Lalu bagaimanak…

Lalu bagaimanakah kamu akan dapat menjaga dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang mnjadikan anak-anak beruban (Al Muzammil: 17)

Saat membaca ayat ini rasa penasaran muncul. Apa hubungannya antara ayat sebelumnya yang menuliskan keadaan di neraka dengan anak beruban. Akhirnya googling untuk menemukan ‘uban pada anak balita’. Ketemu banyak dan berbahasa Indonesia. Dari tulisan itu yang bagus adalah tulisan Eni Kartikawati[1]. Uban terjadi karena masalah (1) Genetik, (2) ras, (3) penyakit, dan (4) kurang vitamin B12. Ini juga didukung oleh beberapa tulisan lain seperti di tabloid Nova[2], web Anakku[3], jawaban dr. Rifan Fauzie di Kompas[4], Jennifer Shu dari Atlanta[5], dan Nutriclub[6]. Mungkin masih ada yang lain, tetapi dugaan kami jawabannya akan senada. Ada yang lupa. Tulisan di Bali Pos agak berbeda dengan yang lain[7]

Ayat-ayat allah ada tentu ada maksud yang terkandung di dalamnya. Dan itu disebutkan pada ayat ke 19. Sungguh ini adalah peringatan. Barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Artinya (kalau boleh kami interpretasi), dengan adanya tanda-tanda itu maka kita hendaknya bersegera untuk menuju kepada serah diri pada Allah. Tidak perlu mencari-cari tuhan yang lain. Pasrah bongkokan saja.

Kembali pada uban tadi, dengan menggunakan root caused analysis mari kita coba telusuri apa rahasia yang ada pada ayat tersebut. Kami juga belum yakin akan menemukan apa, karena kami juga bukan ahli fisiologi manusia, bukan juga dokter. Siapa tahu ada dokter maupun ahli lain yang baca tulisan ini dapat bersumbang saran.

Faktor genetic. Jika factor genetic yang menjadi penyebab, maka berarti sesungguhnya pada para orang tua sudah ada bibit untuk tumbuh uban saat usia dini. Apakah ini juga berarti orang tuanya dan leluhurnya juga beruban saat usia dini? Atau orangtuanya hanya pembawa sifat uban usia dini dan ternyata fenomena uban usia dini baru muncul akhir-akhir ini. Jika yang kedua ini masalahnya, pertanyaan yang muncul adalah mengapa baru sekarang fenomena ini muncul. Kami ingin mencoret sebab yang pertama. Kalau sekedar karena leluhurnya juga beruban maka anak cucunya akan beruban juga, maka penelusuran fenomena ini menjadi kurang menggairahkan. Langsung berhenti begitu saja. Maka tersisa pertanyaan kedua ‘mengapa genetic uban usia dini baru muncul sekarang?’.

Ras. Disebutkan bahwa pada berapa ras terutama pada kaukasia, uban memang muncul pada anak-anak.

——-sudah agak pagi, matahari mau muncul. Tulisan belum jadi, kapan bias lanjuti ini

 

[1] http://wolipop.detik.com/read/2011/07/21/105623/1685870/857/rambut-balita-anda-tumbuh-uban-ini-sebabnya

[2] http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/Kok-Kecil-Kecil-Ubanan-Sih/

[3] http://www.anakku.net/uban-muncul-terlalu-dini-kurang-vitamin-b12.html

[4] http://health.kompas.com/read/2013/08/29/1601523/Apa.Penyebab.Rambut.Beruban.pada.Balita

[5] http://health.liputan6.com/read/344319/uban-juga-bisa-ditemui-pada-anak-anak

[6] http://www.nutriclub.co.id/forums_and_friends/forums/expert_corner/medical_consultation/thread/Forum_4319

[7]http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=24&id=48574 

Advertisements

Sungguh, bangun…

Sungguh, bangun malam itu lebih kuat dan lebih berkesan (Al Muzammil: 6)

Ayat ini rasanya menjadi ayat penanda. Ada ayat lain yang menyebutkan bahwa ‘kalian adalah sebaik-baik umat’. Ada kaitan antara keduanya. Tidak mungkin seseorang menjadi lebih baik dari yang lain jika tidak ada sesuatu yang lebih dari yang lainnya. Kelebihan ini pada umumnya hanya terjadi karena effor yang lebih dari rata-rata yang dilakukan orang lain. 

