KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Purwati Handayani

 

  1. a.    Peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran

Salah satu hal positif yang dilakukan kepala sekolah di sekolah adalah peran sebagai pemimpin pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran atau kepemimpinan instruksional adalah kepemimpinan yang menekankan pada komponen-komponen yang terkait erat dengan pembelajaran, meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.
       Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi, bakat, minat dan kebutuhannya. Selain itu juga untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswa  prestasi belajar meningkat, kepuasan belajar semakin tinggi, motivasi belajar semakin tinggi, keingintahuan terwujudkan, kreativitas terpenuhi,inovasi terealisir, jiwa kewirausahaan terbentuk, dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang  pesat dan tumbuh dengan baik.

 

  1. b.   Kompetensi Pemimpin Pembelajaran

Seperangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut.

1. Merumuskan dan mengartikulasikan tujuan pembelajaran

    Secara bersama-sama, kepala sekolah dan guru merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menyepakati cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran dan melaksanakannya secara konsisten untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2. Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum

    Kepala sekolah mengarahkan dan membimbing para guru dalam mengembangkan kurikulum, mulai dari: perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah; pengembangan struktur dan muatan kurikulum; dan pembuatan kalendersekolah.

3. Membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar (PBM)

  Kepala sekolah memiliki kemampuan dalam membimbing dan memfasilitasi perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas.

4. Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya

Secara periodik, kepala sekolah melakukan evaluasi kinerja guru untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kinerja guru serta mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan keprofesian guru.

5. Membangun komunitas pembelajaran

Komunitas pembelajaran adalah suatu komunitas (warga sekolah) yang memiliki kesamaan nilai-nilai pembelajaran yang dianut sebagai sumber penggalangan konformisme sikap dan perilaku bagi warga sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran. . Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki kemampuan membangun komunitas pembelajaran di sekolahnya.

6. Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional

    Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional sekaligus. Kepemimpinan visioner adalah kepemimpinan yang mendasarkan pada visi yang ingin dicapai di masa depan,sedang kepimpinan situasional adalah kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi yang sedang dihadapi. Kombinasi dari kedua jenis kepemimpinan tersebut akan mampu memberi inspirasi dan mendorong terjadinya pembelajaran yang futuristik dan kontekstual sekaligus.

7. Melayani siswa dengan prima

    Kepala sekolah harus mampu mengajak guru dan karyawan untuk memberikan layanan pembelajaran kepada siswa secara prima dan siswa merupakan pelanggan utama sekolah yang harus menjadi fokus perhatian warga sekolah.

 

8. Melakukan perbaikan secara terus menerus

Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki kemampuan untuk     melakukan perbaikan secara terus menerus, yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan revisi terhadap perencanaan berikutnya, dan siklusnya diulang-ulang.

9. Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif

Pemimpin pembelajaran harus selalu menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif. Kepala sekolah efektif melakukan hal-hal berikut: luwes dalam pengendalian, membangun teamwork di sekolahnya, komitmen kuat terhadap pencapaian visi dan misi sekolah, menghargai guru dan karyawan atas dedikasinya, memecahkan masalah secara kolaboratif, melakukan delegasi secara efektif, dan fokus pada proses belajar mengajar (pembelajaran).

10. Membangun Warga Sekolah agar Pro-perubahan

Salah satu ciri utama seorang pemimpin pembelajaran adalah memiliki visi dan misi yang jelas dan memiliki cara-cara untuk menggerakkan warga sekolahnya untuk mencapainya. Untuk itu, dia harus mampu mengarahkan, membimbing, memotivasi, mempengaruhi, memberi insprirasi, dan mendukung prakarsa-prakarsa baru, kreativitas, inovasi, dan inisiasi dalam pengembangan pembelajaran.

11. Membangun teamwork yang kompak

Pemimpin pembelajaran harus mampu membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Pelibatan, partisipasi, dan dedikasi warga sekolah sangat diperlukan dalam rangka membangun teamwork yang dimaksud.

12. Memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah

 Memberi contoh dalam berbagai hal misalnya komitmen,disiplin, nyaman terhadap perubahan, kasih sayang terhadap siswa, semangat kerja, dsb. adalah merupakan bagian penting dari karakteristik seorang pemimpin pembelajaran. Tidak kalah penting, seorang pemimpin pembelajaran selalu memberi inspirasi kepada guru, karyawan, dan terutama siswanya untuk mempelajari dan menikmati hal-hal yang belum diketahui, dan mampu

membangun kondisi rasa keingintahuan dari seluruh warga sekolahnya.

 

  1. c.    Cara kepala sekolah melaksanakan kepemimpinan pembelajaran

Cara-cara melaksanakan kepemimpinan pembelajaran di sekolah adalah sebagai berikut:

1. Memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran

2. Melakukan sosialisasi tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran

3. Memfasilitasi pembentukan kelompok kerja guru

4. Menerapkan ekspektasi yang tinggi

5. Melakukan evaluasi kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya

6. Membentuk kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran

7. Membangun learning person dan learning school

8. Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu  untuk guru dan siswanya

9. Melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orang tua siswa

10. Melakukan koordinasi terhadap guru, siswa, dan orangtua siswa

11. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran

 

  1. d.   Dampak pelaksanaan kepemimpinan pembelajaran

Dampak pelaksanaan kepemimpinan pembelajaran oleh kepala sekolah adalah adanya peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah, membangun komunitas belajar warganya, dan mewujudkan sekolah sebagai sekolah belajar (learning school),

 

Advertisements

Sukses MBS dengan Memastikan Mutu pada Tiap Aspek di Sekolah

Heru Suprihatin, Suci Retnaningtyas Sari, Ari Dwi Prastyo, Kusrina Asih, Bara Embrio Haqi

Sumber Daya Guru

Guru sebagai tenaga pendidik merupakan pemimpin pendidikan, dia amat menentukan dalam proses pembelajaran di kelas, dan peran kepemimpinan tersebut akan tercermin dari bagaimana guru melaksanakan peran dan tugasnya, ini berarti bahwa kinerja guru merupakan faktor yang amat menentukan bagi mutu pembelajaran/pendidikan yang akan berimplikasi pada kualitas output pendidikan setelah menyelasaikan sekolah.

Kinerja Guru  pada dasarnya merupakan kinerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja guru akan sangat menentukan pada kualitas hasil pendidikan, karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pendidikan/pembelajaran di lembaga pendidikan Sekolah.

