FINDING THE BEST LEADER FOR OUR NATION

Tulisan ini merupakan interpretasi atas ayat-ayat terkait pertempuran Thalut melawan Jalut. Akhir pertempuran ini bukan Thalut yang menurunkan Jalut, tetapi Daud. Mengapa?

Perang generasi pertama. Perangan ini masih berupa pasukan melawan pasukan lain pada suatu wilayah tertentu sebagaimana digambarkan dalam perang-perang masa lalu pada film-film movie. Barangkali pada masa Thalut senjata yang digunakan masih sederhana seperti pedang, tombak, pelontar batu, panah, dan sejenisnya. Pada perang Thalut vs Jalut sangat terlihat  secara terang siapa musuh yang dihadapi secara terang benderang. Siapa kawan yang tidak memiliki komitmen dan jang memiliki komitmen. Kemenangan dalam pertempuran berarti ketundukan musuh pada semua ideologi yang dibawa oleh pemenang.

Pemimpin melihat ke depan. Ketika Thalut dan pasukannya keluar, Thalut berkata ”sesungguhnya…..”Pada situasi saat itu, Thalut sebagai pemimpin sudah dapat memperkirakan, memprediksi, antisipatif bahwa dalam peperangan nantinya akan ada cobaan yang akan dihadapi dan yang utama adalah kesenangan sementara yang melalaikan pada tujuan utama. Dalam kasus ini cobaannya adalah kehausan dan dihadapkan dengan sungai yang airnya menggiurkan.

Leader dan Follower. Cobaan pada kenikmatan akan menerpa siapa saja baik yang kuat keyakinan dan komitmen pada tujuan maupun yang lemah kimitmennya. Dalam cerita ini keduanya tetap disebut sebagai orang-orang yang memiliki keyakinan. Orang-orang yang kuat keyakinan akan menjadi pembawa perubahan yang ada di depan (leader). Orang yang akan memberikan contoh dan suri tauladan dalam perubahan dengan melakukan perubahan itu dengan penuh kesabaran. Dan jumlah leader ini akan selalu sedikit sesuai dengan kerucut. Kecil diatas dan besar dibawah. Dalam kasus ini Thalut berkata bahwa yang meminum air sungai bukan dari kelompokku dan yang menahan diri adalah kelompokku; kecuali yang minum seciduk tangan. Ini menunjukkan bahwa dalam mencapai tujuan, fasilitas dan logistic yang cukup menjadi suatu persyaratan. Tidak kurang dan tidak berlebih. Hanya orang-orang yang merasa cukup dan mampu menahan diri dari keinginan berlebih yang akan menjadi orang yang sabar. Ini pasukan yang akan membawa kemenangan.

Ujian pasukan. Dalam perjalanan mencapai tujuan pertempuran, pimpinan akan dihadapkan pada ujian pada pasukkannya. Sebagian besar pasukan akan tergiur pada hasil sesaat dan berhenti mencapai tujuan sebenarnya. Karena sudah merasa senang dan puas. Mereka adalah orang yang meminum air sungai dengan lahap dan tidak lagi bergairah mencapai tujuan. Mereka tetap merupakan pasukan hanya bukan yang dapat diandalkan mencapai kemenangan. Mereka tidak membelot, hanya tidak dapat bersabar pada kenikmatan sesaat. Mengenali siapa pasukan yang sabar dan tidak sabar akan dapat memperjelas konsolidasi pasukan. Ini merupakan ujian dalam mengelola pasukan.

Kecil memenangkan Besar. Kelompok kecil (leader) memiliki persangkaan akan kesenangan pada pertemuan dengan Allah. Kelompok kecil yang memiliki komitmen kuat pada tujuan hanya menyandarkan pada keyakinan: betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan ketika pertempuran terjadi tiada yang mereka sandarkan kecuali mendekat pada Allah dalam doa Ya Allah, limpahkan kesabaran pada kami, kukuhkan tekad kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir (tertutup dari kebenaran). Ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki keyakinan kuat pada tujuan tidak menggantungkan dirinya pada pimpinan pasukan. Tetapi jauh diatas itu, yaitu kecintaan pada pertemuan Agung. Apa yang dilakukan dalam mematuhi perintah pimpinan pasukan adalah sarana untuk kesabaran menuju tujuan yang mulia.

Pemimpin tidak harus berada di puncak. Dan mereka mengalahkan Jalut dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut. Pada awal ketika perjuangan dimulai, Thalut adalah pemimpin pasukan. Pada puncak pertempuran, bukan Thalut yang membunuh Jalut, tetapi Daud dengan izin Allah. Sebagai pimpinan pasukan Thalut menyadari bahwa dirinya berjuang hanya karena mencari keridlaan Allah belaka. Sadar bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Luas lagi Mengetahui. Tidak ada istilah untuk menyiapkan pemimpin pengganti. Semua secara sadar memposisikan diri sebagai pencari keridlaan. Apapun yang ada pada dirinya adalah hanya sebagian jalan untuk menuju kecintaanNya. Allah yang akan memilih siapa yang akan diberinya tambahan ilmu dan kemampuan untuk menjadi penguasa. Allah memberinya kekuasaan dan hikmah dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini.