Sukses MBS dengan Memastikan Mutu pada Tiap Aspek di Sekolah

Heru Suprihatin, Suci Retnaningtyas Sari, Ari Dwi Prastyo, Kusrina Asih, Bara Embrio Haqi

Sumber Daya Guru

Guru sebagai tenaga pendidik merupakan pemimpin pendidikan, dia amat menentukan dalam proses pembelajaran di kelas, dan peran kepemimpinan tersebut akan tercermin dari bagaimana guru melaksanakan peran dan tugasnya, ini berarti bahwa kinerja guru merupakan faktor yang amat menentukan bagi mutu pembelajaran/pendidikan yang akan berimplikasi pada kualitas output pendidikan setelah menyelasaikan sekolah.

Kinerja Guru  pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja guru akan sangat menentukan pada kualitas hasil pendidikan, karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pendidikan/pembelajaran di lembaga pendidikan Sekolah.

Guru yang baik memiliki karakteristik seperti berikut:

  1. Memiliki minat yang besar terhadap mata pelajaran yang diajarkan
  2. Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara cepat.
  3. Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yg diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
  4. Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberi penjelasan pada siswa.
  5. Memiliki kualifikasi memadai dalam bidangnya baik isi maupun metode mengajar.
  6. Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.

Agar profesionalisme guru dan dosen khususnya profesionalisme guru tersebut terukur, maka diperlukan beberapa Indikator Guru Professional. 7 Indikator tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki Ketrampilan mengajar yang baik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi Pedagogik.
  2. Memiliki Wawasan yang luas. Seorang Guru hendaknya secara terus menerus mengembangkan dirinya dengan meningkatkan penguasaan pengetahuannya.
  3. Menguasai Kurikulum. Bagi guru profesional, tentu sudah berusaha untuk mencari tahu mengenai kurikulum baru ini.
  4. Menguasai media pembelajaran. Guru profesional harus mampu menguasai media pembelajaran.
  5. Penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi mutlak diperlukan oleh guru.
  6. Menjadi teladan yang baik. Guru (digugu dan ditiru) hendaknya menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya.
  7. Memiliki kepribadian yang baik.

Kepala Sekolah

Kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki

jabatan yang bertanggung jawab mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing.

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai :

1.  Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah sebagai manajer

kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3. Kepala sekolah sebagai administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

4. Kepala sekolah sebagai supervisor

Kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik

5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada

6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya.

7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

Peserta didik

Kompetensi yang harus dilakukan adalah “anak-anak sebagai pusat” sehingga kompetensi dan kemampuan siswa harus di gali sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa.

Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan siwa :

1)               Memberi Rangsangan

Pendidikan harus menggunakan metode yang sesuai sehingga merangsang minat untuk belajar dan mempelajari baik dari segi bahasa maupun mimic dari wajah dengan memvariasikan setiap metode yang dipakai. Pendidik harus mampu memberikan ransangan terhadap peserta didik untuk belajar, karena yang disajikan benar-benar mengenai atau mengarah pada diri peserta didik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya setelah peserta didik terangsang terhadap pendidikan maka pendidik tinggal memberikan motivasi secara kontinew. Oleh karena itu pendidik atau lembaga tinggal memberikan atau menyediakan sarana dan prasarana saja, sehingga peserta didik dapat menerima pengalaman yang dapat menyenangkan hati para peserta didik sehingga menjadikan peserta didik belajar semangat.

2)                Memberikan Motivasi Belajar

Motivasi adalah sebagai pendorong peserta didik yang berguna untuk menumbuhkan dan menggerakkan bakat peserta didik secara integral dalam dunia belajar, yaitu dengan diambil dari sisitem nilai hidup peserta didik dan ditujukan kepada penjelasan tugas-tugas.

Motivasi merupakan daya penggerak yang besar dalam proses belajar mengajar, motivasi yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa:

  1. Memberikan penghargaan.

Penghargaan ini bertujuan agar peserta didik selalu termotivasi untuk lebih giat belajar dan mampu bersaing dengan teman-temannya secara sehat, karena dengan itu pendidik akan mudah meningkatkan kualita pendidikan.

b. Memberikan hukuman.

Pemberian hukuman ini bersifat mendidik artinya bentuk hukuman itu sendiri berkaitan dengan pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kesalahan.

c. Mengadakan kompetisi dan lomba.

Pengadaan ini dipergunakan untuk meningkatkan prestasi peserta didik untuk membantu peserta didik dalam pembentukan mental yang tangguh selain pembentukan pengetahuan.untuk membantu proses pengajaran yang selalu dimulai dari hal-hal yang nyata bagi siswa.

