Manusia dan Alam (untuk pemaknaan bencana Merapi)

Manusia sesungguhnya memiliki spektrum keimanan yang sangat lebar. Ada yang ketika melihat huruf alif dia akan tersungkur sujud karena Cintanya pada Allah. Ada pula yang meski diguncang dengan berbagai bencana tetap saja ingkar pada Allah. Dan setiap manusia memiliki posisi yang unik dalam spektrum tersebut. Kemampuan manusia untuk membaca dimana posisinya dalam spektrum akan mempengaruhinya dalam memandang alam sekelilingnya, termasuk dalam menginterpretasi perlakuan orang lain terhadap dirinya.

Dengan memahami hal tersebut, perlakuan dan sikap kita kepada orang lain perlu berempati pada kondisi orang yang kita hadapi. Orang yang berbeda perlu diberi perhatian yang berbeda agar semua yang kita lakukan adalah mampu memberikan pertolongan pada mereka untuk naik pada derajat yang lebih tinggi di hadapan Allah. Sehingga bertolong menolong dalam kebaikan dan takwa sangat dianjurkan; bukan dalam kejahatan dan permusuhan.

Kesadaran kita dalam interaksi dengan orang lain untuk semata-mata saling menolong dalam peningkatan derajat ini, akan menjadikan munculnya sinergi keimanan. Sebagaimana ketika segolongan yang kecil mampu mengalahkan segolongan yang besar. Golongan yang kecil berpegang pada tali agama Allah, sedangkan segolongan yang besar kelihatannya bersatu padahal hatinya bercerai berai tidak ada sinergi. Hal ini sudah menjadi hukum alam.

Karena menjadi hukum alam maka siapapun akan dapat menggunakan fenomena ini untuk berbagai kepentingan. Tidak sedikit kejahatan yang menguasai kebaikan sehingga hancur suatu kaum. Kegelapan peradaban yang berabad-abad terjadi ketika kejahatan menggunakan fenomena alam ini. Dan sesungguhnya kejahatan yang dikelola dengan baik akan dapat menghancurkan kebaikan yang tidak dikelola dengan baik. Sesungguhnya usaha kamu adalah berbeda-beda.

Toh, demikian jangan lupa bahwa barang siapa menolong Allah, maka Allah akan menolongnya. Tangan Allah selalu di atas tangan-tangan mereka. Barangsiapa mendekat kepada Allah sejengkal maka Allah akan mendekat sehasta. Barangsiapa mendekat Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekat dengan berlari. Sinergi adalah kata kunci. Berpegang pada tali Allah dan jangan bercerai berai.

Ketika kita sudah berusaha menyesuaikan spektrum, ketika kita sudah berpegang pada tali agama Allah bukan berarti tiada ujian lagi. Apakah kalian merasa akan masuk surga padahal kalian belum diuji sebagaimana kaum sebelum kalian. Sesungguhnya mudah bagi Allah untuk menjadikan semua kaum beriman, tetapi sesungguhnya Allah ingin mengetahui siapa yang benar beriman dan siapa yang ingkar pada nikmatNya. Gempa, letusan gunung berapi, angin topan yang dahsyat semua itu merupakan pertanda ujian yang terlihat secara fisik. Dan sungguh semua itu datang juga dari ulah manusia. Telah terjadi kerusakan di darat dan di lautan akibat ulah tangan manusia. Namun lebih dari itu, sesungguhnya ujian yang bukan berupa fisik memilik dampak yang jauh lebih besar. Rusaknya mentalitas suatu kaum. Sesungguhnya syaitan dan iblis akan mendatangi anak Adam dari arah mana saja. Atas, bawah, kiri, kanan, depan, dan belakang meskipun mereka berdiam diri di rumah. Perhatikan bagaimana teknologi saat ini telah menjadi jalan untuk terjadinya kerusakan mentalitas ini dan juga kerusakan alam semesta. Orang-orang yang ingkar lebih menyukai dunia sedangkan orang-orang yang beriman lebih menyukai akhirat. Dan diilhamkan benda-benda kemungkinan untuk buruk maupun baik sebagaimana diilhamkan kepada jiwa untuk fasik maupun takwa.

Dan barangsiapa memberikan dan bertakwa dan bersaksi dengan baik maka akan diberikan kepada mereka kemudahan. Sungguh telah banyak contoh kemenangan dan kejayaan dicapai dengan kecintaan pada Allah. Dan itu suatu janji dan kepastian. Melepaskan kebutuhan kita untuk orang lain adalah bukti sebuah cinta. Mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka; dan mereka mengutamakan orang lain yang membutuhkan lebih atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.

Namun sebaliknya, pada orang-orang yang ingkar atas nikmat Allah, suatu keniscayaan mereka akan menjadi terusir dari kampung halaman mereka dengan sebab yang tiada diduga-duga. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari kampung-kampung mereka. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.

Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Perbuatan perusakan lingkungan baik yang dilakukan oleh orang yang merasa beriman dan yang tidak beriman, sesungguhnya merupakan usaha untuk menghancurkan habitat manusia dengan tangan-tangan (dan teknologi) mereka sendiri.  Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.

Hanya orang yang memiliki wawasan yang dapat melihat jauh ke depan. Kemampuan untuk mengintegrasikan seluruh pengetahuan menjadi sebuah gambaran masa depan dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan. Menjadi sangat penting dalam membangun alam semesta ini adalah pemahaman dan wawasan. Orang yang memiliki wawasan dan mengorientasikan pemikirannya untuk cinta padaNya sesungguhnya termasuk orang yang beriman dan bertakwa. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan (memiliki wawasan) apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.