Keamanan Laut: dilema Indonesia dalam bisnis transportasi laut internasional

In the next five to seven years, market, stakeholder, customer, and regulatory pressures related to sustainability will drive significant changes in the way international container shipping lines operate and do business. Considering that the industry transports more than one-third of the value of global trade, provides more than 4.2 million jobs, and represents a heavy social and environmental footprint, these are developments that will have far-reaching impact in a variety of  sectors (https://www.bsr.org/reports)

Deklarasi Juanda menemukan bentuknya dengan pengesahan UNCLOS 1982 dan Indonesia resmi menjadi negara kepulauan. Ini suatu keuntungan yang hendaknya didukung dengan semangat membangun dalam lingkungan global yang semakin kompleks. Posisi Indonesia yang menghubungkan daratan utara dan daratan selatan melalui samudera menjadi posisi penting dan strategis dalam bisnis transportasi laut.

Untuk menembus kedua samudera, Indonesia telah menyediakan tiga ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia). Dengan semakin besarnya daya angkut/ tonase kapal dan semakin tingginya nilai barang yang dibawa, keamanan laut menjadi hal yang diutamakan oleh para pemilik modal yang melalukan transaksi barang antar negara dan benua ini. Pergesekan kepentingan akan terjadi dengan Indonesia karena mereka memiliki kepentingan pada barang yang akan dipindahkan melalui laut. Pelanggaran wilayah laut akan terjadi pada interaksi kepentingan ini.

Posisi tawar Indonesia akan tinggi ketika dapat memastikan keamanan laut. Artinya, Indonesia memerlukan angkatan laut yang kuat yang akan menjamin terjadinya bisnis transportasi laut. Teknologi pemantauan kelautan menjadi penentu dalam kegiatan ini. Dari mana Indonesia dapat membeli teknologi ini ketika para pesaing bisnis transportasi adalah juga pemilik teknologi kelautan.

Sangat wajar bila pada akhirnya Indonesia harus secara sadar mengembangkan teknologi kelautan dengan menggunakan sumberdaya manusia Indonesia. Hanya dengan kemandirian teknologi ini maka Indonesia dapat secara tegak menyatakan ‘ikut serta dalam kedamaian dunia’.