Peran Kepala Sekolah dalam Memberi Contoh Keteladanan

Peran Kepala Sekolah dalam Memberi Contoh Keteladanan

Arista Dwi Kusumawati, 12746017; Suwartini, 12746026

 

Apa itu memberi contoh bagi kepala sekolah ?

Sebagai pemimpin kepala sekolah harus mampu menjadi pemimpin yang dapat di contoh perilaku dan tindakannya. Pemimpin menjadi transeter atau intertainmen di dalam pendidikan. Jadi segala sesuatu tindakan dari pemimpin atau kepala sekolah harus dapat di pertanggung jawabkan. Karena, kepala sekolah lah yang menjadi contoh utama di sekolah. Apabila sekolah memiliki manajemen yang bagus, maka apa yang dikatakan kepala sekolah dapat menjadi contoh bagi bawahaan. Pemimpin harus mempunyai dan memiliki berbagai macam syarat yang dapat dikatakann menjadi pemimpin. Jadi yang dimaksud dengan memberi contoh adalah dapat menjadi orang yang terdepan, tauladan dan segala perilakunya yang positif dapat ditiru oleh bawahan serta lingkungan kerja. Dalam hal ini guru, siswa dan staf.

Apa contoh nyata tindakan memberi contoh?

     Memberi contoh atau melakukan sebelum orang bawahannya melakukan, tidak hanya sekedar berbentuk tulisan namun harus diwujudkan. Jadi sebelum seorang dapat melakukan maka kepala sekolah harus selalu memiliki ide bagus untuk diwujudkan. Seorang pemimpin akan bisa disegani oleh bawahan apabila perilakunya dapat kita tauladani. Hal ini dengan sendirinya bawahan akan segan dan  menjadikan kepala sekolah contoh baik untuk ditiru. Meskipun hal ini sulit dan butuh waktu untuk melakukannya, akan tetapi kepala sekolah tetap harus memberi contoh positif untuk ditiru bawahan. Baik dalam prilaku, tutur kata maupun pribadinya. Di dalam sekolah, kepala sekolah ibarat intertainmen atau artisnya. Sehingga segala yang dilakukan akan menjadi pembicaraan atau dijadikan contoh. Disinilah kepala sekolah harus memiliki sifat-sifat yang yang layak dijadikan contoh dan tidak sembarangan dalam mengambil keputusan.

Tindakan apa yang dilakukan dalam memberi contoh?

            Kepala sekolah harus mampu perfeksional atau sempurna dan diharapkan mampu cekatan dalam pengambilan keputusan. Selalu ceria dan profesional akan dijadikan contoh dan membangun kenyamanan sekolah. Kepala sekolah yang ekstropet adalah kepala sekolah yang sering dijadikan idola dan contoh bagi bawahan.

–          Misal dengan datang setiap pagi sebelum siswa atau guru datang, maka apabila ada guru yang terlambat, besokknya akan memperbaiki diri karena segan dengan kepala sekolah.

–          Membantu staf kebersihan memungut sampah yang berserakan di sekolah, dari contoh seperti ini maka anggota atau penghuni sekolah perlahan akan mengikuti sikap kepala sekolah tersebut.

–          Selalu keliling dari kelas ke kelas dan memastikan proses KBM berjalan lancar, apabila ada kelas kosong kepala sekolah tidak marah, tetapi mengajak siswa masuk kelas dan bercerita banyak hal sambil menunggu guru datang.

–          Kepala sekolah tidak membatasi siswa, guru, kepala sekolah untuk saling berkomunikasi sebagai keluarga atau teman, dengan syarat kewibaan dan sopan satun harus tetap ada.

Dan masih banyak contoh lain yang dapat dilakukan kepala sekolah sebagai contoh bagi bawahan dan pengghuni sekolah. Dengan adanya sikap dan contoh seperti itu maka sekolah akan berjalan lebih baik dan rasa kekeluargaan akan tercipta dengan sndirinya. Apabila semua berjalan lancar maka sekolah ini akan menjadi contoh, tidak hanya dalam lingkungan sekolah tersebut tetapi dapat ditiru oleh sekolah lain juga.

