Hasil kebun jadi uang saku sendiri

Oleh: Suwartini

Seorang guru bernama Maharani suatu hari berkata pada muridnya, “anak-anak apakah kalian diberi uang saku ayah atau bunda? Berapa banyak? Ada yanag bilang seribu, dua ribu, lima ratus bahkan ada yang bilang tidak diberi uang saku  bu guru berkata “Anak-anak siapa yang ingin suatu membeli kesukaan kamu dengan uang kamu sendiri tanpa pemberian dari orang lain, jawab anak-anak saya bu guru, sambil bersahut-sahutan ada yang bilang ingin bu guruuuuu!. Baik jawab bu Maharani kalau anak-anak ingin uang saku sendiri kita harus cari uang itu. Anak-anak pada nyeletuk gimana bu? Kita khan tidak kerja, ambil punya orang dosa, trus dari mana bu guru? Nah kalau begitu bagaimana kita mencari uang, ibu punya usul kebun di sebelah timur sekarang sudah tidak ada tanaman, anak- anak mau tidak menanami kebun sekolah kita mauuuu bu guru jawab murid-murid dengan serempak. “Nah besuk anak-anak bawa dari rumah tanaman yang ayah bunda punya misalnya lombok, kangkung, terong, bayam tomat, dll,” salah satu anak menjawab “lha aku tidak punya apa-apa, karena ayah bundaku tidak punya sawah”. Kalau begitu bu guru bagi saja kelompoknya setuju ? nanti tugas kelompok untuk bersama-sama menanam dan memelihara sampai panen. Yang tidak punya sawah membantu menanam, memupuk yang penting semua anggota kelompok bekerja semua.

Akhirnya anak-anak hari berikutnya sudah membawa alat untuk membuat tanaman yang dulu sudah ditanami sekarang disiapkan untuk ditanam lagi. Hari itu anak-anak membawa alat dan pupuk kandang dulu baru keesokan harinya membawa tanaman masing-masing, sesuai dengan kelompoknya dan bu guru sudah membagi kelompok satu dengan lainnya tanaman yang dibawa berbeda, dan ada juga kelompok yang membawa tanaman sama. Tampak dari wajah mereka berseri-seri senang sekali mereka akan berkebun sama dengan ayah dan bunda yang mereka lakukan di sawah. Anak-anak duduk-duduk menunggu jam pulang sekolah sambil bercerita “aku tadi malam tanya sama ayah, yah gimana menanam lombok itu? Nanti disekolah menanam lombok? Ayahku mengajari ya tanahnya di siapkan dulu dicangkul dan dicampur pupuk kandang, setelah itu baru ditanam. Setelah pelajaran hari itu berakhir anak-anak diajak ke kebun tentu saja tiap kelompok membawa alat masing-masing. Mereka senang sekali tampak dari raut mukanya walaupun siang panas matahari tidak terasa oleh mereka. Bu guru membagi kelompok dengan tempat yang berbeda-beda dan ditandai dengan tulisan yang dipasang pada bambu kecil dan ditanamdi tanah itu, sesuai kelompoknya. Ada yang menamai kelompoknya seperti tokoh wayang yang menjadi idola mereka seperti Gatotkaca, Arjuna, Werkudara yang putri mereka menamai dengan kesukaan mereka pada bunga ada yang Mawar, Dahlia, Melati. Setelah tanah dicangkuli kemudian dicampur dengan pupuk kandang yang sudah kering, maka disiram dengan sedikit air.

Ternyata sebelum dicangkuli anak-anak membersihkan tanahnya dari tanaman liar yang memenuhi tanah yang mau ditanami yang namanya suket, ada beberapa macam rumput ada yang namanya rumput Teki yang akarnya jauh ke dalam dan sulit untuk dicabut begitu saja tanpa bantuan alat cangkul misalnya. Tanaman itu tidak berguna karena tidak membuahkan hasil dan tumbuh dengan sendirinya dan mudah hidup dimana-mana dan dapat mengalahkan tumbuhan yang kita tanam karena menutupi dan tentu saja merebut makanan dari tanaman yang kita tanam sehingga tanaman kita akan sulit untuk tumbuh dan berkembang.

Setelah selesai membersihkan rumput-rumput tadi anak-anak mencangkul yang dibantu oleh guru dan mencampur tanah dengan pupuk kandang kering, kemudian disiram dengan air sedikit. Kebetulan kebun yang ditanam dengan saluran  air sehingga anak-anak dekat untuk mengambilnya. Bu guru berkata “ anak-anak karena kita sudah selesai mengerjakan tugas kita yang pertama yaitu mempersiapkan tanah yang akan kita tanami, maka anak-anak boleh pulang dan membersihkan kaki dan tangan kita terlebih dahulu dan dilanjutkan besuk siang dengan menanam tanaman jangan lupa tiap kelompok untuk membawa tanaman yang sudah kita bagi jenis tanaman perkelompok”.

