MENGENALKAN KEBAIKAN

Oleh:Kusmarmi

Rabu, jam 07.00 bel tanda pelajaran baru saja berdetang tiga kali. Semua siswa  di SD IT Samawi memasuki ruang kelas masing-masing. Suasana halaman sekolah yang tadinya gaduh menjadi sunyi. Akan tetapi  di ruang kelas V terjadi kegaduhan.Mendengar kegaduhan tersebut, Bu Muslimah salah satu guru PAI mendatangi kelas tersebut, beliau bertanya mengapa sepagi ini siswa-siswa sudah gaduh. Atif salah satu siswa kelas V menjawab bahwa guru matematika belum datang. Kemudian Bu Muslimah mengajak siswa-siswa untuk berdoa dan tadarus sambil menunggu gurunya datang. Ternyata hampir tiga puluh menit guru yang ditunggu belum datang juga.

Selesai tadarus Bu Muslimah bertanya kepada para siswa.“Sebenarnya apa yang terjadi dikelas ini?” Atifsiswa yang paling besar menjawab, “Bu,  tadi kami bermain di dalam kelas.   Anak putri bermain gatheng dan anak putra bermain bola kertas, habis Bu Guru tidak datang-datang sih.” Atif menyudahi kalimat pembelaan.   “Iya Bu, sebenarnya saya sudah melarang teman-teman untuk bermain di kelas, tapi mereka semua ngeyel Bu, saya malah dikatain tidak solider, sok pinter, gitu Bu.” Kata Amir penuh semangat. Mendengar jawaban Atif dan Amir, kemudian Bu Muslimah memberi nasihat.“Anak-anak harus paham bahwa ruang kelas dipergunakan untuk belajar, bukan tempat bermain.Supaya kalian dapat  menjadi anak yang pandai, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.Karena kepandaian itu tidak akan datang begitu saja, tetapi harus dicari atau diusahakan dengan cara banyak membaca buku-buku pengetahuan. Jika bapak atau ibu guru belum datang kalian bisa membaca buku di perpustakaan. Waktu yang kita miliki harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, jangan sampai menyesal dikemudian hari. Salah satu siswa yang cerdas di kelas itu bertanya, “Bu Guru apakah menyia-nyiakan waktu itu berdosa?” Bu Muslimah takjub dengan pertanyaan Lia. Sebagai guru yang baik Bu Muslimah tidak segera menjawab, melainkan melontarkan pertanyaan tersebut kepada para siswanya. “Bagaimana anak-anak, apa ada yang dapat menjawab pertanyaan Lia?” suasana kelas menjadi gaduh, anak-anak saling berbisik dan kasak-kusuk. Tidak ada yang berani menjawab secara terang-terangan. Kelihatan mereka takut salah menjawab. Bu Muslimah memberi motivasi, “Siapa yang menjawab pertanyaan Lia akan mendapat hadiah.” “Hadiahnya apa Bu Guru?” tanya Atif antusias. Sedangkan siswa lainnya masih tetap kasak-kusuk. “Hadiahnya bonus nilai pelajaran PAI.” Kata Bu Muslimah. “Wuuuuuu, Bu Muslimah pelit, masak hadiahnya nilai sih, buku cerita atau makanan Bu.” Jawab Anto siswa yang paling vokal di kelas itu. “Ya, kalau tidak mau, ya tak apalah, kan Anto sudah puas nilai PAI-nya tujuh.” Jawab Bu Muslimah diplomatis. Sedangkan Anto hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Bu Muslimah. Anto merasa malu. Kemudian berusaha membela diri. “Oke, Bu Guru saya akan jawab pertanyaan Lia, menurut saya tidak berdosa Bu Guru. Kita kan tidak mencuri, atau menipu orang jadi kalau hanya membuang-buang waktu tidak dosa.” Dengan PD-nya  Anto menyampaikan argumentasinya. Bu Muslimah belum puas atas jawaban Anto, kemudian melemparkan pertanyaan lagi pada siswa yang lainnya. “Bagaimana anak-anak dengan jawaban Anto tadi, benar atau salah?” Anisa siswa yang pendiam, tetapi sangat pandai dalam pendidikan agama, menjawab dengan santun. “Bu Guru, saya pernah mendengarkan pengajian di pondok pesantren, Pak Kyai mengatakan bahwa manusia yang tidak dapat memanfaatkan waktu akan merugi, jadi menurut saya jawaban Anto  kurang tepat untuk menjawab pertanyaan Lia, Bu. Kalau untuk perbuatan mencuri dan menipu memang dosa Bu, kan merugikan orang lain.” “Luar biasa kau Anisa, sesuai janji Ibu, Anisa mendapat tambahan nilai untuk mata pelajaran Aqidah, nah anak-anak apa ada yang ingin bertanya lagi? ”Bu Muslimah ingin memancing lagi pendapat anak-anak, agar suasana kelas menjadi hidup dan anak-anak terbiasa untuk berpendapat. “Bu Guru saya belum paham maksud Anisa tadi, mengapa kita menjadi rugi kalau tidak memanfaatkan waktu dengan baik?” kata Irwan penuh rasa ingin tahu. Bu Muslimah kembali melontarkan pertanyaan kepada para siswa. Tetapi para siswa hanya diam saja, saling pandang dan geleng-geleng kepala tanda belum mampu menemukan jawaban. Bu Muslimah memandangi siswanya satu persatu. Semua mata tamBu termanggu, menunggu.

