PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Rischa Ardiyanti, Rakhmat Widodo, Yuniza Widyarti, Endah Yuliawati

Pengantar
Orang tua dalam memilih pendidikan untuk anaknya pasti akan mengutamakan kualitas sekolah tersebut. Sekolah dikatakan sebagai sekolah yang berkualitas baik dapat dilihat dalam beberapa aspek. Aspek – aspek tersebut diantaranya pendidikan dan pengalaman guru yang mengajar, kurikulum yang diberikan sudah mengikuti standar kurikulum yang diberikan pemerintah, lokasi sekolah itu berada, keadaan bagunan yang yaman (bagus,bersih, terang) dan fasilitas yang ada di dalam sekolah tersebut. Prasarana dan sarana pendidikan adalah salah satu sumber yang menjadi ukuran mutu sekolah dan perlu ditingkatkan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih. Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Guru
Guru adalah sebuah profesi yang sangat membanggakan, karena guru dapat mencerdaskan anak-anak bangsa. Tanpa guru, bangsa ini tidak akan maju. Guru adalah sebuah jabatan atau profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Pekerjaan sebagai guru ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang tanpa mempunyai keahlian sebagai guru. Menjadi seorang guru dibutuhkan syarat-syarat khusus. Apa lagi jika menjadi seorang guru yang profesional maka harus menguasai seluk beluk pendidikan serta mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang harus dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.
Peranan dan kedudukan guru demi meningkatkan mutu dan kualitas anak didik harus diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Guru bukan hanya sebatas pegawai yang hanya melakukan tugas tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap disiplin ilmu. Guru sebagai pengelola kegiatan proses belajar mengajar dimana dalam hal ini guru bertugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa agar bisa mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini guru berperan dan bertugas sebagai pengelola proses belajar mengajar. Guru berperan menjadi pengganti orang tua di sekolah. Dalam hal ini guru harus bisa menggantikan orang tua siswa jika siswa sedang berada di sekolah. Guru adalah sebuah cermin profesi yang mulia karena itu sering banyak orang memanggil “pahlawan tanpa tanda jasa”. Dengan kesungguhan seorang guru dalam mendidik muridnya hingga suatu saat murid tersebut sukses. Dalam dunia pendidikan khususnya bagi seorang guru adalah cita-cita idaman. Untuk menyikapi cita-cita ini yakni melihat anak didiknya sukses mungkin akan terbesit dalam pemikiran bagaimana cara seorang guru mampu melahirkan anak didik yang nantinya sukses.
Menjadi seorang guru, harus memiliki jiwa anak-anak, karena untuk memudahkan komunikasi antar guru dan siswa. Guru juga harus bisa memberikan contoh yang baik untuk siswanya supaya dapat dicontoh dan diterapkan dalam diri siswa. Untuk mencerdaskan anak bangsa, guru harus mempunyai sifat “ngemong”, karena guru, di sekolah yang menjadi orang tua siswa, yang mengawasi anak-anak tersebut. Guru harus bias “ngemong”.
Keuangan
Pembiayaan pendidikan hendaknya dilakukan secara efisien. Makin efisien suatu sitem pendidikan, semakin kecil dana yang diperlukan untuk pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. Untuk itu, bila sistem keuangan sekolah dikelola secara baik akan meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan. Artinya, dengan anggaran yang tersedia, dapat mencapai tujuan-tujuan pendidikan secara produktif, efektif, efisien, dan relevan antara kebutuhan di bidang pendidikan dengan pembangunan masyarakat.
Untuk mencapai hal-hal seperti di atas maka diperlukan adanya proses merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan melaporkan kegiatan bidang keuangan agar tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam menyusun rencana keuangan sekolah seperti,perencanaan harus realistis,perlunya koordinasi dalam perencanaan,perencanaan harus berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan intuisi,perencanaan harus fleksible (luwes),perencanaan yang didasrkan penelitian,perencanaan akan menghindari under dan over planning.
