PAKAILAH KACAMATA BENING

Oleh: Muhaimin

 Pagi masih belum beranjak, saya baru menyelesaikan beberapa raka’at dhuha, belum ada jam 8.00 pagi waktu itu. “assalamu’alaikum…” Ketika seorang anak tertunduk, dengan wajah agak “merah”, dan nampak lesu, tiba-tiba saja sudah berdiri di depan ruangan saya. Saya cukup kaget dibuatnya. Dengan penuh tanda tanya, saya persilahkan anak itu duduk, “duduklah mas, apa yang bisa Bapak bantu?”. Setelah duduk, anak itu mencoba menceritakan hal yang baru saja dialaminya di kelas.

“Maaf Pak….” Dia mengawali ceritanya, “tadi..pada jam pertama, saat  sedang pelajaran kimia. Situasi kelas di deretan bangku belakang agak gaduh. Beberapa anak saling berbisik sana sini bercerita tentang liga Inggris yang ditontonnya semalam. Sebagian saling melempar kertas, entah apa isinya. Sementara itu, pak guru masih asyik mencatat sesuatu di papan”. Tuturnya penuh dengan semangat.

“Pak, karena saya tidak jelas apa yang ditulis pak guru maka saya mencoba merapat ke bangku depan. Saya  berharap akan lebih jelas melihat tulisan sang guru di papan, sekaligus terhindar dari dari gangguan”suara-suara” teman-teman yang asyik ngobrol di belakang”. Anak itu mulai cemas.

“Hmmmm…akan tetapi Pak, hari ini “untung” belum di pihak saya. Pak Guru melihat saya sedang  “jalan-jalan” dan spontan menegur saya dengan “keras”. saya mencoba menjelaskan masalahnya, sambil menatap wajah sang guru. Akan tetapi bukan pengertian yang saya terima, justru umpatan yang menyakitkan, saya dianggap tidak tahu sopan-santun karena “memelototi” sang guru”. Nafasnya terengah-engah dan mendesah.

Anak itu melanjutkan ceritanya, “Setelah itu saya diusir keluar kelas. Sambil diberi peringatan, saya tak diijinkan masuk kelas sekiranya saya belum meminta maaf, dan orang tua saya datang ke sekolah “menghadap” guru itu dan guru BK di sekolah”.

Selesai mendengar cerita anak itu saya menarik nafas dalam-dalam. Karena “kedisiplinan” sekolah merupakan salah satu tanggungjawab yang diberikan kepada saya. Kemudian saya katakan kepada anak itu, “nak, sekarang kembalilah ke kelas, berikan surat ini kepada Bapak guru kimia itu” sambil saya berikan secarik kertas memo bertuliskan, “maaf Bapak, atas perkenan saya, mohon diijinkan anak ini masuk ke kelas, setelah mengajar saya ingin menemui Bapak di ruang saya, terima kasih”

Lama saya termenung mendengar cerita anak itu, sambil berpikir mencari saat yang tepat untuk mencoba berbicara dan mendengar bagaimana situasi sebenarnya menurut versi sang guru.

Setelah kesempatan sesi sharing dengan guru itu terlaksana, saya mengambil benang merah bahwa, guru tersebut dalam menyikapi masalah anak masih didasarkan ‘kacamata gelap’. Guru itu tidak dapat menerima alasan apapun dari anak yang justru menurut saya berusaha belajar dengan baik. Kejadiannya akan berbeda apabila guru tersebut lebih bijak dengan mendengarkan ‘saksi’ dari temannya sekelas, apakah benar sesuai dengan yang dituduhkannya.

Untuk itu, inilah pentingnya ‘berkacamata bening’ dalam melihat permasalahan apapun. Dalam agama dikenal dengan khusnudzdzan (berbaik sangka) dan sedapat mungkin menghindari su’udzdzan (berburuk sangka). Apabila kita telah menggunakan ‘kacamata bening’ maka persoalan yang kita hadapi akan terselesaikan secara jernih. Akan tetapi sebaliknya, apabila menggunakan ‘kacamata gelap’ maka yang terjadi menyelesaikan masalah dengan masalah.