Ayat di surat Al Muzammil merupakan petunjuk tentang kapan sebaiknya effort tertentu kita lakukan. Bangun malam. Ada rahasia di sana yang perlu diungkap, mengapa bangun malam penting. Ada ayat lain yang menyebutkan ‘dan Aku jadikan tidurmu untuk istirahat, dan malam sebagai pakian, dan siang untuk mencari penghidupan’. 

Pertanyaan yang mengusik, Apakah ini berarti bahwa malam itu tidak ditujukan sebagai waktu tidur? Tetapi pakaian atas apa? Sebagian tafsir menyebut pakaian karena gelap menutup bumi sebagaimana pakaian menutup tubuh. Namun ada sesuatu ‘rasa’ yang kurang pas di sana. Juga apakah akan berarti juga tidur sepanjang malam itu bukan kebiasaan yang baik. Karena disediakan sesuatu yang hebat pada sebagian malam tersebut.

Banyak yang belum terjawab. Yang paling enak adalah dengan menggunakan ayat: wa maa atakumurrasul fakhuduhu, wamaa nahakum fantahu. Dan apa saja yang diperintahkan rasul padamu maka lakukan. dan apa saja yang dilarang padamu maka tinggalkan.

Insya allah dengan mengikuti rasul, rahasia itu akan terkuak. Menjadi umat terbaik. Memberi manfaat pada manusia dan alam sekitar. Berserah diri secara totalitas tanpa reserve.

There are only …

There are only two skill: Moral Skill and Performance Skill

Diskusi menarik terjadi ketika bertemu teman lama. Ada simpulan yang menarik. Bahwa skill utama itu hanya dua. Skill Moral dan Skill Kinerja. Skill kinerja adalah keterampilan bagaimana kita dapat menunjukkan kinerja tebaik seperti rajin, pantang menyerah, setia kawan, dll. Namun skill ini juga skill yang dimiliki setan-setan laknatullah. Bagaimana setan akan berusaha menyesatkan kapan saja, dari arah mana saja, dengan cara apa saja. Setan setia kawan sampai manusia tersesat (namun berlepas diri ketika manusia sadar dirinya tersesat). Yang menjadi pembeda adalah moral skill. Keterampilan ini akan menempatkan manusia sebagai sebaik-baik makhluk. Maka selalu lakukan apapun untuk memperbaiki moral skill agar dapat naik tingkat lebih baik dari makhluk lainnya. Hanya ketakwaan yang akan membedakan manusia.

Islamic Parties Coalition: is It Possible?

Isu untuk koalisi partai-partai ‘Islam’ dalam pemilihan presiden dan wakil presiden terasa menguat setelah dilakukan penjumlahan perolehan suara dari PPP, PAN, PKS, PBB, PKB di sekitar 30%. Pertanyaan apakah mungkin ini menjadi penting karena ujung dari proses demokrasi ini tetap pada kemampuan untuk memegang kendali pada kekuasaan.

Beberapa fenomena yang akan muncul adalah, kalau toh terjadi koalisi maka sesungguhnya itu merupakan koalisi yang rapuh. Karena platform partai yang berbeda dari semua partai ‘islam’ tersebut. Judul mengusung ‘islam’nya saja yang relatif sama. Selain itu memposisikan partai ‘islam’ dan non ‘islam’ mengisyaratkan bahwa akan terjadi orientasi ‘common enemy’ dalam pengelolaan negara. Dikotomi antara ‘islam’ dan ‘non islam’. Ini yang akan berpotensi pada ‘disintegrasi’ bangsa. Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa Indonesia sebagai negara yang plural termasuk dalam beragama. Akan ada kesan kemenangan ‘partai islam’ sebagai usaha dominasi mayoritas pada minoritas. Ini yang akan dibaca. bahwa sesungguhnya orang Islam tidak hanya berada pada partai ‘islam’ tetapi ada di hampir semua partai yang ada. Dan orang islam selalu meyakini bahwa dia tidak akan berbuat kecuali untuk keagungan Asma Allah yang memancar pada kemanfaatan hidupnya bagi orang lain.