 

Kepala Sekolah sebagai Motor Penggerak

            Kepemimpinan kepala sekolah merupakan motor atau daya penggerak daripada sumber-sumber, dan alat yang tersedia bagi suatu kelompok organisasi. Pemimpin harus mempunyai sifat yang baik yang dapat dijadikan contoh dalam lingkungan sekolah. Salah satunya harus rendah hati atau sederhana, sabar atau mempunyai kesetabilan emosi, suka menolong, percaya diri, jujur dan ahli dalam jabatannya. Kepala sekolah harus menjadi teladan atau contoh bagi karyawannya mengenai perilaku yang baik, juga dalam hal  kedisiplinan atau dalam bidang akademik. Sebagai contoh dalam hal kedisiplinan kepala sekolah dapat menyampaikan peraturan. Dalam kedisplinan maka kepala sekolah juga dapat melakukan kedisplinan itu, dalam hal akademik. Sebagai contoh setelah melakukan pengecekan atau evaluasi dalam administrasi pembelajaran. Setelah itu dilakukan evaluasi dalam proses pembelajaran. Apabila ada seorang guru ada yang kurang berhasil dalam melakukan proses pembelajaran, dapat dilihat pada hasil penilaian yang dicapai oleh anak didiknya. Kepala sekolah memberi contoh pada saat pembuatan rencana pembelajaran lengkap dengan metode dan media yang digunakan sesuai keadaan siswa dan sarana prasarana yang ada disekolah tersebut.

     Akan tetapi fakta yang terjadi dilapangan sebagian besar kepala sekolah tidak bisa melaksanakan secara maksimal. Hal ini bisa dipengaruhi oleh kemauan dari dalam diri kepala sekolah tersebut atau karena waktu yang memang belum direncanakan. Seharusnya kepala sekolah dapat menerapkan hal itu. Jika pengawas dapat benar-benar melakukan sesuai dengan tugasnya sehingga kepala sekolah dapat melaksanakannya.

Best Practices Kepala Sekolah dalam Memberi Contoh

            Misal sekolah swasta kekurangan dana oprasional sekolah maka kepala sekolah harus memiliki ide dan solusi dalam masyalah tersebut. Hal yang dapat dilakukan yaitu meminta bantuan dari departemen-departemen pendidikan. Akan tetapi, hal ini bukan termasuk ke dalam best practices memberi contoh. Memberi contoh nyatanya seperti kepala sekolah dapat membuat pemberdayaan tanaman pangan atau tanaman obat yang dapat bernilai jual. Tidak perlu membeli lahan akan tetapi dapat memanfaatkan lahan kosong atau taman sekolah sebagai lahannya. Contoh seperti ini tidak perlu dilakukan kepala sekolah sendiri. Akan tetapi dapat mengajak partisipasi siswa dan guru untuk saling bekerja sama membuat lahan pertanian. Setelah tanaman mengasilkan uang maka sekolah akan mendapat pemasukan lain untuk membantu biaya oprasional sekolah. Jadi peran dari kepala sekolah adalah memberi contoh atau bertindak langsung kelapangan. Tidak hanya memerintah saja.

            Contoh lain kepala sekolah mencanangkan kepada guru untuk memasukkan mata pelajaran SBK (Seni Budaya dan Ketrampilan) atau muatan lokal seperti yang ada pada kurikulum. Siswa diajarkan berkreasi nyata atau berimajinasi membuat suatu karya yang kemudian dapat dijual. Dari hasil penjualan ini akan membatu sekolah mendapatkan dana. Misal (gantungan kunci, tamplak meja, tas dari plasti bekas dll).

Advertisements

MENCEGAH DISKRIMINASI DI SEKOLAH

MENCEGAH DISKRIMINASI DI SEKOLAH

Hedro Sucipto (12746025) dan Yusri A Boko (12746014)

Manajemen Pendidikan S2, Universitas Ahmad Dahlan

 

Diskriminasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah melakukan tindakan yang dapat merugikan pihak lain. Diskriminasi ini dapat berupa fisik dan psikis. Secara fungsi dan tugas kepemimpinan sekolah seharusnya mampu menciptakan budaya organisasi yang netral tanpa keberpihakan. Jika kebijakan atau keputusan yang diambil oleh seorang pimpinan sekolah (kepala sekolah) menciderai ketentuan undang-undang (UU) dan mengabaikan kinerja guru yang lain, maka secara nyata merusak atau melanggar hak asasi manasia (HAM). Bahkan dapat dikatakan memunculkan faham “dehumanisasi”.

