Controlling dalam Kepemimpinan Sekolah dengan Metode Spionase

Controlling dalam Kepemimpinan Sekolah dengan Metode Spionase
Muhaimin, 12746024; Kusmarmi, 12746015; Fahmi Jaguna, 12746010
Manajemen Pendidikan S2, Universitas Ahmad Dahlan

Pengantar
Controling merupakan kegiatan yang di lakukan oleh kepala sekolah dalam rangka mengontrol program kerja dan kinerja apakah sudah sesuai dengan planning yang telah ditetapkan. Cara kerja controlling dapat dilakukan dengan melihat program kerja wakasek (Kurikulum, Kesiswaan, Kehumasan, Sarpras) maupun dengan membuat ceklist.
Beberapa contoh kegiatan controling antara lain adalah dengan mereview pelaksanaan perbidang apa sudah terlaksana atau belum. Pada program wks Kurikulum antara lain dilihat pada administrasi guru, pelaksanaan KBM, Supervisi KBM, dan Evaluasi dan pengayaan. Pada wakasek Kesiswaan dilihat pada Urusan mutasi siswa, Ketertiban siswa, dan Prestasi akademik dan nonakademik. Pada wakasek Kehumasan dapat dilakukan pada tingkat harmonisasi warga sekolah, Kegiatan sosial ke luar dan ke dalam, dan Menjalin kerjasama dengan lembaga di luar sekolah. Untuk wakasek Sarpras dengan melihat tingkat implementasi proses Membangun sarana pendidikan yang memadai untuk siswa, atau Memperbaiki fasilitas sekolah penunjang KBM.
Metode spionase untuk supervisi kinerja guru merupakan suatu teknik yang cukup handal untuk melakukan controlling aktivitas sekolah. Kepala sekolah menemukan fakta di kelas bahwa nilai ulangan harian siswa banyak yang belum melampaui KKM, bahkan ada yang belum tuntas, selain itu ada rumor yang mengatakan anak yang nilainya belum tuntas itu berasal dari kelas yang kurang kondusif, terkenal dengan kelas yang paling bandel, dll. Dari kondisi tersebut maka kepala sekolah berinisiatif melakukan supervisi secara diam-diam untuk mencari dan membuktikan kebenarannya.
Mekanisme
Kepala sekolah menggunakan berbagai cara, diantaranya adalah:
1. Untuk mengetahui kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran maka kepala sekolah dapat menggunakan strategi supervisi diam-diam dengan nama “spionase”
2. Kepala sekolah membuat jadwal supervisi sesuai dengan waktu luang yang dimiliki
3. Setiap jadwal yang telah ditentukan kepala sekolah secara diam-diam mencari tempat yang strategis dan tidak diketahui oleh guru target, sehingga pembelajaran berjalan secara alami seperti biasanya, atau tidak dibuat-buat oleh guru target. Hal ini dilakukan dibeberapa kelas yang diajar oleh guru target.
4. Kepala sekolah membuat catatan dari hasil temuan
5. Dari beberapa temuan terhadap guru target, kepala sekolah menyimpulkan dan kemudian memanggil guru target untuk diajak sharing tentang hasil temuan program supervisi spionase
Komunikasi
Cara kepala sekolah mengkomunikasikan hasil temuan
1. Guru target dipanggil ke ruang kepala sekolah
2. Kepala sekolah menanyakan kabar pribadi maupun kabar pekerjaannya
3. Guru target diberi kesempatan untuk mengutarakan berbagai kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran
4. Kepala sekolah menanggapai secara bijaksana dengan cara berdiskusi
5. Setelah kepala sekolah dan guru target menemukan titik temu, guru target bersedia mengubah gaya dan metode pembelajarannya
6. Dari akhir diskusi ternyata didapatkan kesimpulan bahwa guru target itu gaptek, sehingga tidak mampu menggunakan fasilitas IT
Penutup
Teknik ini merupakan teknik yang efektif untuk tetap menjaga kehormatan rekan guru dan pihak lain yang sedang dipantau. Keharmonisan kerja di lingkungan sekolah sangat penting agar dapat terus tumbuh semangat kebersamaan dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah.