Lack of National Management

Manajemen nasional merupakan aktivitas pada level national dalam mengelola sumberdaya nasional untuk mendukung tegaknya kepentingan national (national interest). Dalam era perang asimetri saat ini, semakin banyak faktor yang saling berpengaruh yang dapat menjadikan tercapai atau tidaknya tujuan suatu bangsa. 

Secara teoritik, sesungguhnya manajemen nasional lebih pada upaya-upaya untuk memastikan rantai nilai pengelolaan sumber daya berjalan dengan baik. Dengan kacamata paradigma saintifik dengan konsep input-process-output maka manajemen national akan menjadi sebuah sistem pengelolaan sumberdaya nasional tadi. Kunci sebuah sistem adalah pada interaksi antar elemen pendukung sistem. Dalam hal ini adalah koordinasi antar elemen pendukung manajemen nasional. Dalam ranah birokrasi pemerintahan sesungguhnya koordinasi ini adalah koordinasi antar kementerian. Hasil dari koordinasi ini adalah kebijakan-kebijakan national (national policies) yang akan mengarahkan aktivitas hingga level praktis di daerah. 

Kebijakan yang saling tumpang tindih dengan berbagai alasan baik karena desakan kepentingan asing, kepentingan kelompok, tekanan pihak tertentu akan menjadikan manajemen nasional tidak berjalan dengan baik. Sebut saja kasus-kasus korupsi yang terjadi saat ini, itu adalah buah dari koordinasi dan penentuan kebijakan yang tidak komprehensif.

Rapat-rapat koordinasi sesungguhnya tidak ditujukan untuk menyelesaikan masalah-masalah jangka pendek yang reaktif. Namun sering rapat koordinasi dilakukan hanya untuk menjawab permasalahan masyarakat sesaat. Orientasi koordinasi seharusnya fokus pada capaian-capaian yang diarahkan pada target jangka panjang, penyesuaian capaian untuk perbaikan, penentuan alternatif support untuk memperbaiki capaian. Ini yang relatif belum terlihat pada saat ini dalam manajemen nasional. 

Memang untuk menyadari hal itu bukan suatu hal yang sederhana dengan dalih misalnya Indonesia yang demikian luas, penduduk yang sedemikian banyak, dll. Blueprint MP3EI sesungguhnya dapat menjadi rujukan untuk mengarahkan aktivitas pendukung manajemen nasional. Meski semua ini sudah dilakukan oleh Bapennas melalui rakornas, namun perlu dicermati kembali siapa yang akan memastikan bahwa rantai nilai berjalan. Tidak sekedar diperolehnya dokumen rencana kerja tahunan. 

Dengan adanya sistem informasi, sangat mungkin disediakan dashboard kinerja national oleh pihak-pihak terkait untuk melihat capaian-capain kinerja national secara agregatif. Kembali disini diperlukan komitmen pemimpin terutama pada top manajemen negara. Karena ia harus knows the way, shows the way and goes the way. Hanya dengan itu Indonesia akan lebih berdaya.