             Keesokan harinya anak-anak datang ke sekolah sudah membawa tanaman sesuai kelompok nya masing-masing. Mereka sangat senang sekali menanti saatnya siang untuk bertanam. Setelah makan siang anak-anak segera menyiapkan diri di kebun ada juga yang berganti pakaian karena takut pakaian seragamnya akan kotor. Ibu guru berkata “ anak-anak pastikan yang kalian tanam itu betul-betul tertanam dengan akar yang dalam tertanam dengan tanah agar tidak mudah tumbang” ya bu jawab anak-anak. Setelah adzan Asar anak-anak sudah selesai menanam tanaman dan sebelum pulang anak-anak membersihkan pakaian dan bu guru berkata lagi “ anak-anak besuk pagi kalian bagi tugas piket per kelompok untuk menyiram tanamannya masing-masing tiap dua hari sekali, dan airnya jangan terlalu banyak tiap kelompok membawa ember kecil. Dan jangan lupa dilihat saat menyiram apakah ada rumput atau tidak kalau ada sekalian untuk dicabut biar tanaman kita cepat tumbuh.

Kemudian anak-anak juga menulis perkembangan dari tanaman  kita misalnya tinggi tanaman sudah sampai 50 centi, atau ada perkembangan lain sudah akan mulai berbuah, atau ada tanaman yang terkena hama misalnya daunnya dimakan ulat, sehingga kita bisa memberi obat pada tanaman yang terkena hama. Karena kalau terkena hama, maka bisa tanaman kita tidak bisa tumbuh dan menghasilkan buah bahkan bisa jadi mati. Jadi kegiatan apa anak-anak selalu mencatat perkembangan dari tanaman kita. Kalian bisa karena kalian sudah kelas 5, jadi ibu yakin kalian bisa melakukan itu dengan baik. Setelah beberapa bulan anak-anak sudah melihat perkembangan dari tanaman masing-masing ada yang sudah berbuah ada yang sudah besar, sehingga bisa segera dipetik. Misalnya tanaman bayam, kangkung, sawi, kol tidak menunggu buah kalau sudah besar bisa dipetik dan dijual.

Untuk kelompok Arjuna menanam bayam, kelompok Dahlia menanam kangkung juga kelompok Mawar menanam sawi maka setelah kurang lebih tiga bulan bisa memetik dan juga dijual ke warung dekat sekolah, kemudian uang hasil jual tanaman tadi ditabung dulu untuk membeli keperluan masing-masing di sekolah. Mereka sangat senang sekali mendapat uang dari hasil kerja mereka sendiri. Dari hasil kerja mereka anak-anak sekarang tidak lagi minta uang saku dan uang untuk membeli peralatan sekolah karena sudah memiliki uang sendiri. Setelah sudah satu tahun, maka tanah yang sudah ditanami tadi perlu dirombak dan diremajakan lagi dan diserahkan kepada kelas empat  bergantian untuk menanamnya. Demikian selanjutnya tiap tahun digilir dari kelas tiga, empat dan lima, yang sudah bisa diajak untuk mengerjakan.

Pemanfaatan kebun sekolah sebagai cara untuk mendidik anak supaya memahami tentang bagaimana memanfaatkan kebun sekolah dengan menghasilkan uang dan memahami bagaimana sulitnya mencari penghasilan sendiri, harus kerja keras sehingga dapat dimunculkan pendidikan karakter anak yang ulet, tekun, sabar, mandiri, tanggung jawab dll. Pendidikan karakter selanjutnya dapat diharapkan yakni setelah anak-anak dapat merasakan sulitnya mencari uang, maka anak dapat mengurangi kebiasaan yang tidak baik jika meminta uang pada orang tuanya dengan memaksa atau kalau tidak diberi atau uang saku kurang si anak terus ngambek tidak mau sekolah atau ogah-ogahan bersekolah, maka semenjak itu anak jadi mengubah perilaku yang baik tadi dengan tidak menuntut, seberapapun pemberian orang tua tetap diterima dengan ucapan terima kasih.

Hal ini sangat membantu orang tua dalam membentuk perilaku anak dirumah. Namun demikian pemanfaatan kebun sekolah biasanya belum dimaksimalkan oleh sekolah karena sekolah belum dapat memikirkan jauh, hal ini dapat menumbuhkan kebiasaan perilaku anak yang tadinya kurang baik menjadi perilaku anak yang bisa menjadi kebanggaan orang tua. Hal ini bisa juga menumbuhkan perilaku anak yang bisa dimunculkan yaitu membantu orang tua yang mempunyai pekerjaan di sawah atau di kebun, karena sudah mempunyai modal senang berkebun maka anak juga senang membantu orang tua di sawah atau di kebun, dan mengurangi waktu bermain bersama anak-anak lainnya.  

Nah mari kita belajar dari sebuah pengalaman tadi dapat kita memulai pemanfaatan kebun sekolah di sekolah masing-masing. Tinggal bagaimana seorang kepala sekolah menyampaikan ide tersebut kepada guru-guru. Karena belum tentu sebuah ide yang bagus dapat diterima oleh semua guru. Dapat juga berbagai alasan muncul misalnya gimana waktu bermainnya karena anak-anak seusia SD masih membutuhkan waktu bermain atau alasan lainnya.  Jika hal tersebut dapat disampaikan dengan tujuan yang sebenarnya pasti semua akan memahami dan dapat melaksanakan dengan senang dan penuh tangguung jawab tidak ada unsur keterpaksaaan.