Guru yang baik memiliki karakteristik seperti berikut:

  1. Memiliki minat yang besar terhadap mata pelajaran yang diajarkan
  2. Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara cepat.
  3. Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yg diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
  4. Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberi penjelasan pada siswa.
  5. Memiliki kualifikasi memadai dalam bidangnya baik isi maupun metode mengajar.
  6. Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.

Agar profesionalisme guru dan dosen khususnya profesionalisme guru tersebut terukur, maka diperlukan beberapa Indikator Guru Professional. 7 Indikator tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki Ketrampilan mengajar yang baik. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi Pedagogik.
  2. Memiliki Wawasan yang luas. Seorang Guru hendaknya secara terus menerus mengembangkan dirinya dengan meningkatkan penguasaan pengetahuannya.
  3. Menguasai Kurikulum. Bagi guru profesional, tentu sudah berusaha untuk mencari tahu mengenai kurikulum baru ini.
  4. Menguasai media pembelajaran. Guru profesional harus mampu menguasai media pembelajaran.
  5. Penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi mutlak diperlukan oleh guru.
  6. Menjadi teladan yang baik. Guru (digugu dan ditiru) hendaknya menjadi teladan yang baik bagi peserta didiknya.
  7. Memiliki kepribadian yang baik.

Kepala Sekolah

Kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu. Kepala sekolah diangkat untuk menduduki

jabatan yang bertanggung jawab mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah masing-masing.

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai :

1.  Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah sebagai manajer

kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3. Kepala sekolah sebagai administrator

Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

4. Kepala sekolah sebagai supervisor

Kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik

5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada

6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja

Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya.

7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan

Kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

Peserta didik

Kompetensi yang harus dilakukan adalah “anak-anak sebagai pusat” sehingga kompetensi dan kemampuan siswa harus di gali sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa.

Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan siwa :

1)               Memberi Rangsangan

Pendidikan harus menggunakan metode yang sesuai sehingga merangsang minat untuk belajar dan mempelajari baik dari segi bahasa maupun mimic dari wajah dengan memvariasikan setiap metode yang dipakai. Pendidik harus mampu memberikan ransangan terhadap peserta didik untuk belajar, karena yang disajikan benar-benar mengenai atau mengarah pada diri peserta didik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya setelah peserta didik terangsang terhadap pendidikan maka pendidik tinggal memberikan motivasi secara kontinew. Oleh karena itu pendidik atau lembaga tinggal memberikan atau menyediakan sarana dan prasarana saja, sehingga peserta didik dapat menerima pengalaman yang dapat menyenangkan hati para peserta didik sehingga menjadikan peserta didik belajar semangat.

2)                Memberikan Motivasi Belajar

Motivasi adalah sebagai pendorong peserta didik yang berguna untuk menumbuhkan dan menggerakkan bakat peserta didik secara integral dalam dunia belajar, yaitu dengan diambil dari sisitem nilai hidup peserta didik dan ditujukan kepada penjelasan tugas-tugas.

Motivasi merupakan daya penggerak yang besar dalam proses belajar mengajar, motivasi yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa:

  1. Memberikan penghargaan.

Penghargaan ini bertujuan agar peserta didik selalu termotivasi untuk lebih giat belajar dan mampu bersaing dengan teman-temannya secara sehat, karena dengan itu pendidik akan mudah meningkatkan kualita pendidikan.

b. Memberikan hukuman.

Pemberian hukuman ini bersifat mendidik artinya bentuk hukuman itu sendiri berkaitan dengan pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kesalahan.

c. Mengadakan kompetisi dan lomba.

Pengadaan ini dipergunakan untuk meningkatkan prestasi peserta didik untuk membantu peserta didik dalam pembentukan mental yang tangguh selain pembentukan pengetahuan.untuk membantu proses pengajaran yang selalu dimulai dari hal-hal yang nyata bagi siswa.

Kurikulum

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.

Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendididkan Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri.

Kurikulum dalam manajemen sekolah terdapat beberapa indicator yaitu adanya peningkatan mutu pendidikan yang dapat dicapai oleh sekolah, peningkatan efisiensi dan efektifitas penglolaan dan penggunaan sumber-sumber pendidikan, peningkatan perhatian serta partisipasi warga dan masyarakat sekitar sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran, adanya kompetisi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan.

Indikator dalam sebuah kurikulum juga memerlukan bagaimana cara dalam menerapkan indikator, untuk dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah dan guru dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber yang tersedia, tanggung jawab yang jelas, dan transparan, melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan wali murid, masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

Sumber Daya Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana pendidikan adalah semua perangkat atau fasilitas atau perlengkapan dasar yang secara langsung dan tidak langsung dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan dan demi tercapainya tujuan, khususnya proses belajar mengajar.

Sarana dan prasarana pendidikan yang bermutu , antara lain: (1) bangunan sekolah yang lengkap dengan ruang kantor, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium (laboratorium Ipa dan Bahasa), ruang pertemuan, kamar mandi/WC dengan lay-out yang tertata indah, rapi, bersih, segar dan nyaman, (2) Perabot kantor, meubeler dan peralatan yang lengkap dan baik. (3) Perpustakaan dengan jumlah, jenis, judul buku yang lengkap terjaga rapi, bersih, dan dilengkapi dengan ruang baca yang nyaman. (4) Laboratorium IPA, Bahasa dan komputer, dengan fasilitas lengkap dan modern. (5) Taman halaman tertata indah, bersih dan segar, serta pagar halaman yang baik dan aman.

Masalah pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan merupakan faktor yang penting terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu fungsi dan peranan sekolah, guru, siswa dan personel sekolah memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan ini agar benar-benar menentukan keberhasilan proses belajar yang efektif.

Sedangkan motivasi belajar siswa adalah dorongan atau kemauan yang muncul dalam diri siswa untuk melakukan aktivitas belajarnya dengan giat sehingga mendapat kepuasan/ganjaran diakhir kegiatan belajarnya dan agar kualitas hasil belajar siswa juga memungkinkannya dapat diwujudkan serta tercapai tujuannya yaitu memiliki prestasi tinggi di sekolah, memiliki pengetahuan, keterampilan maupun pengalaman yang dapat dibanggakan.

Oleh karena itu dalam suatu proses belajar mengajar, sarana dan prasarana pendidikan harus ada. Tanpa adanya sarana dan prasarana pendidikan, suatu proses belajar mengajar tidak akan mencapai tujuan yang maksimal.

Dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan secara langsung dan tidak langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, maka guru harus dapat memanfaatkan segala sarana dan prasarana pendidikan yang ada dengan seoptimal mungkin dan bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan pemakaian serta perawatan sarana dan prasarana pendidikan yang ada atau ditempatkan dikelas dimana ia mengajar.

Dengan demikian, jika pemanfaatan segala sarana dan prasarana pendidikan dilakukan dengan tepat dan seoptimal mungkin, maka siswa akan memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dengan sungguh-sungguh sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien dan dapat menghasilkan prestasi belajar yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Daftar Pustaka

  1. Mariza Toendjank. (2012). Manajemen Pemeliharaan Sarana dan Prasarana di Sekolah Menengah Pertama. Diakses dari https://ms-marizadenia.blogspot.com/2012/01/manajemen-pemeliharaan-sarana-dan.html pada tanggal 22 Oktober 2013.
  2. Ninuk Dwi Wuriyani. (2010). Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. Diakses dari https://ninukdwiwuriyani.blogspot.com/2010/01/standar-sarana-dan-prasarana-pendidikan.html pada tanggal 22 Oktober 2013.
  3. http://edukasi.kompasiana.com/2013/07/02/upaya-untuk-meningkatkan-mutu-pendidikan-peningkatan-mutu-belajar-570224.html
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum
  5. http://weblog-pendidikan.blogspot.com/2009/08/indikator-keberhasilan-kurikulum.html
  6. http://yeni-fadli.blogspot.com/2012/01/peran-kepala-sekolah-memaksimalkan.html
  7. http://staff.uny.ac.id/system/files/pengabdian/nurtanio-agus-purwanto-mpd/optimalisasi-kinerja-kepala-sekolah.pdf
  8. http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pengembangan-kinerja-guru/
  9. http://kreatifpangkalpintar.wordpress.com/2011/04/25/karakteristik-kompetensi-dan-ciri-ciri-guru-yang-baik/
  10. http://rohmiganksal.blogspot.com/2013/03/7-indikator-guru-profesional.html

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH UNTUK PERUBAHAN

Mindi Dwi Septiningrum, Melinda, Anggi Alfiansyah, Dina Nur Safitri, Indah Prihartini, Pramudya Ardhana

KEPALA SEKOLAH
Kepala sekolah adalah guru yang diberikan tugas tambahan untuk memimpin suatu sekolah yang diselenggarakan proses belajar-mengajar atau tempat terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.
Kepala sekolah bertugas sebagai pemimpin adalah mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok, organisasi atau lembaga, dan menjadi juru bicara kelompok. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solution givers, process helpers, dan resource linker.
Fungsi Kepala sekolah memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang diberikan tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya roda kependidikan di sekolah. Peran utama Kepala Sekolah adalah sebagai pemimpin yang mengendalikan jalannya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiri berfungsi pada hakekatnya sebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Hal ini menentukan suatu proses yang berlangsung secara benar sesuai dengan ketentuan dari tujuan kependidikan itu sendiri. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di sekolah seorang pemimpin sebagai top manajer sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah. Kepala Sekolah tentunya memerlukan manajerial yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan, berdasarkan kompetensi kompetensi yang telah dipersyaratkannya.
Kriteria menjadi kepala sekolah
Seorang guru harus mempunyai kriteria atau kualifikasi umum untuk menjadi seorang kepala sekolah, yaitu:
• Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau non kependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi.
• Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi-tingginya 56 tahun.
• Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun menurut jenjang sekolah masing-masing. Untuk Taman Kanak-Kanak atau Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 tahun di TK/RA.
• Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non PNS disertakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang.
KURIKULUM
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Dalam sebuah manajemen sekolah terdapat kurikulum, kurikulum dibutuhkan untuk membantu mengatur dalam system pembelajaran di sekolah. kurikulum merupakan alat yang sangat penting dalam menjamin keberhasilan proses pendidikan, artinya tanpa kurikulum yang baik dan tepat akan sulit mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang dicita-citakan. Oleh karena itu kurikulum adalah semua kegiatan yang dirancang bagi terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengertian ini jauh lebih luas, karena mencakup seluruh kegiatan intern dan ekstra peserta didik, baik yang berhubungan langsung dengan mata pelajaran maupun kegiatan-kegiatan lain yang menunjang tercapainya kegiatan pendidikan. Memprogramkan kurikulum sudah harus mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang perlu dalam frame pendidikan, termasuk interaksi antara anak didik dan pendidik (learner and teacher) sesama anak didik dan antara sekolah dengan masyarakat sekitar.
Kurikulum dalam manajemen sekolah terdapat beberapa indicator yaitu adanya peningkatan mutu pendidikan yang dapat dicapai oleh sekolah, peningkatan efisiensi dan efektifitas penglolaan dan penggunaan sumber-sumber pendidikan, peningkatan perhatian serta partisipasi warga dan masyarakat sekitar sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran, adanya kompetisi yang sehat antar sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan.
Indikator dalam sebuah kurikulum juga memerlukan bagaimana cara dalam menerapkan indikator tersebut yaitu dapat dicapai oleh sekolah melalui kemandirian dan inisiatif kepala sekolah dan guru dalam mengelola dan menggunakan sumber-sumber informasi yang tersedia, tanggung jawab yang jelas, dan transparan, melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan wali murid, masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
GURU
Menurut pepatah jawa, Guru adalah digugu lan ditiru berarti bahwa guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya dan masih ada banyak pepatah yang berhubungan dengan guru lainnya walaupun intinya sama. Saat ini sosok guru sudah ikut “ter-reformasi”. Guru dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan yang selalu berkembang dan mengikuti kemajuan jaman. Sudah tidak waktunya lagi guru yang kaku, memiliki pengetahuan terbatas, dan tidak terbuka dengan kemajuan teknologi.
Guru merupakan suatu profesi,yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang pendidikan. Karena Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan pada siswa.
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Apa yang disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.
Disamping tuntutan tugas sebagai seorang guru, ada peran yang wajib dilaksanakan yaitu peran guru dalam dunia pendidikan seperti guru sebagai pendidik (nurturer), guru sebagai model atau contoh bagi anak, guru sebagai pelajar (leamer). guru sebagai komunikator, seta guru sebagai administrator.
Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.

