MISS KOMUNIKASI AKIBATKAN DISHARMONISASI

Oleh: Triana Nuriastuti

Tahun ajaran baru telah tiba, dengan wajah penuh keceriaan siswa kelas IA beranjak memasukikelas dan saling sapa dengan teman baru. Melihat keakraban mereka rasanya tidak mungkin akan terjadi suatu masalah dalam kelas itu.

Pada awalnya kegiatan belajar mengajar berjalan normaldengan didampingi guru kelas IA yang bernama ibu Noor Munirotul Jannah, setelah beberapa bulan berjalan ada salah satu orang tua murid memberitahukan kepada Bu Noor bahwa anaknya yang bernama Akbar dijahili oleh teman sekelasnya yang bernama Rozik. Berdasarkan pengamatan Bu Noor, Rozik memang jahil, Ia suka mengambil pensil, dan penghapus milik teman-temannya, ia terkenal agak ringan tangan. Untuk menanggapi hal tersebut Bu Noor menasehati Rozik.

Semester I telah berlalu, perjalanan di Semester I ternyata banyak mendapatkan keluhan dari murid kelas IA. Lagi-lagi kerena ulah Rozik yang jahil. Karena dampak kenaklan Rozik hampir mengenai seluruh murid kelas IA, maka dipaggilah kedua orang tua Rozik. Berkatkerjasama keduaorangtua Rozik,kenakalannya sudah agak  mereda, dan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal.

Semester dua berjalan, tiba-tiba dengan menangis Olis pulang kerumah dan bercerita kepada ibunnya,

 “Bu, aku dinakali sama Rozik,tanganku dicocok-cocokpakai pensil sampai lecet, sakit”.

Bu Titikselaku orangtuaOlis segera saja datang kesekolah untuk menasehati Rozik. Sebelum Bu Titik datang ternyata Bu Noor sudah mendamaikkan dan Rozik bilang itu tidak disengaja.

Mengijak semester dua pertengahan terjadi peristiwa yang sangat menghebohkan, karena peristiwa ini tidak diketahui oleh pihak sekolah. Sebagian orangtua kelas IA yang menjeput anaknya berkumpul di masjid dan bermusyawarah.

“Ibu-ibu mumpung kita sedang berkumpul bagaimana kalau kita buat kesepakatan yang intinya meminta kepada sekolah agar Rozik dipindahkan dari kelas A ke kelas B?”

seru Bu Rini.

 “Saya setuju bu, karena salah satu murid kelas IA akan ada yang pindah sekolah, itu lho … anaknya Bu Endar, si Akbar, karena sering sekali dinakali Rozik”.

Bu Tatik menanggapi.

Bu Any menambahkan, “kan kasihan jika Akbar harus pindah cuma gara-gara kenakalan Rozik, bagaimana dengan usulan Bu Rini tadi?”

Semua ibu-ibu forum kelas yang berkumpul menyatakan setuju dengan hal itu.

Bu Any bertugas membuat surat pernyataan dan mengundang pengurus forum kelas lainya untuk  ikut menandatangani surat tersebut. Alhasil didapatkan 16 tandatangan dari wali murid yang dikoordinir oleh Bu Any. Surat itu kemudian diberikan kepada Ibu Triana selaku Kepala Sekolah.Semua pengurus forum kelas tampak lega.

Diluar dugaan muncul masalah baru, ada satu anak bernama Hafis yang ikut mendengarkan jalannyamusyawarah forum kelas. Ternyata pagi harinya Hafis menceritakkannya kepada Rozik  dengan cerita yang berbeda, maklum saja karena masih anak-anak.

“Zik, kamu mau dikeluarkan dari sekolah, karena kamu nakal dan jahil, sudah ada surat yang ada tandatangannya diberikkan kepada Bu Triana, makannya jadi anak jangan nakal”. Seru Hafis kepada Rozik.

Sepulang sekolah langsung saja Rozik menceritakkan hal itu kepada ibunya,bahwa ia akan dikeluarkan dari Sekolah. Sepontan saja Bu Metty dan Pak Sugeng selaku orang  tua Rozik datang ke sekolah menanyakan hal tersebut.

“Maaf Bu, apa benar ada surat yang isinya Rozik akan dikeluarkan dari sekolah?”

TannyaPak Sugeng kepada Bu Triana. Bu Triana terkejut, padahal surat yang diterima dari forum kelas belum ditanggapi, malahan masih rapi tertata di sudut meja kerja. Bu Trianapun mencoba untuk menjelaskan,

 “kalau surat ada pak tetapiisinnya bukan mengeluarkkan siswa. Tidak ada siswa yang akan kami keluarkan pak!”

Walaupun Bu Tiana sudah menjelaskannya tetap saja Pak Sugeng masih terus menanyakan tentang surat itu.Pihak sekolahpun mencari informasi bagaimana awal mula kejadiannya sampai muncul masalah tersebut, akhirnya ditemukkanlah penyebabnya.

Hari berikutnya sekolah mengundang kembali orang tua Rozik dan forum kelas,setelah berembug bersama ternyata Pak Sugeng belum puas. Ia meminta dipertemukan denganBu Endar ibunnya Akbar, dan semua orangtua murid yang terlibat dalam penandatangannan surat itu.

Selang satu minggu,diadakkan pertemuan kedua yang dihadiri oleh 16 orangtua murid yang bertandatangan, Pak Sugeng dan Bu Endar.Dari pihak sekolah diwakili oleh BuTriana selaku Kepala Sekolah dan Bu Noor selaku wali kelas IA.

“Suatu masalah pasti akan ada jalan keluarnya, marilah kita komunikasikkan dengan hati yang lapang dan kepala dingin agar permasalahan ini cepat terselesaikkan”. Ujar BuTriana membuka pertemuan itu.

“ya, bu, saya disini meminta penjelasan bagaimana awal mula terjadi surat pernyataan yang ditandatangani 16 wali murid itu?”

Tanya Pak Sugeng dengan penuh harapan pencerahan. Langsung saja Bu Any selaku perwakilan dari pihak pembuat surat menceritakkan kronologinya

 “Pada awalnya terjadi secara sepontan pak, yang intinya jangan sampai ada siswa kelas IA yang keluar dari sekolah karena kenakalan Rozik, maka untuk mencari solusoinya kami sepakat kalau Rozik dipindahkankekelas B. Kami selaku orang tua yang ikut serta dalam penandatanganan surat ini meminta maaf kepada Pak Sugeng selaku orangtua Rozik.Kami tidak menduga kalau hal ini sampai menimbulkan permasalahan seperti ini”.

Dari pihak Bu Endarpun menyampaikan kegelisahannya

 ”Akbar sering dimintai pensil, penghapus dan minum, sampai pada suatu hari Rozikmeminta minum kepada Akbar, tetapi tidak diperbolehkan.Akhirnya Rozik menampar Akbar , Rozikpun sering menjegal Akbar hingga jatuh”.

Setelah mendengarkan penjelasan, Pak Sugeng meminta maaf karena Rozik sering menjahili teman-temannya. Iapun meminta agar lain kali tidak boleh membuat surat seperti itu, tetapi langsung dikomunikasikan baik-baik dengan pihak sekolah dan pihaak orang tua Rozik,agar Rozik tidak mendengar kata-kata dikeluarkan.