Dalam hal ini Kepala sekolah dituntut untuk dapat mengorganisasikan dengan menetapkan orang-orang yang akan melaksanakan tugas pekerjaan, membagi tugas, dan menetapkan kedudukan, serta hubungan kerja satu dengan lainnya agar tidak terjadi benturan dan kesimpangsiuran satu dengan lainnya. Untuk melaksanakan tugas tersebut staf yang dipilih untuk untuk membantu pengelolaan keuangan sekolah dituntut untuk memahami tugasnya,paham pembukuan, memahami peraturan yang berlaku dalam penyelenggaraan administrasi keuangan, layak dan mempunyai dedikasi tinggi terhadap pimpinan dan tugas, memahami bahwa bekerja di bidang keuangan adalah pelayanan,dan kurang tanggapnya bagian keuangan akan dapat mempengaruhi kelancaran pencapaian tujuan. Selanjutnya yaitu pengawasan.Pengawasan adalah seuatu usaha untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan penyimpangan dari rencana instruksi, arahan/ saran dari pimpinan. Dengan pengawasan (controlling) diharapkan penyimpangan yang mungkin terjadi dapat ditekan sehingga kerugian dapat dihindari. Untuk itu, Kepala sekolah dituntut untuk memahami secara garis besar pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana administrasi keuangan, dan paham peraturan-peraturan pemerintah yang mengatur tentang penggunaan dan pertanggungjawaban serta pengadministrasian uang negara.
Anggaran belanja adalah suatu pernyataan yang terurai tentang sumber-sumber keuangan yang perlu untuk melaksanakan berbagai program sekolah selama periode satu tahun fiskal. Proses pembuatan anggaran pendidikan melibatkan penentuan pengeluaran maupun pendapatan yang bertalian dengan keseluruhan operasional sekolah. Sumber dana untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah dari pemerintah berupa anggaran Rutin (DIK),anggaran Operasional, pembangunan dan perawatan (OPF),dana Penunjang Pendidikan (DPP),juga dari orang tua siswa,dan dari masyarakat, misalnya sumbangan perusahaan industri, lembaga sosial donatur, tokoh masyarakat, alumni, dsb. Dalam penyususnan rencana operasional sebaiknya menempuh kebijakan berimbang, dan pelaksanaan operasional di sekolah membentuk team work yang terdiri dari para wakil kepala sekolah dibantu para wakil kepala sekolah dibantu beberapa guru senior. Atas dasar hasil kerja team tersebut baru dibahas dalam forum rapat dewan guru dan nara sumber lain yang dianggap perlu, sehingga akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan rencana tersebut.
Dan di saat melakukan operasional itu harus ada pengawas untuk mengawasi jalanya aliran dana yang diterima sekolah.Pemeriksaan,suatu proses sistematika untuk memperoleh bukti secara objektif tentang pernyataan-pernyataan berbagai kejadian/kegiatan sekolah dengan tujuan untuk menetapakan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyatan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan penyampaian hasil-hasilnya kepada yang berkepentingan.
Sarana Dan Prasarana Sekolah
Dalam hal ini fasilitas dalam suatu sekolah mencangkup laboraturium, tempat olah raga dan halaman. Untuk SD fasilitas minimal yang dimiliki suatu sekolah adalah SD: ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, WC, gudang, ruang sirkulasi, dan tempat bermain/berolahraga. Dan sarana dan prasarana yang lengkap antara lain ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha. Memiliki peralatan pendidikan dan pelajaran yang lengkap. Kalau ada kantin sekolah perlu ada dokter yang selalu memantau makanan yang dijual demi kesehatan anak. Atau ada ruangan khusus yang dapat digunakan jika si kecil dan murid-murid lainnya mengalami kecelakaan kecil atau mendadak sakit di sekolah tentu ada dokter atau tenaga medis lainnya. Jika istirahat, anak memiliki halaman sekolah untuk bermain. Kamar kecil bagi guru dan murid lebih baik terpisah, banyak dan bersih.

Untuk mewujudkan dan mengatur manjemen sarana dan prasarana pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005tentang Standar nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah memberikan pelayanan secara professional di bidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Dalam melaksanaka proses manajemen sarana dan prasarana meliputi: pengadaan, pendistribusian, pemakaian dan pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan.