Berkaitan dengan kisah di atas, mari kita simak kisah islami berikut ini.

 

Hari Ini, Akan Muncul Penghuni Surga!

 

Para sahabat sedang berkumpul bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba Rasul Saw berkata, “Sebentar lagi akan muncul di depan kalian seorang penghuni surga!”. Tak lama kemudian tampaklah seoran lelaki Anshar. Janggutnya basah dengan air wudhu. Ia mengepit sandal di tangan kirinya.

Keesokan harinya, Nabi berkata seperti itu, dan sekali lagi muncul orang yang sama. Begitulah peristiwa itu berulang hingga tiga kali. Pada kali ketiga, setelah Rasulullah Saww meninggalkan tempat, Abdullah bin Amr (salah seoarang sahabat) menyusul orang itu dan mengemukakan hasratnya untuk menginap di rumah orang tersebut selama tiga hari.

Selama tiga hari, Abdullah tinggal bersama orang itu. Ia tidak melihat orang itu bangun pada malam hari kecuali ketika membalikkan tubuhnya sembari zikir dan takbir. Ia bangun menjelang subuh. Singkat kata, tak ada yang istimewa dari amalan orang itu, yang membuatnya sebagai salah satu penghuni surga seperti sabda Nabi.

Akhirnya Abdullah pun berterus-terang. Ia menceritakan kisah sabda Nabi di atas sembari menanyakan amal apa yang telah dilakukannya sehingga Nabi bersabda demikian.

Orang itu berkata, “aku tidak lebih dari apa yang telah anda lihat. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan niat jelek, kebencian, atau dengki terhadap kebaikkan yang telah diberikan Allah kepada orang Islam yang lain.”

Mendengar hal itu, Abdullah berujar, “Hadza llati qad balaghta bika wa hiya ilati la uthiq.” Itulah yang menyebabkan anda sampai pada kedudukan anda. Tetapi, itu juga yang tidak mampu aku lakukan.”

Seperti Abdullah bin Amar, niscaya kita pun tak mampu melakukan hal yang sama dilakukan oleh sahabat Anshar yang menurut Nabi adalah penghuni surga.

Selama ini, saya, anda dan kita sangat disibukkan oleh ritual-ritual shaleh, namun di saat yang sama melupakan ritual sosial. Kita sibuk memperindah fisik dengan ragam ibadah lahir, tetapi lupa kepada mempercantik hati, menghiasnya dengan ikhlas, ketulusan, “tawadhu”, dan bersih dari kebencian serta iri hati terhadap sesama muslim.

Saya, anda dan kita -mungkin- rajin shalat di tengah malam buta dan berpuasa di siang harinya. Larut dalam alunan zikir yang panjang dan melelahkan. Tetapi di balik itu semua, sujud, kosongnya perut, dan basahnya bibir oleh kalimat “tasbih” tetap tak bisa menghapus kedengkian, iri hati dan kebencian terhadap sesama muslim.

Secara ritual shaleh, sahabat Anshar di atas termasuk biasa-biasa saja. Namun, secara sosial, ia termasuk luar biasa. Sebelum tetangganya meminta maaf atas perlakuan buruk terhadapnya, ia telah jauh memaafkannya. Sebelum hari berganti, fajar menjelang, ia telah tertidur lelap dengan tidak membawa kedengkian.

Kita boleh jadi selalu bangun tengah malam, tetapi sebelum tidur kita masih menyimpan kebencian kepada sesama muslim. Hanya karena orang Islam yang lain tidak sepaham dengan kita, kita tidak ingin melihat dia bersama kita. Tak jarang kita memendam kebencian yang sangat hanya karena madzhab tetangga yang berbeda dengan kita. Bahkan tak jarang kita tak bisa tidur karena melihat orang lain lebih maju dari kita.

Sungguh, hari ini kita merindukan kemunculan para penghuni surga. Dan mungkin penghuni surga itu bisa saya, anda atau bahkan kita.