Lama suasana dalam ruang kelas V sunyi, hanya terdengar desah nafas para siswa yang menunggu jawaban dari Bu Muslimah. Sengaja Bu Muslimah membiarkan para siswanya tenggelam dalam angan-angan mencari jawaban. “Bagaimana anak-anak, ada yang sudah dapat menemukan jawabannya?” tanya Bu Muslimah membuyarkan lamunan anak-anak. Semua masih terdiam. “Baiklah, kalau begitu tolong Anisa baca terjemahan dari surat Al-Asr ayat 1-3.”  Perintah Bu Muslimah kepada Anisa. Anisa segera membuka Al-Quran dan mencari surat Al-Asr. Dengan suara yang merdu Anisa membaca terjemahannya. Para siswa mendengarkan  dengan seksama.

  1. Demi masa
  2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian
  3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran

Begitu Anisa selesai membaca terjemahan surat Al-Asr, Bu Muslimah kembali menatap para siswanya satu persatu, beberapa pasang mata mengisyaratkan kebingungan. Akhirnnya Bu Muslimah menyampaikan satu cerita sebagai contoh sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Irwan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa kelas V.

 “Al-kisah, ada seorang anak yang bernama Badu. Dia berusia lima belas tahun. Badu seharusnya sudah duduk di bangku SMP kelas III. Bahkan bisa jadi kelas X SMA. Akan tetapi waktu di SD Badu tidak pernah mau belajar dengan serius, kerjaannya sepulang sekolah hanya bermain dan berantem. Al hasil Badu sering tinggal kelas. Bahkan sekarang Badu baru duduk di bangku SD kelas VI. Ketika dinasihati oleh orang tuanya Badu selalu membantah. Orang tuanya sampai kewalahan dan ibunya  sampai jatuh sakit, hingga pada akhirnya ibu Badu meninggal dunia. Dari peristiwa itu Badu baru tersadar jika dia sudah memboroskan waktunya untuk hal-hal yang tidak penting dan merugikan.” Bu Muslimah mengakhiri ceritanya. Tiba-tiba Adit mengajukan pertanyaan. “Wah, kalau begitu Badu berdosa donk Bu, kan sudah membuat ibunya meninggal.” Ada satu siswa yang nyeluthuk  “Memangnya kamu tahu dosa itu seperti apa?”  Suasana kelas menghangat kembali. “Dosa itu  hitam Bu, saya pernah mendengar orang tua saya berkata bahwa dosa itu hitam Bu. Kalau pahala itu putih.” Kata Dian berapi-api. “Kayak warna saja Yan, emangnya kamu pernah melihat dosa dan pahala ya, sok pinter kamu!” Atif menghakimi omongan Dian. Untuk meredam suasana yang mulai memanas Bu Muslimah menyuruh Ani untuk meminjam tiga gelas ke dapur sekolah. Sementara Bu Muslimah ke ruang guru untuk mengambil minuman. Ada tiga macam minuman yang dibawa Bu Muslimah ke dalam kelas, ada kopi hitam, teh, dan air putih. Ani memberikan tiga gelas itu kepada Bu Muslimah. Kemudian Bu Muslimah memerintahkan semua siswanya yang berjumlah lima belas orang untuk membentuk lingkaran. Sedangkan Bu Muslimah duduk di tengah-tengah mereka. Bu Muslimah meminta tiga anak untuk membawa enam gelas yang berisi minuman kopi hitam, teh, dan air putih.  Kemudian Bu Muslimah memerintahkan kepada tiga  anak itu untuk berdiri di belakang meja. Bu Muslimah memberikan penjelasan