MANAJEMEN KEUANGAN

Kata “manajemen” (management) mempunyai beberapa arti, tergantung pada konteksnya. Dalam bahasa Inggris, management berasal dari kata kerja to manage yang dalam bahasa Indonesia dapat berarti mengurus, mengatur, mengemudikan, mengendalikan, mengelola, menjalankan melaksanakan dan memimpin[1]. Ada banyak pengertian manajemen yang telah dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya adalah, Silalahi mengartikan “manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasional secara efektif dan efisien”.[2]

Dari beberapa pendapat mengenai manajemen yang di kemukakan para ahli, dapat di ambil pengertian bahwa manajemen merupakan suatu usaha mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan dan memberdayakan semua sumber daya, baik manusia maupun sumber daya lainnya. Manajemen adalah seni. Seni dalam mengorganisasi sesuatu untuk mewujudkan seuatu tujuan tertentu.

Institusi, organisasi, lembaga atau bahkan diri manusia, dan termasuk juga sekolah membutuhkan adanya manajemen. Dalam modul yang ditulis oleh Abdul Choliq, dikatakan bahwa manajemen merupakan kekuatan utama dalam organisasi apapun. Manajemen digunakan sebagai rujukan untuk mengatur atau mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan subsistem dan menghubungkannya dengan lingkungan organisasi, khususnya dalam pembinaan para anggotanya. Manajemen makin berkembang seiring dengan semakin kompleksnya tatanan kehidupan baik dalam organisasi pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta karena tuntutan perkembangan zaman, manusia terus berupaya untuk mendapatkan alat pemecahan yang tepat guna, terpadu dan komprehensif. Demikian pula agar organisasi menjadi maju diperlukan manajemen yang baik untuk menata segala bidang yang ada di dalam organisasi yang bersangkutan, pembinaan terhadap anggota organisasi sebagai sumber daya manusia, bidang sarana dan prasarana, bidang administrasi dan termasuk juga bidang keuangan.[3]

Manajemen keuangan merupakan salah satu substansi manajamen sekolah yang akan turut menentukan berjalannya kegiatan pendidikan di sekolah. Sebagaimana yang terjadi di substansi manajemen pendidikan pada umumnya, kegiatan manajemen keuangan dilakukan melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan atau pengendalian.

Beberapa kegiatan manajemen keuangan yaitu memperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan, pemanfaatan dana, pelaporan, pemeriksaan dan pertanggungjawaban.
Adapun tujuan dari manajemen keuangan adalah untuk memperoleh, dan mencari peluang sumber-sumber pendanaan bagi kegiatan sekolah, agar bisa menggunakan dana secara efektif dan tidak melanggar aturan, dan membuat laporan keuangan yang transparan dan akuntabel.

Di sinilah peran seorang manager sekolah atau Kepala Sekolah untuk mengelola keuangan dengan sebaik mungkin dengan memperdayakan sumber daya manusia yang ada di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan sekolah dapat direncanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Untuk itu tujuan manajemen keuangan adalah[4]:
1. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah
2. Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah.
3. Meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan kreativitas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana, menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

SARANA DAN PRASARANA
Sarana dan Prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan dan pemanfaatan secara optimal.
Gedung sekolah yang terawat dengan baik akan memberikan gambaran pada masyarakat tentang pelayanan pendidikan yang tertib dan teratur.Sebaliknya gedung sekolah yang tidak terawat, rusak , halaman penuh rumput yang tidak teratur akan memberikan kesan bahwa mutu pendidikan yang ada di dalamnya tidak baik.
Perlengkapan dan peralatan sekolah juga merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan efisiensi belajar dan mengajar. Guru tidak mungkin dapat mengajar dengan senang dan bersemangat dengan perlengkapan kuno dan rusak, peralatan yang kurang lengkap dsb. Oleh karena itu Pimpinan sekolah harus menaruh perhatian yang serius terhadap perlengkapan serta peralatan sekolah. Ia harus mampu mendorong guru-guru untuk bersama-sama memperhatikan masalah ini.
Manfaat sarana prasarana pendidikan di sekolah. Pendidikan berkualitas memerlukan tersedianya sarana prasarana yang memadai yakni :
• Tata ruang yang baik Pertama dimulai dari ruang tempat belajar. Ruang yang ideal memiliki tata ruang yang baik serta dilengkapi dengan pengatur udara dan sarana visual yang memadai. Tata ruang yang baik sangat menunjang pada optimalnya proses belajar mengajar.
• Pendingin ruangan atau AC. Adanya pendingin ruangan memberi kenyamanan baik bagi siswa maupun pengajar.
• Sarana Visual. Sarana visual yang modern dan up to date mempermudah proses transfer ilmu kepada siswa..
• Ruang laboraturium. Laboratorium praktikum harus dilengkapi dengan peralatan-peralatan yang memadai dan sesuai perkembangan teknologi. Laboratorium pendidikan harus mengacu pada perkembangan teknologi yang berkembang pesat seiring dengan masuknya berbagai teknologi maju disertai dengan peralatan-peralatan canggih..
• Komputer dan Multimedia. Media pengajaran harus sudah memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Staf pengajar harus sudah memanfaatkan teknologi komputer dan multimedia. Misalnya, berbagai proses dalam tubuh akan lebih jelas bila diterangkan melalui animasi serta video-video yang sekarang banyak beredar dalam bentuk CD ROM atau lainnya. Selain itu teknologi multimedia dan digital memungkinkan kita menyimpan lebih banyak data dan informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan terbaru.
• Perpustakaan
Fasilitas perpustakaan sebagai salah satu sarana dan prasarana di sekolah yang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya perpustakaan siswa mauoun pengajar akan lebih mudah dalam mencari data atau informasi dan menambah wawasan yang luas.
• Kamera CCTV. Pemasangan CCTV di sekolah merupakan bentuk upaya untuk lembaganya memaksimalkan pengawasan melekat (waskat) terhadap semua komponen yang ada di sekolah. Tujuannya, agar guru dan pegawai makin meningkatkan kinerjanya. Sementara siswa diharapkan bisa belajar lebih baik.
Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah/ sekolah yang bersih, rapi, indah, sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun untuk murid dan masyarakat yang berada di sekolah. Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah/ sekolah yang bersih, rapi, indah, sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun untuk murid dan masyarakat yang berada di sekolah
SISWA
Untuk menjadi sekolah yang bermutu, sekolah harus mempunyai sumber daya manusia yang bermutu, salah satunya siswa. Siswa mempunyai peran penting dalam pengembangan mutu sekolah. Siswa yang mempunyai mutu yang unggul maka akan meningkatkan kualitas sekolah tersebut. Banyak karakteristik siswa yang bisa di gunakan sebagai acuan untuk menunjukan bahwa sekolah itu berkualitas. Salah satu ciri siswa yang berprestasi adalah mampu mengembangkan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotorik.
Dalam ranah kognitif berhubungan erat dengan kemampuan berfikir, termasuk di dalammnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensistesis dan kemampuan mengevaluasi. Secara umum siswa dituntut untuk memiliki enam (6) kemampuan di antaranya pengetahuan, pemahaman, penerapan, analitis, sintesis dan evaluasi. Setiap siswa harus memiliki kemampuan tersebut karena sangat berperan penting dalam perkembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Hal tersebut dapat di capai dalam proses kegiatan belajar yang terjadi dalam suatu satuan pendidikan.
Dalam ranah psikomotorik menurut Singer (1972) mata pelajaran yang termasuk kelompok mata pelajaran psikomotor adalah mata ajar yang lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi – reaksi fisik. Sedangkan menurut Mager (T.Th) berpendapat bahwa mata ajar yang termasuk dalam kelompok mata ajar psikomorik adalah mata ajar yang mencakup pada tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau kumpulan tugas tertentu. Seorang siswa yang mempunyai kemampuan psikomotorik biasanya mempunyai perilaku untuk melakukan; 1. Gerak refleks, adalah respon motor (gerak) tanpa sadar yang muncul ketika bayi lahir. 2. Gerak dasar, adalah gerakan yang mengarah pada keterampilan kompleks yang khusus. 3. Kemampuan perceptual, kombinasi kemampuan kognitif dan motor atau gerak. 4. Gerakan fisik, adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil. 5. Gerakan terampil, adalah gerakan yang memerlukan pembelajaran, seperti keterampilan olahraga.
Ranah Afektif, Life Skil merupakan bagian dari kompetensi lulusan sebagai hasil proses pembelajaran. Pophan (1995), mengatakan bahwa ranah afektif menentukan keberhasilan seseorang. Artinya ranah afektif sangat menentukan keberhasilan seorang siswa untuk mencapai ketuntasan dalam proses pembelajaran.
Taksonomi ini lebih dikenal pada ranah yang berorientasi pada rasa atau kesadaran. Banyak dikalangan para ahli menginterpretasikan rana afektif menjadi sikap, nilai sikap yang diartikan tentu akan berpengaruh terhadap penyusunan tujuan instruksional yang akan ditetapkan dalam tujuan pembelajaran.
Karakteristik ranah afektif yang terpenting diantaranya sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral.
SUMBER
1. http://may-alfa.blogspot.com/2012/11/metode-pembelajaran-melalui-aspek.html
2. http://www.masbied.com/2012/08/03/mengembangkan-kemampuan-kognitif-afektif-psikomotorik-siswa/
3. http://elearning.milaulas.com/mod/page/view.php?id=23
4. (http://mursalinpintar.blogspot.com/2010/03/pengertian-manajemen-sarana-dan.html
5. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/6%20Sarana%20Pendidikan.pdf. lihat
6. http://www.docstoc.com/docs/27546443/PEDOMAN-ADMINISTRASI-BAGI-LEMBAGA-PENDIDIKAN-DI-SEKOLAH- MENENGAH-ATAS

