bangun oleh kepala sekolah kami. Beliau Bapak kepala sekolah yang menurut Saya sangat otoriter. Bahkan dengan tegas di sela – sela rapat bulanan bagi para guru, Beliau memberikan perintah yang harus kami laksanakan. Kebetulan sekolah ini adalah salah satu sekolah yayasan yang di peruntukkan untuk umum dan pemilik sekolah ini adalah kepala sekolah tersebut sendiri. Bapak kepala sekolah menginginkan para guru menjalankan perintahnya, mengenai masa pengenalan sekolah bagi siswa baru atau yang sering kita sebut dengan orientasi. Beliau juga menuliskan secara langsung hal – hal yang harus di jalankan oleh para siswa baru yang di orientasi. Tentu saja semua yang di sampaikan membuat Saya menggelengkan kepala. Saya menyadari ini sebuah lembaga pendidikan dan bukan pengasahan fisik. Akan tetapi mengapa yang terjadi di lapangan justru berbeda. Dengan sopan Saya katakan itu pada Beliau. Beliau pun menjawab “ Untuk membangun kedisiplinan siswa harus dengan seperti ini, dan inilah keunggulan sekolah ini daripada sekolah lain tentunya. Dan disini Saya sebagai pemimpin berhak menentukan seperti apa dan bagaimana baiknya”. Menurut Saya masa orientasi bagi siswa baru yang diterapkan di sekolah ini sangat tidak masuk akal bahkan jauh dari kata mendidik. Semua dijalankan hanya demi alasan kedisiplinan. Akan tetapi, hal ini amat sangat jauh dari kata  mendidik. Seperti yang pernah kita dengar dahulu tentang sebuah lembaga pendidikan yang menggembleng siswanya dengan fisik dan menimbulkan korban hanya demi sebuah kedisiplinan mempertahankan mutu. Meskipun di sekolah ini masa orientasinya tidak separah itu, akan tetapi bukan dengan memperlakukan siswanya dengan gemblengan fisik mampu membuat mutu sekolah tersebut menjadi baik. Apakah mengedepankan hukuman fisik adalah salah satu peningkatan mutu pendidikan ? Mutu pendidikan seperti apakah yang bisa menjadi lebih baik apabila dengan hukuman fisik dan bukan dengan peningkatan pelayanan pendidikan itu sendiri ? Apakah mutu suatu pendidikan itu dapat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah atau karena budaya pendidikan di sekolah tersebut yang sudah membudidaya?

Sangat miris dan tidak tega, Saya seorang guru perempuan harus melihat anak – anak didik Saya menebus kesalahan mereka dengan menghukum fisik dengan alasan membuat mereka jera dan tidak akan mengulanginya. Semua Saya rasa salah, Saya akan mencoba membuat perubahan sendiri di sekolah ini meskipun taruhannya adalah Saya dikeluarkan. Tidak masalah menurut Saya, asalkan semua menjadi lebih baik. Saya yakin akan ada jalan kebaikan jika niat yang kita ucapkan juga baik. Kasus yang akan sedikit Saya ungkap dalam tulisan Saya ini, mungkin pernah dan masih sering terjadi di sekolah – sekolah lain yang menerapkan disiplin seperti ini demi hakekat sebuah mutu semata.