Khutbah Jumat

Peningkatan Keimanan Dapat Menumbuhkan Daya Saing Umat Islam

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu
Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.
yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun

Al Maidah : 54
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

Al Maidah : 55
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Huru hara global
Terjadinya huru-hara politik di wilayah kantong muslim dari sejak invasi di Afganistan, Irak, Mesir, Yaman, Libya dan beberapa negara sekitar. Masih dalam persteruan berkepanjangan di Libanon, Palestina. Kenyamanan dari beberapa negara di wilayah Timur tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, dan negara-negara Emir lainnya karena penguasaan sumber minyak yang berlimpah dengan tak segan segan ikut serta bersama negara Barat melakukan penyerangan atas negara muslim lain. Di sisi lain negara-negara muslim lain seperti Indonesia, Malaysia juga tidak mampu untuk menekan secara signifikan atas aktivitas-aktivitas barbar internasional.
Suatu yang disinyalir dalam qur’an surat al hasyr

14. Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.
Sesungguhnya apa yang terjadi pada semua ini? Beberapa tulisan menyebutkan adanya usaha-usaha untuk membentuk tatanan dunia baru (the new world order).
Kenaikan ekonomi China yang menjadikannya memiliki kekayaan total melebihi 3 kali kekayaan Amerika menjadi salah satu alasan bagi negara-negara Barat untuk membuat suatu tatanan baru dunia agar hegemoni Barat dalam pertarungan budaya global tetap berada di atas. Carut-marutnya berbagai kepentingan global tersebut juga berimbas pada kehidupan bermasyarakat secara nasional. Isu-isu amoral baik dalam politik, ekonomi, sosial sudah sangat sering kita dengar dan selalu tidak ada penyelesaian yang cukup baik dan tuntas. Satu kasus ditutup dengan kasus lain, demikian seterusnya sehingga membuat pemahaman masyarakat akan kebenaran menjadi kabur dan ragu.
Inti dari semua kekacauan dunia baik global maupun regional nasional adalah sepeti pada ayat berikut:

Ar-Ruum (31): 41
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Kondisi yang diharapkan:
Harapan Baru
Apa yang harusnya dilakukan dan diharapkan adalah sebagaimana dalam

Al-Qashash (28): 77
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagian dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Strategi Pembentukan Pribadi
Dengan kondisi seperti ini, maka mau tidak mau umat islam akan dituntut untuk mampu menampilkan kemandiriannya agar dapat berinteraksi dengan gagah dihadapan umat lain. Baru dengan hal itu, umat islam dapat mengungkapkan kemampuannya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Suatu yang besar ini, yang merupakan gambaran pembentukan masyarakat madani dalam skala internasional menjadi suatu yang jauh diawang-awang ketika kita tidak memulai dari diri sendiri.
Membangun individu yang kuat menjadi dasar bagi perubahan yang jauh lebih besar. Hal ini sesuai dengan teori lingkaran pengaruh dan interaksi. Bahwa setiap individu memiliki lingkaran pengaruh yang artinya wilayah dimana ia memiliki pengaruh untuk melakukan perubahan. Misal suami atau istri memiliki pengaruh kuat pada pasangannya. Orangtua memiliki pengaruh pada anak-anaknya. Pak RT memiliki lingkaran pengaruh di RT. Rektor memiliki lingkaran pengaruh di universitas Walikota memiliki lingkaran pengaruh di kotanya. dan seterusnya. Dan setiap lingkaran pengaruh ini akan saling bersinggungan dengan lingkaran pengaruh lainnya. Ketika lingkaran pengaruh potitif bertemu dengan lingkaran pengaruh positif maka akan menjadi suatu source atau sumber kebaikan. Dan sebaliknya bila lingkaran pengaruh negatif berinteraksi dengan negatif makan akan menjadi sink atau penyedot kebaikan. Sehingga tidak heran ada ajaran untuk menjadi baik kita harus berkumpul dengan orang baik.
Dan juga ayat

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. “(Q.S An Nisa:9)
Pembentukan pribadi muslim menjadi sangat penting. Banyak ayat yang secara jelas memberikan spesifikasi kepribadian seperti apa yang perlu kita wujudkan. Luaran atau output kepribadian itu yang perlu selalu kita perhatikan baik pada diri kita, anak-anak kita, dan lingkungan kita.
Dalam ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. “(QS. At Tahrim: 6)
Ibnu Abbas menafsirkan “ Quu anfusakum wa ahlikum naaron” sebagai “beramallah kamu taat kepada Allah dan takutlah kamu akan maksiat kepada-Nya dan perintahkanlah keluargamu dengan mengingat Allah, niscaya Allah akan melepaskanmu dari api neraka”. Sedangkan menurut Sayyidina Ali, R.A:” ajarkan diirimu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka”. Hal ini menunjukkan dari mana kita perlu memulai untuk menjadi baik. Dari diri sendiri. Perubahan tidak akan pernah terjadi ketika kita sendiri tidak memulai perubahan itu. Dan tidaklah allah akan mengubah suatu kaum kecuali mereka mengubahnya sendiri.
Penutup
Mari mulai saat ini kita tingkatkan kewaspadaan diri kita sendiri, jauh sebelum kita berusaha mengubah orang lain. Tidak perlu untuk memasuki urusan orang lain kecuali ada niat dalam diri kita untuk membantu dan bukan untuk menjadikannya lebih buruk. Membantu orang lain untuk tetap tumbuh berkembang dengan jauh lebih baik insya allah sebagaimana doa para pendahulu kita:

10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Terkait dengan ayat tersebut, dalam hal ini kita sebagai muslim perlu juga belajar tentang manajemen resiko. Kita harus selalu memikirkan seandainya kitamelakukan sesuatu maka apa resiko bagi diri kita dan orang lain. Baik atau burukkah akibat yang akan terjadi. Seberapa besar pengaruh suatu tindakan kita pada orang lain. Apakah mampu kita menutup aib saudara kita untuk dapat menjadi lebih baik, dan lain2. Pertanyaan itu merupakan bagian dari manajemen resiko. Sebagaimana dalam surat

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Semua harus dilihat dalam kerangka membangun sesuatu yang lebih baik dalam kacamata kecintaan pada Allah. Mari kita bangun diri kita masing-masing untuk menjadi pribadi muslim yang kaffah. Pribadi yang tidak iman sebagian dan kufur sebagian, tetapi pribadi yang teguh untuk hanya berpegang pada satu kebenaran. Dengan itu insya allah kita dapat menjadi pribadi yang kuat dengan lingkaran pengaruh yang membawa pada kebaikan.
barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.
Doa
Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, Wa baarik ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.
Ammaa ba’ad..
Yang terpenting bagi kita saat ini adalah selalu memperbaiki diri kita sendiri. Memulai perubahan dari diri kita sendiri. Baru kita dapat berharap untuk terjadinya perubahan di sekitar kita. Selalu orientasikan perubahan hanya menuju pada persiapan akan kampung akhirat. Mengambil sebagian dunia untuk menyiapkan sepenuhnya kehidupan akhirat.
Mari kita akhiri dengan berdoa
Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.