Faham dehumanisasi seringkali muncul di sekolah, misalnya kepala sekolah mengangkat seseorang dalam jabatan tertentu dengan cara sepihak tanpa adanya aturan yang jelas. Sehingga kebijakan dapat memunculkan kecemburuan dari tenaga pendidik yang lain. Dalam perilaku lain kepala sekolah menjadikan fasilitas sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan kekayaan pribadi.

Dalam hal lain praktek diskriminasi juga terjadi antara sesama tenaga pendidik, pendidik kepada peserta didik. Tindakan ini dikenal dengan istilah school bolling. yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa dengan cara fisik dan secara tidak langsung mempengaruhi fisik dan psikis mereka.

Munculnya diskrimiasi akan memberikan kesan negative, apalagi diskriminasi itu dilakukan oleh kepala sekolah. Tindakan diskriminasi seharusnya dihindari dalam dunia pendidikan (sekolah), kepala sekolah seharusnya memiliki relasi (hubungan) yang baik dengan guru dan serangkain administrasi sekolah lainnya. Organisasi sekolah seharusnya bisa dibedakan dengan organisasi industry lainnya, karena sekolah memiliki target dan tujuan tertentu sebaliknya organisasi industry juga demikian.

Tindakan tidak terpuji yang memunculkan diskriminasi dalam dunia pendidikan (sekolah), tindakan tersebut baik secara kebijakan maupun adiministrasi fiktif. Salah satu contoh misalnya dunia sekolah menjadi “komodity” bagi kepala sekolah atau oknum guru dan pegawai lainnya. Apalagi dalam dunia pendidikan (sekolah) salah satu masalah yang sangat tidak manusiawi ialah tindakan “korup” misalnya, dana BOS kadang disalah posisikan alokasi anggarannya pada kegiatan tertentu. Bisa dikatakan sebagai diskriminasi secara administrasi (kebohongan administrasi).

Dengan melihat fakta-fakta yang terjadi di sekolah adanya tindakan diskriminasi seharusnya sekolah menerapkan beberapa hal berikut ini, sehingga akan muncul kenyaman dan keadilan dalam keseharian. Hal-hal tersebut antara lain dapat dijalankan dengan: Kepala sekolah sebagai pimpinan sekolahmengambil kebijakan atas dasar standar operasional yang jelas. Kebijakan lain dengan mengambil suatu keputusan atas dasar musyawarah mufakat. Harus adanya konsep “egeletarian” dalam segala kebijakan, hingga tidak melecehkan etika profesi keguruan.

SUPERVISI “BLUSUKAN (JOKOWI)” SADAR IT (“AHOK”)

SUPERVISI “BLUSUKAN (JOKOWI)” SADAR IT (“AHOK”)

Triana Nuriastuti, Diyah Puspitarini, Irawati Sabban

Manajemen Pendidikan S2, Universitas Ahmad Dahlan

 Pengantar

Supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran.

Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru dalam mengelola proses pembelajaran. Inilah karakteristik esensial supervisi akademik. Tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.

Contoh supervisi akademik adalah sebagai Melakukan supervisi RPP dan silabus, supervisi KBM/kunjungan kelas, melakukan evaluasi pengelolaan kelas, melakukan penilaian.

Best Practices Supervisi Akademik

Hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Melakukan supervisi akademik dengan memanfaatkan IT sekaligus untuk mengetahui kemampuan guru dalam penguasaan IT. Contoh: kepala sekolah melakukan supervisi administrasi guru dengan cara guru mengumpulkan perangkat pembelajaran dengan menggunakan email (saat ini setiap guru diwajibkan memiliki email)
  • Supervisi proses pembelajaran dengan “blusukan” (supervisi mendaadak dan secapa spontan pada saat guru melakukan KBM di kelas). Kegiatan ini bisa juga dilakukan dengan melalui CCTV atau langsung mendatangi guru kelas yang bersangkutan).
  • Menyederhanakan paradigma supervisi agar tidak terlalu text book. Namun menyederhanakan konteks supervisi. Seperti wawancara juga bisa dilakukan dengan bentuk konseling.

Analisis

Menurunnya kualitas pendidikan salah satunya disebabkan oleh faktor menurunnnya produktivitas sumber daya manusia. Hal ini bisa dilihat dari kualitas perangkat pembelajaran dan pemberian metode pembelajaraan di kelas, sehingga guru hanya terkesan “asal-asalan” dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini salah satu tugas Kepala Sekolah adalah melakukan supervisi, baik dalam akademik ataupun kemampuan guru dalam penguasaan IT.

