SENIOR TAK LAGI SUPERIOR

Oleh: Kusmarmi

            Dalam dunia kerja, baik edukatif maupun nonedukatif kita sering dihadapkan pada suatu permasalahan. Permasalahan itu bisa datang dari faktor internal ataupun eksternal. Salah satu masalah  yang berasal dari faktor internal adalah menurunnya kinerja dan kurangnya disiplin. Faktor eksternalnya dapat berasal dari lingkungan yaitu  rekan kerja. Rekan kerja ini dapat menjadi musuh secara terbuka maupun menjadi musuh dalam selimut. Terkadang ada yang berlaku arogan dengan menyepelekan prestasi kita.

Musuh dalam selimut akan menunggu kesempatan untuk membeberkan kejelekan, kegagalan, ataupun kesalahan yang kita lakukan. Musuh tipe seperti ini meruBuan musuh yang paling berbahaya. Ada dua cara dasar berhadapan dengan rekan sekerja yang iri hati. Simaklah kisah seorang guru muda yang mengalami permasalahan di sebuah sekolah, semoga bermanfaat.

 

Senioritas, satu kata banyak makna. Ada yang menyikapi secara bijaksana, kurang bijak, bahkan cenderung arogan. Dalam dunia kerja ada yang merasa menjadi senior, sehingga kehadiran junior dianggap satu penghalang, ini salah satu ciri arogansi senior, jika yang dirinya merasa senior itu memiliki sifat arif dan bijak, maka kehadiran junior dijadikan sahabat.

            Larasati, guru baru di SMA Negeri masih muda dan energik. Saat menghadap kepala sekolah untuk unjuk muka dan “ngaturke” nota tugas, sang kepala sekolah tentu saja melakukan wawancara seputar pengalamannya. Dari hasil wawancara itu diketahui Larasati memiliki banyak pengalaman berorganisasi dalam forum ilmiah dan sosial kemasyarakatan. Kepala sekolah kemudian memberikan rekomendasi pada Larasati untuk mengampu peserta didik kelas X sebanyak lima kelas dan sebagai pembimbing KIR sekolah.

Ketika rapat pembagian tugas  semua guru mendaptkan SK Pembagian Tugas Pokok dan Tugas Tambahan. Semua guru mencermati SK tersebut, ada satu guru senior, kebetulan satu rumpun mata pelajaran dengan Larasati. Begitu mencermati SK lembar demi lembar wajahnya langsung cemberut, bahkan kelihatan sangat kesal dengan Larasati. Dalam hatinya ngomel “Emang Larasati siapa, punya kelebihan apa, begitu percayanya kepala sekolah padanya, liat aja nanti.”

Setelah acara inti selesai Larasati diminta memperkenalkan diri di hadapan Bapak, Ibu guru dan karyawan.  Layaknya dalam sebuah perkenalan, tentu saja ada yang menanyakan latar belakang dan pengalaman kerjanya. Salah satu guru yang merasa satu rumpun dengan Larasati dan merasa paling super dan senior menanyakan tempat Larasati mengajar sebelumnya. Secara arogan sang senior itupun berkomentar, “Ah, ternyata dari sebuah sekolah yang tak berkualitas dan levelnya pun SMP, apa tidak bikin prestasi SMA ini menurun nantinya! Ini lagi belum tau kualitasnya sudah mendapat banyak jam!”. Semua orang dalam ruangan rapat itu mencari asal suara. Maklum. Itulah yang ada di benak Bapak, Ibu guru dan karyawan begitu melihat siapa yang berbicara. Sang guru satu ini memang merasa paling pintar, karena sudah mengantongi beberapa lembar serifikat pelatihan tingkat nasional. Sedangkan Larasati hanya guru baru. Terpesona dengan kalimat yang asing di telinganya. Larasati hanya membatin “Masih ada ya guru berkomentar di ruang rapat secara arogan, bagaimana dengan perilaku siswanya kalau gurunya berperilaku seperti itu.”

Ternyata setelah rapat usai sang guru super itu masih merasa belum puas dengan kalimat pedas yang dilontarkan kepada Larasati, dia pun mencari Larasati. Ternyata Larasati ada di perpustakaan. “Bu, saya ingin bicara, Anda hanya guru SMP, ini sekolah andalan sekabupaten, bahkan peringkat tiga seprovinsi. Anak SMA berbeda dengan SMP, cara mengajarnya juga berbeda, awas kalau sampai prestasi sekolah ini menurun, saya tak segan-segan melapor ke dinas. Satu lagi saya akan minta kepada kepala sekolah untuk mengurangi jam Anda. Enak saja bau kencur sudah mengajar lima kelas!”. Kepala perpustakaan hanya geleng-geleng kepala, beberapa siswa yang sedang membaca buku ketakutan. Mereka tersihir menunduk menekuri buku tanpa membaca, karena mendengar kalimat yang sangat pedas dari seorang guru, yang amat tidak pantas, apalagi kalimat ini ditujukan untuk teman sesama guru. Larasati diam, tidak menunjukkan ekspresi marah, walau sebenarnya hatinya menjerit ingin menangis sekencang-kencangnya, dia tahan semua emosi dan nafsunya untuk mencabik-cabik mulut sang senior. Larasati ingat nasehat ibunya, “kesombongan jangan dilawan dengan kesombongan”. Hanya satu kalimat yang Larasati ungkapankan kepada sang senior. “Untuk itu, saya mohon bimbingan Ibu yang sudah senior dan berpengalaman mengajar di SMA Andalan ini.” Penuh kemenangan sang senior pun pergi. Larasati tak beranjak pergi dari ruang perpustakaan. Hatinya galau. Pikiran baik dan buruk berkelebat memenuhi otaknya. Hanya ada satu kalimat dalam hati Larasati “Aku tak boleh menyerah dan aku bisa mengalahkan prestasi sang senior”.

Pulang dari sekolah Larasati menuliskan kalimat sakti ke dalam beberapa lembar kertas warna-warni. Kamar Larasati pun dipenuhi kalimat sakti itu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tiga  trik yang Larasati terapkan dalam proses pembelajaran.

  1. Disetiap awal pembelajaran selalu mengajak siswanya untuk meneriakkan  kalimat motivasi “Aku bisa karena aku luar biasa”
  2. Menggunakan kata sapaan mas dan mbak untuk memanggil siswanya.
  3. Menggunakan kata ungkapan sayang untuk menanggapi setiap pertanyaan yang diajukan oleh siswanya,
  4. dan mengeluarkan intermezo atau lelucon jika melihat siswanya sudah kelihatan tak bergairah belajar.

            Ternyata dengan keempat trik sederhana ini Larasati mampu menjalin komunikasi dengan sangat baik kepada siswanya. Al-hasil proses pembelajaran pun berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan beberapa kali Larasati mampu mengantarkan siswanya ke gerbang kejuaran dari tingkat kabupaten sampai nasional. Sang guru senior pun tak mampu membendung langkah Larasati yang semakin cepat dan melesat meraih predikat guru favorit siswa dalam satu tahun.

“LAWANLAH KESOMBONGAN  DENGAN KALIMAT DAN PERILAKU YANG SANTUN”