Ketahanan Nasional dan Bencana Alam

Secara definisi ketahanan nasional adalah kemampuan untuk menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Dengan menggunakan defionisi ini, sesungguhnya bencana alam yang terus melanda Indonesia perlu dilihat dari segi ketahanan nasional. Sejauh apa penanganan sebelum, ketika, dan sesudah terjadinya suatu bencana.
Bencana alam tidak dapat dilihat dari fenomena fisik belaka. Namun mengandung dimensi spiritual yang sifatnya non fisik. Hal ini tentu selaras dengan pandangan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang Bertuhan yang Maha Esa. Dalam banyak cerita yang ada dalam kitab suci selalu dituliskan dan dijelaskan bagaimana kejadian dalam alam semesta tidak terlepas dengan kejadian yang terkait spiritualitas.
Dengan demikian, tidak boleh memandang bencana alam yang melanda Indonesia secara bertubi-tubi hanya dengan satu dimensi saja.
Barangkali dengan ilmu bumi atau geologi dapat dijelaskan mengapa terjani tsunami, letusan gunung berapi, banjir, dan lain-lain. Penelusuran terus menerus, maka akan berujung pada sikap dan mental manusia sebagai pembuat sejarah yang ada di dunia. Akhlak manusia terhadap alam akan menjadi fenomena bagi terjadinya berbagai bencana. Sebagaimana matinya sebuah kupu-kupu di Amazone akan dapat menyebabkan terjadinya perubahan musin di Jepang. Segala sesuatu yang ada di dunia merupakan sebuah sistem yang akan saling mempengaruhi yang lain. Meski masing-masing komponen dapat berperan sebagai source atau sebagai sink. Integrasi kesemua itu yang akan mempengaruhi bentuk dunia kecil kita.
Kembali pada ketahanan nasional, sebelum terjadi bencana akan mencakup secara fisik bagaimana bangsa Indonesia memahami posisi uniknya baik astronomi, geologis, geografis, dan lainnya. Pemahaman yang baik akan memunculkan manusia yang dapat menampilkan akhlak yang baik pada alam semesta. Tidak ada pembalakan hutan, tidak ada penghancuran gunung, tidak ada pengalihan rawa jadi pemukiman, dll. Terlihat di sini bagaimana keserakahan manusia atas nama kesejahteraan.
(bersambung)