Silent Network: a new guerrilla strategy on 4GW era

Global Firepower merilis indeks kekuatan negara-negara dengan menggunakan 50 indikator. Indonesia berada pada posisi negara kuat ke-9 di wilayah Asia Pasific dengan indeks 0.8008. Indikator yang digunakan secara umum merupakan indikator yang tangible. Indikator yang ditunjukkan merupakan indikator untuk sarana pertempuran dengan model perang generasi ke-3. Dengan semua kekuatan ini, sesungguhnya negara kuat hanya dapat menakut-nakuti negara lain untuk memastikan terjadinya keseimbangan keamanan antar negara. Perlu diciptakan suatu skenario-skenario untuk dapat mengujicoba ataupun mengerhakan sarana tempur ini. Perang model fisik seperti ini yang terjadi di beberapa negara saat ini seperti di Libanon,  Afganistan, dan beberapa negara lain. Dalam peperangan tersebut akan banyak kapital yang dibenamkan untuk sebuah investasi senjata pemusnah baru sebagai bentuk unjuk kekuatan antar negara. Implikasi dari pengerahan senjata perang ini di satu sisi adalah kutukan dari negara lain karena perang adalah suatu yang tidak etis untuk dilakukan.

Dalam perang generasi ke-4 pengerahan persenjataan fisik sudah tidak lagi digunakan. Non-state actor akan lebih banyak berperan dalam peperangan untuk mempertahankan national interest ini. Dalam model perang generasi ke-4 ini, tidak ada lagi actor yang dapat secara tranparan ditunjuk sebagai musuh atau teman. Terdesentralisasikan peran dalam lingkup pelaku yang lebi kecil akan menjadikan peperangan ini sulit untuk segera dihentikan, namun akan berjangka panjang terjadinya. Strategi perang yang dilakukan haruslah berbeda dengan strategi masa lalu. Strategy re-engineering. Rekayasa ulang strategi. Kunci dari pemenangan perang ini ada pada individu yang bergerak mencapai tujuan secara individu namun semua individu ini bergerak dengan ritme yang sama meski tiada komando. Bagaimana menggerakkan hal ini? Mind sebagai kuncinya.

Berlanjut…………….!