7. http://www.scribd.com/doc/4994224/pengertian-manajemen
8. http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_154.html
9. http://gurueksak.blogspot.com/2011/03/tugas-guru.html
10. http://id.wikipedia.org/wiki/Kepala_sekolah
11. http://www.m-edukasi.web.id/2013/05/bagaimana-peran-kepala-sekolah-di-dunia.html
12. http://weblog-pendidikan.blogspot.com/2009/08/indikator-keberhasilan-kurikulum.html
13. http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2013/06/pengertian-kurikulum- pendidikan.html#.Umo3dHCw0z4
14. http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-kurikulum.html
15. http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum

PENGINTEGRASIAN SUMBER DAYA SEKOLAH

Hendri Setiawan, Santi Via Pradaniar, Khaerul Anwar, Ifti Nur Faizah

SUMBER DAYA KURIKULUM

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan/kompetensi, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaran kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang koorperatif, komprehensif, sistematik dan sistemik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Kurikulum harus dikembangkan sesuai konteks manajemen berbasis sekolah (MBS) dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).Lingkup manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kegiatan kurikulum. Ada 5 prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum, yaitu : Produktivitas, Demokratisasi, Koorperatif, Efektivitas, Mengaruh visi, misi dan tujuan prinsip-prinsip tersebut juga perlu mempertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun departemen pendidikan nasional. Keterlibatan masyarakat dalam manajemen kurikulum dimaksudkan agar dapat memahami, membantu dan mengontrol implemenntasi kurikulum, sehingga lembaga pendidikan/sekolah selain dituntut koorperatif juga mampu mandiri dalam mengidentifikasi kebutuhan kurikulum, melaksanakan pembelajaran, menilai kurikulum, mengendalikan, serta melaporkan sumber dan hasil kurikulum baik kepada masyarakat maupun pada pemerintah. Fungsi-fungsi manajemen kurikulum dapat dikemukakan sebagai berikut :   Mengelola perancangan (Desain) kurikulum pembelajaran, Mengelola implementasi kurikulum pembelajaran, Mengelola pelaksanaan evaluasi kurikulum/pembelajaran, Mengelola perumusan penetapan kriteria dan pelaksanaan kurikulum kelas/ kelulusan, Mengelola pengembangan bahan ajar, media dan sumber belajar, Mengelola pengembangan ekstrakurikuler dan ko-kurikuler, Mengelola penarapan uji coba atau merintis pembelajaran yang dicenangkan pemerintah pusat. Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa/peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai sebagaimana perubahan-perubahan telah terjadi pula pada siswa. Kualitas kemampuan setiap individu perlu ditingkatkan agar dapat melakukan tugas-tugas dan perannya secara efektif dan efisien. Tujuan kurikulum merupakan penjabaran tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan kelembagaan pada khususnya yang dirumuskan secara bertahap.Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan tanaga kerja (sesuai dengan pekerjaannya) yang mencakup pengetahuan (kognitif), sikap (apektif), dan keterampilan (skill) yang merupakan hasil dari tidakan dan pengalaman eksploratoris/lapangan. Setiap manusia memiliki potensi, punya kemampuan dan kekuatan untuk berkembang. Segala potensi yang dimilikinya itu sangat ditentukan dalam proses pengembangan tingkah laku. Oleh karena itulah kurikulum didesain untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa. Guru harus mampu membangun suasana yang hangat dan akrab yang memungkinkan siswa dapat mencurahkan segala perasaannya dengan penuh kepercayaan. Selain itu guru juga harus berperan sebagai sumber, yang mampu memberikan bahan pelajaran yang menarik serta mampu memperlancar proses pembelajaran.