Sudah saatnya orang islam bergerak secara lebih multi dimensi dalam memberikan pengaruh pada lingkaran-lingkaran di sekitarnya tanpa harus menyebut ini ‘islam’. Gerakan-gerakan kultural yang membangun budaya masyarakat madani seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan NU serta organisasi sejenis akan jauh lebih hebat pengaruhnya ketika umatnya menyadari dirinya Islam secara kaffah. Gerakan politik warganya dapat saja masuk ke semua partai yang ada baik partai ‘islam’ maupun ‘non islam’ dengan membawa perubahan pada hal-hal yang baik untuk kemajuan umat, masyarakat indonesia yang tantangannya menghadapi dinamika persaingan budaya dengan negeri lain semakin menguat. Hadapi masa bonus demografi dengan generasi yang kuat. Apapun partainya.

NB: kata ‘islam’ dalam tanda petik kami maksudnya ‘islam’ hanya sebagai simbol. Islam tanpa tanda petik adalah islam yang sesungguhnya.

Is there an effect of religion on election success?

Apakah ada pengaruh keagamaan dalam keberhasilan pemilu? Pertanyaan ini pengting untuk di jawab karena pada saat pergantian pimpinan nasional, Islam akan menjadi alat jual untuk meraih suara. Berbagai kepentingan akan menyatu untuk memanfaatkan tentang Islam akan dimunculkan. Ini sesungguhnya sama dengan ketika suatu industri akan menjual produknya. Bagaimana pengguna dibujuk agar mau membeli barang dan jasa yang ditawarkan. Konsep AIDA (attractive, interest, desire, action) dilakukan secara massive sehingga pemilih menusukkan paku pada gambar yang diharapkan.

Dalam demokrasi seperti ini, maka memang tujuan utamanya adalah memperoleh suara untuk dukungan dalam parlemen dan pemerintahan. Tentu dengan berbagai strategi dan tujuan setelahnya. Perilaku partai peserta pemilu seperti ini sesungguhnya terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi di berbagai negara yang menerapkan sistem demokrasi. Data yang diambil dari laporan tentang The Religious Diversity Index (RDI) yang dikaitkan dengan sistem pemerintahannya dan proses pemilu yang dilakukan, akan dapat diketahui bahwa dimanapun demokrasi tersebut diterapkan, maka akan membawa dampak perilaku partai yang seperti itu. Dengan kata lain bawa sesungguhnya tidak ada pengaruh yang signifikan antara agama dengan keberhasilan pemilu.

Sehingga hal yang perlu diperhatikan adalah kesadaran masyarakat untuk melihat bahwa sesungguhnya isu keIslaman hanyalah sebagian alat untuk mendulang suara. Tidak akan ada kepastian partai yang ada dalam menyuarakan Islam. Karena nilai-nilai Islam mungkin justru akan tumbuh subur di masyarakat ketika masyarakat sendiri dalam keseharian menunjukkan perilaku yang islami. Mengembangkan rasa cinta pada orang lain, mampu mengatur diri sendiri untuk lingkungan yang lebih baik, memberikan manfaat yang terbaik bagi orang lain. Biarkan demokrasi berjalan apa adanya karena itu sudah menjadi pilihan bangsa ini. Ada catatan menarik, ‘Professor Joo-Cheong Tham says many young voters are not engaged or interested in the electoral process. One-in-five are not voting, that is a serious issue, a serious democratic deficit’.

