Optimism of Indonesia as a part of ‘Emerging Economy Countries’

See the definition of emerging economy here.

Asia -economic outlook lihat di http://www.focus-economics.com/en/economy/region-outlook/Asia

Recent indicators paint a strong picture of the Indonesian economy. In Q4, GDP grew 5.7% over the same quarter of the previous year, which was just above the 5.6% expansion recorded in Q3. In December, retail sales expanded 26.6%, which followed the 17.8% rise tallied in November. On the external front, a 10.3% rise in exports pushed the trade balance to a USD 1.5 billion surplus in December, which nearly doubled the USD 789 million surplus registered in November and marked the largest trade balance since November 2011. Moreover, the strong trade surplus is helping to both reduce the current account deficit and stabilize the rupiah. http://www.focus-economics.com/en/economy/outlook/Indonesia

Strategi apa yang akan dilakukan? Tunggu lanjutannya…………

Analisis akan merujuk: https://www.uschamber.com/sites/default/files/legacy/international/files/ASEAN%20Survey%202014.pdf

Advertisements

Indonesia on World Economy Barometer

China pada November 2013 lalu mengeluarkan China Reform Blueprint yang optimistik pada capaian masa depan. Meskin dari predikasi dari World Economy Barometer pada long term akan mengalami deviasi negatif baik untuk manufaktur maupun service. Sedangkan Indonesia diperkirakan pada long term akan mengalami deviasi positif. 

Dengan masuknya Indonesia dalam G20 maka ada harapan besar Indonesia dapat ikut berperan serta dalam perubahan dunia. G20 diartikan sebagai:

G20 members represent around 85 per cent of global gross domestic product, over 75 per cent of global trade, and two-thirds of the world’s population. The members of the G20 are: Argentina, Australia, Brazil, Canada, China, France, Germany, India, Indonesia, Italy, Japan, Republic of Korea, Mexico, Russia, Saudi Arabia, South Africa, Turkey, United Kingdom, United States, European Union.

Namun apakah memang demikian atau sesungguhnya hanya pengelompokkan siapa akan dipengaruhi siapa. Dengan Asean Community maupun RCEP maka ada negosiasi-negosiasi yang harus dilakukan untuk tetap menentukan arah kemajuan Indonesia. MP3EI yang ada perlu kembali dibuka untuk melihat fokus interaksi yang tidak mencederai harkat martabat bangsa. 

Hal ini penting, karena saat ini Indonesia dalam berbagai aspek dengan metodologi apapun menjadi negara yang tingkat pertumbuhannya baik dan menjanjikan. Kepentingan-kepentingan asing pada Indonesia akan masuk untuk turut serta dalam mempengaruhi kebijakan nasional. 

RCEP Regional C…

RCEP Regional Comprehensive Economic Partnership: The purpose is to achieve a comprehensive and mutually beneficial economic partnership agreement. This agreement shall involve broader and deeper engagement with significant improvements over existing ASEAN FTAs/CEP with Dialogue Partners. This agreement will also provide a basis for addressing issues that may emerge in the future.

Pergeseran kekuatan ekonomi dunia terjadi. Regional Comprehensive Economic Partnership merupakan kesepakatan perdagangan bebas (Free Trade Agreement) antara negara-negara Asean dengan FTA Partner yaitu: China, Australia, India, Jepang, New Zealand, dan Korea. Penggabungan negara-negara ini akan membentuk 46% populasi dunia yang berarti pasar yang luas untuk berbagai produk; 24% GDP dari seluruh dunia yang berarti dengan pertumbuhan ekonomi positif akan berarti penguasaan kapital yang akan digunakan dalam menggerakkan negara dan pasar yang dimiliki; 40% pasar dunia berada di jangkauan mereka.