SUMBER DAYA KEUANGAN

Manajemen keuangan adalah kegiatan sekolah untuk merencanakan, memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan keuangan sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Manajemen keuangan perlu dilakukan karena sumber pembiayaan sekolah biasanya terbatas. Karena itu, sekolah harus mampu meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan bahwa program sekolah memerlukan tambahan biaya. Cara untuk mendapatkan tambahan biaya keuangan sekolah di antaranyamenyusun proposal untuk setiap program kegiatan, menentukan keperluan dana untuk setiap kegiatan, mencatat atau mendaftarkan sumber-sumber pembiayaan sekolah, menyusun Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS), menggunakan format penyusunan RAPBS yang ada, mengajukan proposal dan RAPBS ke instansi terkait misalnya komite sekolah, badan peranserta masyarakat, alumni atau donator lainnya.Dalam menggunakan keuangan sekolah, maka sekolah (kepala sekolah dan guru-guru) antara memilih bendahara, pemegang buku, dan pengawas yang bertanggung jawab,menentukan mekanisme pengeluaran keuangan sekolah misalnya sebelum mengeluarkan uang harus mendapat persetujuan pengawas dan kepala sekolah,menggunakan keuangan sekolah sesuai dengan RAPBS, danmencatat secara tertib dan cermat pendapatan dan pengeluaran sekolah

 

SUMBER DAYA MANUSIA

Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ciri-ciri manajemen sumber daya manusia yaitu mengetahui yang diharapkan darinya, yang pertama-tama menunjukkan seorang manajer adalah manajer profesional atau bukan adalah apakah ia tahu yang diharapkan oleh perusahaan darinya. Seorang manajer sumber daya manusia atau manajer apapun yang merasa dirinya termasuk kategori profesional akan selalu melakukan hal yang sama sebelum menerima sebuah tawaran posisi. Ini adalah salah satu ciri khusus yang membedakan seorang manajer profesional dan yang bukan. Lalu memiliki kemampuan yang “mumpuni” yakni tentunya harus mencapai tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang termasuk kelompok amatir atau yang biasa-biasa saja. Seorang petinju profesional lebih tahu banyak tentang strategi bertinju dan berlaga untuk sepuluh ronde. Seorang petinju amatir hanya berlaga untuk tiga ronde. Dengan kata lain, seorang profesional harus mempunyai kemampuan yang “mumpuni” ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya dengan kemampuan, yaitu sikap mental yang akan dijelaskan kemudian. Setelah itu mengetahui “harga-nya” sendiri. Seorang manajer profesional sadar betul bahwa “ia” pengetahuannya, dan keahliannya mempunyai “harga” tertentu sesuai dengan harga pasarannya. Seorang manajer profesional akan mencapai suatu tingkatan dimana ia tidak lagi dalam posisi melamar pekerjaan tetapi ia yang akan dilamar. Manajer profesional yang mencapai tingkatan ini akan mengetahui “harga” yang melekat padanya. Ia tidak lagi akan pusing dengan job grade (golongan atau kelas) dari jabatan yang didudukinya tapi yang penting untuknya adalah apakah “rupiah-nya” kompetitif atau tidak. Di Indonesia sudah banyak yang mencapai tingkatan seperti itu.

SUMBER DAYA SARANA PRASARANA

Salah satu sumber daya yang penting dalam suatu sekolah adalah sumber daya sarana prasarana. Kebutuhan sarana prasarana merupakan kegiatan pengadaan, pemeliharaan, dan penghapusan alat yang digunakan untuk menunjang pencapaian tujuan yang ditetapkan. Sarana dan prasarana itu saling berkaitan satu sama lain walaupun masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda. Prasarana pendidikan adalah fasilitas yang mendukung keterlaksanaan kegiatan pendidikan seperti gedung dan benda yang tidak dapat dipindahkan lainnya. Sedangkan sarana pendidikan adalah alat yang secara langsung digunakan dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat digolongkan menjadi alat pelajaran, alat peraga, dan media pengajaran. Ciri bermutu dari sarana prasarana itu jika sarana prasarana lengkap, sesuai dengan keperluan sekolah, dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Di samping itu, perlu adanya manajemen sumber daya sarana prasarana sekolah yang bertugas merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan mengevaluasi kebutuhan dan penggunaan sarana prasarana agar dapat memberikan sumbangan secara optimal pada kegiatan belajar mengajar. Berbagai cara dapat ditempuh untuk menjadikan suatu sarana prasarana memiliki ciri bermutu, di antaranya yang berhubungan dengan prasarana dengan menetapkan kebutuhan prasarana dan prioritasnya, selain itu mencatat prasarana sekolah secara tertib dan akurat. Cara merencanakan kebutuhan sarana pendidikan yang berhubungan dengan alat pelajaran yaitu merencanakan kebutuhan buku, alat praktik, bahan praktik, dan alat laboratorium berdasar kurikulum yang berlaku dengan memperhatikan jumlah siswa, jika berhubungan dengan alat peraga dan media pengajaran  yaitu dengan menyusun kebutuhan alat peraga dan media pengajaran  menurut jenisnya dengan memperhatikan jumlah siswa. Selanjutnya cara agar sarana prasarana itu bermanfaat sesuai fungsinya dengan menyusun jadwal pemanfaatannya sesuai peruntukan masing-masing sarana prasarana dan menunjuk petugas tata usaha sekolah sebagai penanggung jawab keamanan dan kebersihan sarana prasarana. Dengan demikian maka sarana prasarana dapat bermutu dan menunjang kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sumber referensi :

Manajemen Berbasis Sekolah untuk Sekolah Dasar, Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2001

PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Rischa Ardiyanti, Rakhmat Widodo, Yuniza Widyarti, Endah Yuliawati