Jokowi dan Ahok memiliki kekuatan untuk menarik perhatian public dengan gaya kepemimpinannya. Dengan model Jokowi yang lebih sederhana dengan melakukan “blusukan” tetntunya menjadi sangat bagus dengan model Ahok yang menuntut setiap pegawai untuk disiplin dan professional dalam bidangnya. Dalam konteks ini model pekerjaan Jokowi dan Ahok sangat bagus jika di kolaborasikan sebagai tugas Kepala sekolah, tentunya dalam kegiatan supervisi.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut:

  • Melakukan supervisi akademik dengan memanfaatkan IT sekaligus untuk mengetahui kemampuan guru dalam penguasaan IT. Contoh: kepala sekolah melakukan supervisi administrasi guru dengan cara guru mengumpulkan perangkat pembelajaran dengan menggunakan email (saat ini setiap guru diwajibkan memiliki email)
  • Supervisi proses pembelajaran dengan “blusukan” (supervisi mendaadak dan secapa spontan pada saat guru melakukan KBM di kelas). Kegiatan ini bisa juga dilakukan dengan melalui CCTV atau langsung mendatangi guru kelas yang bersangkutan).
  • Menyederhanakan paradigma supervisi agar tidak terlalu text book. Namun menyederhanakan konteks supervisi. Seperti wawancara juga bisa dilakukan dengan bentuk konseling. 

Controlling dalam Kepemimpinan Sekolah dengan Metode Spionase

Controlling dalam Kepemimpinan Sekolah dengan Metode Spionase
Muhaimin, 12746024; Kusmarmi, 12746015; Fahmi Jaguna, 12746010
Manajemen Pendidikan S2, Universitas Ahmad Dahlan

Pengantar
Controling merupakan kegiatan yang di lakukan oleh kepala sekolah dalam rangka mengontrol program kerja dan kinerja apakah sudah sesuai dengan planning yang telah ditetapkan. Cara kerja controlling dapat dilakukan dengan melihat program kerja wakasek (Kurikulum, Kesiswaan, Kehumasan, Sarpras) maupun dengan membuat ceklist.
Beberapa contoh kegiatan controling antara lain adalah dengan mereview pelaksanaan perbidang apa sudah terlaksana atau belum. Pada program wks Kurikulum antara lain dilihat pada administrasi guru, pelaksanaan KBM, Supervisi KBM, dan Evaluasi dan pengayaan. Pada wakasek Kesiswaan dilihat pada Urusan mutasi siswa, Ketertiban siswa, dan Prestasi akademik dan nonakademik. Pada wakasek Kehumasan dapat dilakukan pada tingkat harmonisasi warga sekolah, Kegiatan sosial ke luar dan ke dalam, dan Menjalin kerjasama dengan lembaga di luar sekolah. Untuk wakasek Sarpras dengan melihat tingkat implementasi proses Membangun sarana pendidikan yang memadai untuk siswa, atau Memperbaiki fasilitas sekolah penunjang KBM.
Metode spionase untuk supervisi kinerja guru merupakan suatu teknik yang cukup handal untuk melakukan controlling aktivitas sekolah. Kepala sekolah menemukan fakta di kelas bahwa nilai ulangan harian siswa banyak yang belum melampaui KKM, bahkan ada yang belum tuntas, selain itu ada rumor yang mengatakan anak yang nilainya belum tuntas itu berasal dari kelas yang kurang kondusif, terkenal dengan kelas yang paling bandel, dll. Dari kondisi tersebut maka kepala sekolah berinisiatif melakukan supervisi secara diam-diam untuk mencari dan membuktikan kebenarannya.
Mekanisme
Kepala sekolah menggunakan berbagai cara, diantaranya adalah:
1. Untuk mengetahui kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran maka kepala sekolah dapat menggunakan strategi supervisi diam-diam dengan nama “spionase”
2. Kepala sekolah membuat jadwal supervisi sesuai dengan waktu luang yang dimiliki
3. Setiap jadwal yang telah ditentukan kepala sekolah secara diam-diam mencari tempat yang strategis dan tidak diketahui oleh guru target, sehingga pembelajaran berjalan secara alami seperti biasanya, atau tidak dibuat-buat oleh guru target. Hal ini dilakukan dibeberapa kelas yang diajar oleh guru target.
4. Kepala sekolah membuat catatan dari hasil temuan
5. Dari beberapa temuan terhadap guru target, kepala sekolah menyimpulkan dan kemudian memanggil guru target untuk diajak sharing tentang hasil temuan program supervisi spionase
Komunikasi
Cara kepala sekolah mengkomunikasikan hasil temuan
1. Guru target dipanggil ke ruang kepala sekolah
2. Kepala sekolah menanyakan kabar pribadi maupun kabar pekerjaannya
3. Guru target diberi kesempatan untuk mengutarakan berbagai kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran
4. Kepala sekolah menanggapai secara bijaksana dengan cara berdiskusi
5. Setelah kepala sekolah dan guru target menemukan titik temu, guru target bersedia mengubah gaya dan metode pembelajarannya
6. Dari akhir diskusi ternyata didapatkan kesimpulan bahwa guru target itu gaptek, sehingga tidak mampu menggunakan fasilitas IT
Penutup
Teknik ini merupakan teknik yang efektif untuk tetap menjaga kehormatan rekan guru dan pihak lain yang sedang dipantau. Keharmonisan kerja di lingkungan sekolah sangat penting agar dapat terus tumbuh semangat kebersamaan dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah.