Pengadaan sutu kegiatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan pendidikan di sekolah, menggantikan barang barang yang rusak, hilang, dihapuskan atau sebab-sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan pergantian, dan untuk menjaga tingkat persediaan barang setiap tahun anggaran mendatang. Pendistribusian atau penyaluran perlengkapan merupakan kegiatan pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang penanggung jawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang yang membutuhkan barang itu. Prinsip efektivitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di sekolah harus ditujukan semata-mata dalam memperlancar pencapaian tujuan pendidikan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun, prinsip efisiensi berarti, pemakaian semua perlengkapan pendidikan secara hemat dan hati-hati sehingga semua perlengjkapan yang ada tidak mudah habis, rusak, atau hilang. Melalui inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan dapat tercipta administrasi barang, penghematan keuangan, dan mempermudah pemeliharaan dan pengawasan. Penghapusan ialah kegiatan yang bertujuan untuk menghapus barang-barang milik negara dari Daftar Inventaris Departemen Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hubungan masyarakat dengan sekolah
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien
Hubungan sekolah dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah (Purwanto, 1995). Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah (Mulyasa, 2011:50).
Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk; (1) memelihara kelangsungan hidup sekolahan, (2) meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan, (3) memperlancar proses belajar mengajar, (4) memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan jika diitinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri, tujuan hubungannya dengan sekolah adalah untuk; (1) memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dalam bidang mental spiritual, (2) memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat, (3) menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat, dan (4) memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.
Dengan adanya program hubungan masyarakat dalam sebuah lembaga pendidikan maka akan memberikan manfaat yang banyak sekali antara lain:
a. Terjadi saling pengertian antara sekolah dan masyarakat, sehingga masyarakat dapat membantu kebutuhan-kebutuhan sekolah.
b. Lewat kegiatan humas para siswa dapat mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya.
c. Dengan adanya kegiatan sekolah dapat melakukan promosi program dan menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya di sekolah.
Hubungan antara sekolah dengan orang tua murid dapat dilakukan melalui beberapa hal, antara lain; (1) mengadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan wali murid, (2) pihak sekolah mengunjungi orangtua, (3) pihak sekolah mengirim surat kepada orangtua, (4) melibatkan orangtua dalam merencanakan kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain.
Hubungan guru dengan masyarakat; (1) guru dapat menjadi sponsor pada kegiatan yang menguntungkan seperti kegiatan pengumpulan dana bagi masyarakat yang tertimpa musibah, (2) ikut berpartisipasi bersama masyarakat untuk mengikuti kerja bakti atau membuat perpustakaan keliling., (3) mengembangkan sebuah kegiatan di lingkungan sekolah seperti presentasi musik, drama, partisipasi dalam perlombaan olahraga, program bekerja sambil belajar dan lain-lain.
Tanpa bantuan dari masyarakat, sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Karena itu, lembaga pendidikan perlu memberikan informasi pada masyarakat tentang lembaga tersebut dengan cara yang baik. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapar memperoleh gambaran yang tepat tentang sekolah. Program tentang hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat hendaknya disusun sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan secara terus menerus yang mencakup aspek kegiatan di dalam lembaga pendidikan secara keseluruhan.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan alternatif sekolah dalam program desentralisasi dibidang pendidikan, yang ditandai oleh otonomi luas ditingkat sekolah, partisipasi masyarakat dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai dengan seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya pengalihan kewenangan pengambilan keputusan ke level sekolah, maka sekolah diharapkan lebih mampu mandiri dan mampu menentukan arah pembangunan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan dilingkungan masyarakat. Hal ini berarti bahwa sekolah harus mengembangkan prograam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. MBS berpotensi menawarkaan partisipasi peran serta masyarakat, pemerataan, efisiensi, serta manajemen yang bertumpu pada masyarakat tingkat sekolah. Dengan adanya peran serta masyarakat dituntut agar lebih memahami pendidikan, membantu, serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Peran serta orangtua dan masyarakat. Penyelenggaran pendidikan baik pemerintah maupun swasta harus berani mengambil sikap dan wawasan bahwa sekolah harus melibatkan masyarakat setempat terutama orangtua siswa dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.

Sumber :
1. http://andirizkyamelia.blogspot.com/2012/11/makalah-manajemen-berbasis-sekolah.html
2. http://binaaku.blogspot.com/2013/04/hubungan-sekolah-dengan-masyarakat.html
3. http://elnasr.wordpress.com/2012/11/01/makalah-sarana-dan-prasarana-pendidikan/ 24/10/13 5:57
4. http://mhafidzalfikri.wordpress.com/2012/12/25/manajemen-sarana-dan-prasarana/ 24/10/2013 6:04
5. http://www.sekolahdasar.net/2010/administrasi-keuangan.html