Hal yang perlu dicermati adalah negosiasi apa yang dilakukan diantara pada partner dalam RCEP ini. Bargaining position dalam berbagai bentuk kekuatan akan menentukan peran masing-masing. National interest akan berperan di sini. Komitmen membangun kekuatan internal (kemandirian) akan menentukan posisi masa depan. Peran aktif untuk kemakmuran dan kesejahteraan semua. Tidaklah mudah untuk mengubah perilaku konsumersime masyarakat saat gempuran ideologis semakin menguat dalam percaturan regional dan internasional. Tahun 2015 akhir segera tiba. Isu ini masih sepi di Indonesia.

Siapkan semangat……………

National Leadership: Seperti apa yang kita inginkan?

Dalam masa-masa kampanye untuk pemilu April 2014, sesungguhnya merupakan masa yang kritis dalam membicarakan tentang isu kepempimpinan nasional (national leadership). Dalam waktu yang pendek, masyarakat diminta untuk membuat keputusan instan tentang siapa yang layak untuk menjadi pemimpin.

Semua pihak baik PDIP dengan calonnya Joko Widodo (Jokowi), Nasdem dengan Surya Paloh, Gerindra dengan Prabowo, Hanura dengan Wiranto, Golkar dengan Abu Rizal ‘Ical’ Bakri dan lain-lain. Belum lagi untuk pilihan DPD, DPR, DPRD I dan II. Masyarakat sesungguhnya cenderung tidak mengenal siapa-siapa mereka. Hanya pengetahuan yang ada di luarnya saja. Hanya lingkungan para calon saja yang dengan cukup baik mengetahui track record baik dan buruk mereka.

Namun dalam pemilu, itu semua akan menjadi tertutup dan ditutupi. Yang dimunculkan adalah kebaikan-kebaikan yang artifisial. Janji-janji yang tidak akan pernah ditepati karena memang tidak ada yang menjamin janji tersebut. Dalam situasi seperti ini masyarakat diminta memilih. 

Isu tentang money politic memang ada dan isu ini akan menjadi bias dengan isu political cost, karena sangat tipis perbedaannya dalam level praktis. Jika dulu para calon legislatif menebarkan uang pada masyarakat dalam berbagai bentuk. Dan hasilnya dianggap oleh beberapa tidak efektif, maka sekarang sangat rentan money politic terjadi pada para petugas pemilu. Bayangkan di daerah-daerah yang tidak ada liputan media, yang tidak ada pemantaua masyarakat, yang masyarakatnya relatif kurang pendidikan politik; bagaimana jika semua petugasnya dibayar untuk membuat laporan palsu. Laporan yang sesuai keinginan partai tertentu. Siapa yang akan mengetahui?

Kunci dari semua proses pesta demokrasi ini adalah pada moralitas semua komponen bangsa. Moralitas yang semakin terdegradasi akan mempengaruhi mutu kepempinan nasional dalam era demokrasi modern saat ini. Ancaman yang paling kuat dan besar dari moralitas ini adalah sikap yang menilai keberhasilan dalam kehidupan, dalam bermasyarakat, dalam bernegara adalah pada seberapa banyak harta yang dimiliki. Dengan harta maka kekuasaan diraih. Untuk apa? untuk harta yang lebih banyak lagi. Sikap ini yang sangat kuat saat ini dan melatarbelakangi semua proses kehidupan di Indonesia. 

Tidak mudah untuk mencari penyelesaian ataupun alternatif dalam mengelola kepemimpinan nasional. Dengan hingar bingar pesta demokrasi saat ini, siapapun partai yang menang maka sesungguhnya di dalam kepemimpinan mereka masih rentan bercokol orang-orang yang melihat keberhasilan pada nilai-nilai materialistis dengan moralitas yang semakin menipis.

Berjuanglah untuk kehidupan masyarakat berkemajuan.

Defense Dialogue and Techno-Nationalism

Tulisan Prof Daoed Joesoef di Kompas (19/3/14) yang mengungkap tentang techno-nationalisme sangat baik kita analisis terkait dengan isu-isu baru yang muncul dalam Jakarta International Defense Dialogue. Dalam konstelasi kesepamahan global, masih adakah atau masih pentingkah nasionalisme.