Manajemen Pendidikan: Bagian Peningkatan Kualitas

 

 

Tri Ambarwati Puspita Dewi (12005096), Antin Isnaini Pramu Widyati (12005054),

Siti Suryani Kusumastuti (12005085), Wahyu widayati (12005071),

Agun Budi Sutono (12005077)

 

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok, Kegiatan pembelajaran, Alokasi Waktu, Sumber Belajar,  dan Penilaian.Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Program Semester kegiatan pembelajaran yang dirancang akan dicapai dalam satu semester. Program Tahunan kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam jangka waktu setahun dalam pembelajaran dari awal hingga akhir semester genap. Kriteria Ketuntasan Minimum adalah penilaian terhadap respon anak dalam menrima dan memahami materi setelah dilakukan evaluasi dengan standar yang sudah ditentukan untuk menentukan lulus tidaknya anak. Pemetaan Standar Kompetensi (Sk) Dan Kompetensi Dasar (Kd) berisikan materi-materi dan ketuntasan yang harus dicapai.

Sekolah adalah bagian dari manajemen/ pengolahan pendidikan. Oleh karena itu sarana prasarana memang sangat dibutuhkan dalam managemen/ pengelolaan pendidikan. Contoh sarana prasarana non material yaitu tenaga kerja. Jabatan yang tertinggi adalah Kepala Sekolah. Kepala Sekolah di sini menjadi seorang pemimpin sekaligus penggerak semua kegiatan yang ada disekolah. Selanjutnya staf pengajar atau disebut sebagai guru, berperan serta sebagai seorang pendidik dan pembimbing di sekolah. Kemudian tata usaha atau TU yang mengurus mengenai administrasi. Sekolah juga membutuhkan keamanan untuk menjaga semua alat-alat praktek, barang-barang yang ada di ruangan dan administrasi yang penting, maka dibutuhkan satpam. Yang menjadi pelengkap ketika murid-murid lapar yaitu ada kantin. Disinilah peran penjaga kantin sangatlah penting. Dikarenakan bahaya ketika murid-murid harus membeli makanan di luar sekolah meskipun ada satpam yang men-jaganya. Karena satpam tidak bisa mengawasi murid-murid satu persatu.

Murid termasuk pelaku dalam kelas. Karakteristik murid bermacam – macam yaitu ada murid yang bodoh,sedang,pintar dan jenius. Guru juga termasuk pelaku dalam kelas. Guru dapat digolongkan menjadi 2 yaitu guru laki – laki dan guru perempuan. Penampilan para pelaku dalam kelas harus lah rapi sopan dan tidak nyeleneh. Guru yang mengajar dikelas tidak hanya guru kelas saja melainkan guru mata pelajaran lain juga seperti pelajaran Pendidikan Agama, Bhs Inggris, dan banyak lagi

Dalam manejemen pendidikan ada sarana dan prasarana nonmaterial seperti Kepala Sekolah, guru, BK, Staf Tata Usaha penjaga perpustakaan, penjaga sekolah, satpam. Kepala Sekolah dan guru sangat berperan dalam lingkungan sekolah sebab mereka masing-masing mempunyai tugas dalam pendidikan yang mengembangkan dan membina potensi dasar anak kepada muridnya.Tugas Kepala Sekolah adalah memimpin dan membina guru dan kariawan sekolah termasuk juga Satpam, Staf Tata Usaha, dan penjaga kantin. Guru BK berperan penting dalam menyelesaikan masalah siswa. Staf Tata Usaha juga ikut berperan penting dalam lingkungan sekolah yang mana staf Tata Usaha membantu dalam administrasi sekolah. Satpam berperan dalam menjaga keamanan lingkungan sekolah.