Kurikulum

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.

Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendididkan Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri.

Kurikulum dalam manajemen sekolah terdapat beberapa indicator yaitu adanya peningkatan mutu pendidikan yang dapat dicapai oleh sekolah, peningkatan efisiensi dan efektifitas penglolaan dan penggunaan sumber-sumber pendidikan, peningkatan perhatian serta partisipasi warga dan masyarakat sekitar sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran, adanya kompetisi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan.

Indikator dalam sebuah kurikulum juga memerlukan bagaimana cara dalam menerapkan indikator, untuk dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah dan guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia, tanggung jawab yang jelas, dan transparan, melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan wali murid, masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

Sumber Daya Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua perangkat atau fasilitas atau perlengkapan dasar yang secara langsung dan tidak langsung dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan dan demi tercapainya tujuan, khususnya proses belajar mengajar.

Sarana dan prasarana pendidikan yang bermutu , antara lain: (1) bangunan sekolah yang lengkap dengan ruang kantor, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium (laboratorium Ipa dan Bahasa), ruang pertemuan, kamar mandi/WC dengan lay-out yang tertata indah, rapi, bersih, segar dan nyaman, (2) Perabot kantor, meubeler dan peralatan yang lengkap dan baik. (3) Perpustakaan dengan jumlah, jenis, judul buku yang lengkap terjaga rapi, bersih, dan dilengkapi dengan ruang baca yang nyaman. (4) Laboratorium IPA, Bahasa dan komputer, dengan fasilitas lengkap dan modern. (5) Taman halaman tertata indah, bersih dan segar, serta pagar halaman yang baik dan aman.

Masalah pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan merupakan faktor yang penting terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu fungsi dan peranan sekolah, guru, siswa dan personel sekolah memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan ini agar benar-benar menentukan keberhasilan proses belajar yang efektif.

Sedangkan motivasi belajar siswa adalah dorongan atau kemauan yang muncul dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas belajarnya dengan giat sehingga mendapat kepuasan/ganjaran diakhir kegiatan belajarnya dan agar kualitas hasil belajar siswa juga memungkinkannya dapat diwujudkan serta tercapai tujuannya yaitu memiliki prestasi tinggi di sekolah, memiliki pengetahuan, keterampilan maupun pengalaman yang dapat dibanggakan.

Oleh karena itu dalam suatu proses belajar mengajar, sarana dan prasarana pendidikan harus ada. Tanpa adanya sarana dan prasarana pendidikan, suatu proses belajar mengajar tidak akan mencapai tujuan yang maksimal.

Dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan secara langsung dan tidak langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, maka guru harus dapat memanfaatkan segala sarana dan prasarana pendidikan yang ada dengan seoptimal mungkin dan bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan pemakaian serta perawatan sarana dan prasarana pendidikan yang ada atau ditempatkan dikelas dimana ia mengajar.

Dengan demikian, jika pemanfaatan segala sarana dan prasarana pendidikan dilakukan dengan tepat dan seoptimal mungkin, maka siswa akan memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dengan sungguh-sungguh sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien dan dapat menghasilkan prestasi belajar yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Daftar Pustaka

  1. Mariza Toendjank. (2012). Manajemen Pemeliharaan Sarana dan Prasarana di Sekolah Menengah Pertama. Diakses dari https://ms-marizadenia.blogspot.com/2012/01/manajemen-pemeliharaan-sarana-dan.html pada tanggal 22 Oktober 2013.
  2. Ninuk Dwi Wuriyani. (2010). Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. Diakses dari https://ninukdwiwuriyani.blogspot.com/2010/01/standar-sarana-dan-prasarana-pendidikan.html pada tanggal 22 Oktober 2013.
  3. http://edukasi.kompasiana.com/2013/07/02/upaya-untuk-meningkatkan-mutu-pendidikan-peningkatan-mutu-belajar-570224.html
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum
  5. http://weblog-pendidikan.blogspot.com/2009/08/indikator-keberhasilan-kurikulum.html
  6. http://yeni-fadli.blogspot.com/2012/01/peran-kepala-sekolah-memaksimalkan.html
  7. http://staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/nurtanio-agus-purwanto-mpd/optimalisasi-kinerja-kepala-sekolah.pdf
  8. http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pengembangan-kinerja-guru/
  9. http://kreatifpangkalpintar.wordpress.com/2011/04/25/karakteristik-kompetensi-dan-ciri-ciri-guru-yang-baik/
  10. http://rohmiganksal.blogspot.com/2013/03/7-indikator-guru-profesional.html