Atas nama apapun baik itu sejarah, ekonomi, kemajuan bangsa, agama, dan lain-lain; semua calon legislatif berusaha untuk mencari massa agar dapat melenggang ke ruang dewan yang mulia. Namun jika dicermati sesungguhnya diskusi-diskusi kemajuan yang ditawarkan masih berkutat pada tingkat pertumbuhan ekonomi dengan logika kapitalis liberalis. Artinya tawaran-tawaran para caleg sesungguhnya belum berakar pada kepastian jangka panjang kemajuan. Ketika pada masa itu India dan China yang menolak resep-resep lembaga keuangan internasional karena memilih untuk berdikari, ternyata sekarang mereka menuai kemajuan yang signifikan dan membawa keseimbangan global yang baru.

Dikaitkan dengan Jakarta International Dialogue yang fokus pada maritim, akan dapat diketemukan bahwa pada akhirnya pertahanan pada maritim di saat era sudah bukan perang face to face pada state actor, maka defense akan berarti bagaimana mengamankan bisnis global dari negara-negara pemilik kapital besar. Dalam skala ini peran Indonesia menjadi penting. Semua negara bangsa akan mengamati dan jika perlu turut serta mempengaruhi proses demokrasi yang berjalan. Demi satu tujuan yaitu kepentingan. Pergeseran kekuatan ekonomi dari AngloSaxon dan US ke China akan mempengaruhi peran Indonesia ke depan.

Isu-isu seperti neo berdikari yang oleh Din Samsudin saat jadi pembicara utama dalam seminar nasional Ikatan Alumni Insititut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pusat di Jakarta, Rabu (5/3/2):

“China (Tiongkok-red) merupakan bentuk kemajuan ekonomi, budaya, dan bahkan politik dengan tidak mengubur kepribadiannya, yang ternyata menjadikannya terus dihormati luar biasa oleh negara mana pun. Inilah corak ideal dalam berdikari negara.”

Selain itu, penentuan Jokowi sebagai capres dari PDIP juga ternyata membawa sentimen pada IHSG. Ada kepentingan-kepentingan yang akan masuk dalam proses ini. Sebagian orang juga meyakini bahwa MP3EI akan dapat dipercepat oleh Jokowi (jika jadi presiden). Apakah benar demikian?

Dengan situasi kebangsaan seperti itu, pada akhirnya membangun semangat nasionalisme menjadi sangat penting. Menempatkan ide-ide Pancasila (yang sudah mulai pudar) perlu dikedepankan. Hal yang tidak mudah. Pada situasi perang asimetri sekarang non state actor yang bermain dan akan masuk dalam berbagai kebijakan partai pemenang. Seperti apa jalan yang dapat kita lalui untuk Indonesia yang berjaya? Eranya defense melalui penguatan mind.

Jakarta Interna…

Jakarta International Defense Dialogue

Mencari unjuk Kekuatan atau Keseimbangan Keamanan. Cermati agenda kegiatan ini di link ini. Memang diharapkan dari kegiatan ini akan dapat ditemui beberapa kesepahaman dalam maritim antar negara. Hal ini memang sangat penting bagi Indonesia karena berada pada posisi strategis bisnis dunia. Lihat tujuan JIDD berikut: 

JIDD’14 aims to bring together key national leaders, military officers, academics and policymakers from more than fifty states to strengthen the harmonization of their security priorities and strategies, as well as increase dialogue and engagement between their defense forces for the future stability of the region. Participants will include high-level political and military officials from Asia, Africa, and beyond, as well as maritime leaders from international organizations like the International Maritime Organization (IMO), the United Nations, the European Union, and the North Atlantic Treaty Organization.

Cari sisi positif. Tegaskan peran Indonesia dalam kancah internasional dengan tetap berpegang pada Nasionalisme.