            Di dalam manajemen pendidikan ada administrasi yang cendrung menunjukkan pada pekerjaan tulis menulis. Administrasi dikaitkan dengan anggaran dan biaya. Anggaran bisa dari pemerintah, dari pihak swasta atau juga sumbangan dari walimurid. Setiap sekolah membutuhkan biaya agar sekolah dapat beroprasi dengan baik. Biaya untuk menggaji para staf pengajar dan staf tata usaha serta satpam dan lainnya yang bertugas menjaga sekolah tersebut. Tunjangan hari raya dan bonus akhir tahun juga sering diberikan kepada mereka yang bertugas di sekolah.

Manajemen Pendidikan: Sebuah Sudut Pandang

Fani Tri Aryati, Asih Widayanti, Rini Nurhayati, Eka Putri Prajetnam, Imam Mudiono

 

Tujuan Pendidikan. Pada hakikatnya setap manusia, memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Karena di dalam kehidupan sangat dibutuhkan kemandirian dalam mempertahankan hidup, ilmu-ilmu yang didapatkan akan menjadikan manusia menjadi pribadi yang cerdas, cakap, kretif, dan tentunya menjadi warga negara yang baik.

Membuat Ekskul / Ekstrakurikuler. Di dalam kegiatan belajar formal, setiap sekolah tentunya memiliki kegiatan-kegiatan yang bisa membuat siswanya mengembangkan hobi atau keahlian di bidang lain, yang tentunya masih bersifat positif. Sebagai contoh diadakan ekskul sepakbola, yang tentunya akan menjadikan tempat bagi para siswa yang gemar bermain sepakbola. Karena bukan hanya dalam prestasi akademik, setiap siswa berhak berprestasi di bidang non akademik.

Ruang Kelas. Ruang kelas adalah salah satu manajemen pendidikan yang penting. Karena ditempat itulah peserta didik itu dapat menerima pembelajaran dengan baik maka dapat dipastikan manajemen pendidikan di sekolah itu baik. Ruang kelas yang baik adalah ruang kelas yang nyaman untuk dipergunakan dalam kegiatan belajar-mengajar. Tentunya juga dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang pembelajaran. Fasilitas tersebut seperti meja, kursi, papan tulis, spidol, penghapus, almari, dan lain-lain. Di dalam ruang kelas juga bisa di pasang gambar Presiden dan Wakil Presiden, atau gambar-gambar Pahlawan Nasional. Karena hal itu dapat mengingatkan peserta didik pada tokoh-tokoh nasional.

Kesiswaan. Manajemen kesiswaan mempunyai peranan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai dari masuk sampai keluarnya peserta didik dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, namun juga meliputi aspek yang lebih luas. Secara operasional, manajemen kesiswaan dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah. Seperti adanya kegiatan dokter kecil di SD, Osis/IPM di SMP dan SMA, PMR, ekstrakurikuler, dan lain sebagainya. Dalam kegiatan yang tersebut siswa dapat tumbuh dan berkembang mencari jati diri untuk dewasa kelak. Contoh lain dari kegiatan tersebut, manajemen kesiswaan juga harus mengatur jadwal seragam dan penyamaan seragam yang bekerja dengan Bimbingan Konseling dan OSIS untuk berjalannya suatu ketertiban yang ada di sekolah. Pembina kesiswaan dan pengelolaan manajemen kesiswaan sangat berperan dalam pengawasan terhadap peserta didik dan berjalan kegiatan di sekolah.

Mengatur Dana Pendidikan. Pendidikan yang khususnya di Indonesia, memang berjalan sebagian besar oleh pemerintah. Karena biaya-biaya pendidikan formal diatur oleh pemerintah, sebagai contoh pada tingkat SD dan SMP pemerintah berusaha menggratiskannya. Adanya dana BOS juga sangat membantu proses berjalannya belajar. Disinilah manajemen keuangan bekerja, untuk mengolah dana dari pemerintah agar dapat bermanfaat dengan baik.