Pengantar
Orang tua dalam memilih pendidikan untuk anaknya pasti akan mengutamakan kualitas sekolah tersebut. Sekolah dikatakan sebagai sekolah yang berkualitas baik dapat dilihat dalam beberapa aspek. Aspek – aspek tersebut diantaranya pendidikan dan pengalaman guru yang mengajar, kurikulum yang diberikan sudah mengikuti standar kurikulum yang diberikan pemerintah, lokasi sekolah itu berada, keadaan bagunan yang yaman (bagus,bersih, terang) dan fasilitas yang ada di dalam sekolah tersebut. Prasarana dan sarana pendidikan adalah salah satu sumber yang menjadi ukuran mutu sekolah dan perlu ditingkatkan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih. Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Guru
Guru adalah sebuah profesi yang sangat membanggakan, karena guru dapat mencerdaskan anak-anak bangsa. Tanpa guru, bangsa ini tidak akan maju. Guru adalah sebuah jabatan atau profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Pekerjaan sebagai guru ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang tanpa mempunyai keahlian sebagai guru. Menjadi seorang guru dibutuhkan syarat-syarat khusus. Apa lagi jika menjadi seorang guru yang profesional maka harus menguasai seluk beluk pendidikan serta mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang harus dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.
Peranan dan kedudukan guru demi meningkatkan mutu dan kualitas anak didik harus diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Guru bukan hanya sebatas pegawai yang hanya melakukan tugas tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap disiplin ilmu. Guru sebagai pengelola kegiatan proses belajar mengajar dimana dalam hal ini guru bertugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa agar bisa mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini guru berperan dan bertugas sebagai pengelola proses belajar mengajar. Guru berperan menjadi pengganti orang tua di sekolah. Dalam hal ini guru harus bisa menggantikan orang tua siswa jika siswa sedang berada di sekolah. Guru adalah sebuah cermin profesi yang mulia karena itu sering banyak orang memanggil “pahlawan tanpa tanda jasa”. Dengan kesungguhan seorang guru dalam mendidik muridnya hingga suatu saat murid tersebut sukses. Dalam dunia pendidikan khususnya bagi seorang guru adalah cita-cita idaman. Untuk menyikapi cita-cita ini yakni melihat anak didiknya sukses mungkin akan terbesit dalam pemikiran bagaimana cara seorang guru mampu melahirkan anak didik yang nantinya sukses.
Menjadi seorang guru, harus memiliki jiwa anak-anak, karena untuk memudahkan komunikasi antar guru dan siswa. Guru juga harus bisa memberikan contoh yang baik untuk siswanya supaya dapat dicontoh dan diterapkan dalam diri siswa. Untuk mencerdaskan anak bangsa, guru harus mempunyai sifat “ngemong”, karena guru, di sekolah yang menjadi orang tua siswa, yang mengawasi anak-anak tersebut. Guru harus bias “ngemong”.
Keuangan
Pembiayaan pendidikan hendaknya dilakukan secara efisien. Makin efisien suatu sitem pendidikan, semakin kecil dana yang diperlukan untuk pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. Untuk itu, bila sistem keuangan sekolah dikelola secara baik akan meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan. Artinya, dengan anggaran yang tersedia, dapat mencapai tujuan-tujuan pendidikan secara produktif, efektif, efisien, dan relevan antara kebutuhan di bidang pendidikan dengan pembangunan masyarakat.
Untuk mencapai hal-hal seperti di atas maka diperlukan adanya proses merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan melaporkan kegiatan bidang keuangan agar tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam menyusun rencana keuangan sekolah seperti,perencanaan harus realistis,perlunya koordinasi dalam perencanaan,perencanaan harus berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan intuisi,perencanaan harus fleksible (luwes),perencanaan yang didasrkan penelitian,perencanaan akan menghindari under dan over planning.
Dalam hal ini Kepala sekolah dituntut untuk dapat mengorganisasikan dengan menetapkan orang-orang yang akan melaksanakan tugas pekerjaan, membagi tugas, dan menetapkan kedudukan, serta hubungan kerja satu dengan lainnya agar tidak terjadi benturan dan kesimpangsiuran satu dengan lainnya. Untuk melaksanakan tugas tersebut staf yang dipilih untuk untuk membantu pengelolaan keuangan sekolah dituntut untuk memahami tugasnya,paham pembukuan, memahami peraturan yang berlaku dalam penyelenggaraan administrasi keuangan, layak dan mempunyai dedikasi tinggi terhadap pimpinan dan tugas, memahami bahwa bekerja di bidang keuangan adalah pelayanan,dan kurang tanggapnya bagian keuangan akan dapat mempengaruhi kelancaran pencapaian tujuan. Selanjutnya yaitu pengawasan.Pengawasan adalah seuatu usaha untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan penyimpangan dari rencana instruksi, arahan/ saran dari pimpinan. Dengan pengawasan (controlling) diharapkan penyimpangan yang mungkin terjadi dapat ditekan sehingga kerugian dapat dihindari. Untuk itu, Kepala sekolah dituntut untuk memahami secara garis besar pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana administrasi keuangan, dan paham peraturan-peraturan pemerintah yang mengatur tentang penggunaan dan pertanggungjawaban serta pengadministrasian uang negara.
Anggaran belanja adalah suatu pernyataan yang terurai tentang sumber-sumber keuangan yang perlu untuk melaksanakan berbagai program sekolah selama periode satu tahun fiskal. Proses pembuatan anggaran pendidikan melibatkan penentuan pengeluaran maupun pendapatan yang bertalian dengan keseluruhan operasional sekolah. Sumber dana untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah dari pemerintah berupa anggaran Rutin (DIK),anggaran Operasional, pembangunan dan perawatan (OPF),dana Penunjang Pendidikan (DPP),juga dari orang tua siswa,dan dari masyarakat, misalnya sumbangan perusahaan industri, lembaga sosial donatur, tokoh masyarakat, alumni, dsb. Dalam penyususnan rencana operasional sebaiknya menempuh kebijakan berimbang, dan pelaksanaan operasional di sekolah membentuk team work yang terdiri dari para wakil kepala sekolah dibantu para wakil kepala sekolah dibantu beberapa guru senior. Atas dasar hasil kerja team tersebut baru dibahas dalam forum rapat dewan guru dan nara sumber lain yang dianggap perlu, sehingga akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan rencana tersebut.
Dan di saat melakukan operasional itu harus ada pengawas untuk mengawasi jalanya aliran dana yang diterima sekolah.Pemeriksaan,suatu proses sistematika untuk memperoleh bukti secara objektif tentang pernyataan-pernyataan berbagai kejadian/kegiatan sekolah dengan tujuan untuk menetapakan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyatan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, dan penyampaian hasil-hasilnya kepada yang berkepentingan.
Sarana Dan Prasarana Sekolah
Dalam hal ini fasilitas dalam suatu sekolah mencangkup laboraturium, tempat olah raga dan halaman. Untuk SD fasilitas minimal yang dimiliki suatu sekolah adalah SD: ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, WC, gudang, ruang sirkulasi, dan tempat bermain/berolahraga. Dan sarana dan prasarana yang lengkap antara lain ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha. Memiliki peralatan pendidikan dan pelajaran yang lengkap. Kalau ada kantin sekolah perlu ada dokter yang selalu memantau makanan yang dijual demi kesehatan anak. Atau ada ruangan khusus yang dapat digunakan jika si kecil dan murid-murid lainnya mengalami kecelakaan kecil atau mendadak sakit di sekolah tentu ada dokter atau tenaga medis lainnya. Jika istirahat, anak memiliki halaman sekolah untuk bermain. Kamar kecil bagi guru dan murid lebih baik terpisah, banyak dan bersih.