  1. Anak-anak perhatikan dan hitung berapa waktu yang dibutuhkan Anton untuk melakukan uji coba ini, Anton akan menuangi  minuman kopi yang dipegangnya itu sedikit demi sedikit dengan air putih, kalian perhatikan apa yang akan terjadi dengan minuman kopi yang tadi berwarna hitam itu.
  2. Nah sekarang perhatikan lagi dan hitung waktu yang dibutuh oleh Atif untuk melakukan uji coba yang kedua. Atif,  tuangi minuman teh yang kamu pegang itu dengan air putih secara perlahan-lahan.
  3. Sekarang Dian, bawa air putih itu dan taungi secara perlahan-lahan dengan air kopi, anak-anak perhatikan perubahan yang terjadi dengan air putih itu, catat juga waktu yang dibutuhkan agar air putih itu berubah warna.

Bu Muslimah memperhatikan dengan seksama semua siswanya. Beliau  merenung merangkai kata untuk menjelaskan cara menanamkan perubahan sikap dan menanamkan kebaikan dalam diri siswanya. Harapan Bu Muslimah dengan game tadi siswa-siswinya dapat menemukan kemudahan dalam menerima materi pembelajaran tentang akhlak dan budi pekerti. Beberapa saat kemudian,  “Bu Guru, semua uji coba sudah selesai, apa yang harus kami lakukan, Bu? “ tanya Atif. “Baiklah anak-anak, Ibu akan jelaskan sekarang tetaplah duduk melingkar saja ya.”

Kopi hitam itu ibarat kejelekan, keburukan perbuatan kita yang dapat mendatangkan dosa, sedangkan  air putih itu ibarat perbuatan baik kita. Bu Muslimah berhenti sebentar, memberikan kesempatan para siswa untuk berpikir. Selang beberapa menit kemudian ada anak yang mengemukakan pendapatnya. “Bu Guru, jadi perbuatan jahat/kejelekan dapat dihapus oleh perbuatan baik kan.” Seratus untuk Sandi,” Bu Muslimah memberi pujian. “Benar kata Sandi tadi, air putih itu ibarat kebaikan, jadi sebenarnya perbuatan kita yang buruk dapat dihapus atau dibersihkan dengan perbuatan baik, karena Allah swt Maha Pengampun dan Penyayang. Sedangkan perbuatan baik kita akan hilang atau tertutup oleh perbuatan jelek kita.” “Berarti gampang ya Bu mengilangkan dosa.” Tiba-tiba Andi nyeluthuk mengeluarkan pertanyaan. Bu Muslimah tersenyum.” Tidak begitu nDi, perbuatan baik itu harus diupayakan secara terus-menerus tiada henti. Bagaimana anak-anak, sudah paham semua.” Tanya Bu Muslimah. “Sudah Bu Guru.” “Baiklah anak-anak mulai sekarang kita harus rajin beribadah, menggunakan waktu sebaik-baiknya, dan menghormati orang tua. Pelajaran hari ini BaBu akhiri dulu, selamat belajar dan sampai jumpa minggu depan ya.” Bu Muslimah mengakhiri pertemuan pagi ini dengan hati lapang  karena dapat mengenalkan pelajaran kebaikan dengan mudah kepada anak-anak.