 

Where is the position of Islam in Indonesian election?

Dalam setiap pemilu, umat Islam selalu menjadi primadona setiap partai. Mengapa? Meski bukan negara Islam, Indonesia mayoritas berpenduduk beragama Islam. Kemampuan untuk merebut hati masyarakat Islam akan memberikan buah kemenangan. Dan sebaliknya, semua kelompok yang menyebut dirinya perwakilan Islam akan berusaha memberikan ‘perlawanan’ untuk mencegah masyarakat memilih partai yang lain. Namun tidak dapat lagi dielakkan bahwa pemenang pemilu 2014 bukan partai yang mengusung ‘islam’. 

Kemenangan partai non ‘islam’ dapat diartikan bahwa isu keislaman sudah tidak terlalu penting lagi di masyarakat. Terutama karena memang sejak orde baru semua komponen masyarakat telah bersepakat bahwa NKRI adalah sudah final. Artinya sistemai demokrasi yang berjalan saat ini juga sudah merupakan sebuah pilihan untuk proses peralihan kepemimpinan nasional. Oleh karenanya tersebarnya orang-orang Islam ke berbagai partai yang ada baik itu partai ‘islam’ dan non ‘islam’ adalah merupakan suatu konsekuensi logis. 

Sebagai sebuah pendulum, akan ada bentuk keseimbangan baru dalam proses artikulasi idiologis yang ada di masyarakat. Orang-orang islam yang ada di berbagai partai, dapat saja dilihat sebagai oportunis untuk mencari kekuasaan. Namun sesungguhnya bisa juga dilihat mereka melakukan ‘dakwah’ melalui partai. Sehingga terkadang muncul pernyataan ‘kalau kita tidak masuk ke dalam partai, maka orang lain yang akan masuk’. Proses diskusi sosial politik tersebut akan selalu terjadi sebagai suatu dinamika politik dan akan relatif memanas dan menguat pada masa-masa pemilihan pimpinan nasional. 

Fenomena yang tidak boleh untuk diabaikan adalah semakin tingginya persentase golput dalam pemilu. Barangkali dari data golput akan semakin dapat diselami bagaimana proses perubahan perlahan dalam masyakarat terjadi. Hanya sayang, tidak ada situs yang dapat memberikan data ini secara lebih rinci. Sebagai buah demokrasi, memang akan segera dapat ditentukan siapa presiden dan jajarannya, siapa DPR dan seluruh anggota dewannya. Namun untuk Indonesia ke depan, angka golput ini yang justru akan menentukan wajah Indonesia ke depan. Banyak hal dapat diprediksi melalui analisis data golput ini. Dan peran Islam sebenarnya barangkali justru dapat terbaca dari sini. 

Tingkat pendidikan rata-rata Indonesia yang semakin baik yang dilihat pada angka partisipasi kasar pada sekolah menengah dan tinggi tentu berkorelasi positif pada kesadaran politik masyarakat. Dan dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia juga akan mulai menuai bonus demografi dengan penduduk usia produktif yang dominan. Semakin merebaknya semangat berislam yang juga diajarkan sejak sekolah dasar pada dekade terakhir akan memberi warna tersendiri bagi karakter masyarakat ke depan. Fenomena-fenomena ini yang akan menjadi spider web analysis sebagai penjelas dimana posisi Islam dalam kancah pembangunan bangsa.

Hal yang patut dicatat adalah Islam adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam, membawa cinta kepada sesama -semua pihak tak terkecuali, tidak layak kebencian disebarkan atas nama Islam. Hal yang patut dilakukan oleh semua pihak adalah menegakkan keteladan dalam masyarakat. Insya allah ketenangan dalam bernegara dan bermasyarakat akan datang. Dan Islam akan muncul bukan pada jumlah orang tetapi nilai-nilai universal yang membawa kemakmuran pada negeri ini dan meluas pada negeri-negeri lain. Di sinilah letak Islam dalam berbagai pergumulan nilai dalam berbagai budaya dunia.