Untuk mewujudkan dan mengatur manjemen sarana dan prasarana pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005tentang Standar nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah memberikan pelayanan secara professional di bidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Dalam melaksanaka proses manajemen sarana dan prasarana meliputi: pengadaan, pendistribusian, pemakaian dan pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan.
Pengadaan sutu kegiatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan pendidikan di sekolah, menggantikan barang barang yang rusak, hilang, dihapuskan atau sebab-sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan pergantian, dan untuk menjaga tingkat persediaan barang setiap tahun anggaran mendatang. Pendistribusian atau penyaluran perlengkapan merupakan kegiatan pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang penanggung jawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang yang membutuhkan barang itu. Prinsip efektivitas berarti semua pemakaian perlengkapan pendidikan di sekolah harus ditujukan semata-mata dalam memperlancar pencapaian tujuan pendidikan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun, prinsip efisiensi berarti, pemakaian semua perlengkapan pendidikan secara hemat dan hati-hati sehingga semua perlengjkapan yang ada tidak mudah habis, rusak, atau hilang. Melalui inventarisasi perlengkapan pendidikan diharapkan dapat tercipta administrasi barang, penghematan keuangan, dan mempermudah pemeliharaan dan pengawasan. Penghapusan ialah kegiatan yang bertujuan untuk menghapus barang-barang milik negara dari Daftar Inventaris Departemen Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hubungan masyarakat dengan sekolah
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien
Hubungan sekolah dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta mendorong minat dan kerjasama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah (Purwanto, 1995). Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah (Mulyasa, 2011:50).
Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk; (1) memelihara kelangsungan hidup sekolahan, (2) meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan, (3) memperlancar proses belajar mengajar, (4) memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan jika diitinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri, tujuan hubungannya dengan sekolah adalah untuk; (1) memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dalam bidang mental spiritual, (2) memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat, (3) menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat, dan (4) memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.
Dengan adanya program hubungan masyarakat dalam sebuah lembaga pendidikan maka akan memberikan manfaat yang banyak sekali antara lain:
a. Terjadi saling pengertian antara sekolah dan masyarakat, sehingga masyarakat dapat membantu kebutuhan-kebutuhan sekolah.
b. Lewat kegiatan humas para siswa dapat mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya.
c. Dengan adanya kegiatan sekolah dapat melakukan promosi program dan menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya di sekolah.
Hubungan antara sekolah dengan orang tua murid dapat dilakukan melalui beberapa hal, antara lain; (1) mengadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan wali murid, (2) pihak sekolah mengunjungi orangtua, (3) pihak sekolah mengirim surat kepada orangtua, (4) melibatkan orangtua dalam merencanakan kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain.
Hubungan guru dengan masyarakat; (1) guru dapat menjadi sponsor pada kegiatan yang menguntungkan seperti kegiatan pengumpulan dana bagi masyarakat yang tertimpa musibah, (2) ikut berpartisipasi bersama masyarakat untuk mengikuti kerja bakti atau membuat perpustakaan keliling., (3) mengembangkan sebuah kegiatan di lingkungan sekolah seperti presentasi musik, drama, partisipasi dalam perlombaan olahraga, program bekerja sambil belajar dan lain-lain.
Tanpa bantuan dari masyarakat, sebuah lembaga pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik dan tanpa adanya program yang baik maka sebuah lembaga pendidikan akan gagal mencapai tujuannya. Karena itu, lembaga pendidikan perlu memberikan informasi pada masyarakat tentang lembaga tersebut dengan cara yang baik. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapar memperoleh gambaran yang tepat tentang sekolah. Program tentang hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat hendaknya disusun sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan secara terus menerus yang mencakup aspek kegiatan di dalam lembaga pendidikan secara keseluruhan.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan alternatif sekolah dalam program desentralisasi dibidang pendidikan, yang ditandai oleh otonomi luas ditingkat sekolah, partisipasi masyarakat dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai dengan seperangkat tanggung jawab. Dengan adanya pengalihan kewenangan pengambilan keputusan ke level sekolah, maka sekolah diharapkan lebih mampu mandiri dan mampu menentukan arah pembangunan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan dilingkungan masyarakat. Hal ini berarti bahwa sekolah harus mengembangkan prograam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. MBS berpotensi menawarkaan partisipasi peran serta masyarakat, pemerataan, efisiensi, serta manajemen yang bertumpu pada masyarakat tingkat sekolah. Dengan adanya peran serta masyarakat dituntut agar lebih memahami pendidikan, membantu, serta mengontrol pengelolaan pendidikan. Peran serta orangtua dan masyarakat. Penyelenggaran pendidikan baik pemerintah maupun swasta harus berani mengambil sikap dan wawasan bahwa sekolah harus melibatkan masyarakat setempat terutama orangtua siswa dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.

Sumber :
1. http://andirizkyamelia.blogspot.com/2012/11/makalah-manajemen-berbasis-sekolah.html
2. http://binaaku.blogspot.com/2013/04/hubungan-sekolah-dengan-masyarakat.html
3. http://elnasr.wordpress.com/2012/11/01/makalah-sarana-dan-prasarana-pendidikan/ 24/10/13 5:57
4. http://mhafidzalfikri.wordpress.com/2012/12/25/manajemen-sarana-dan-prasarana/ 24/10/2013 6:04
5. http://www.sekolahdasar.net/2010/administrasi-keuangan.html