Kepemimpinan (1)

Attaubah: 23 “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
Ada tiga kata kunci pada ayat ini terkait dengan kepemimpinan, yaitu: keluarga, kekafiran, wali (pemimpin). Kita sebagai manusia selalu ada kecenderungan untuk mencintai keluarga dibandingkan yang lain. Kedekatan emosional adalah yang paling tinggi dengan keluarga karena berbagai hal termasuk kedekatan darah daging. Kemampuan seorang pemimpin adalah bagaimana melawan kecenderungan ini. Memposisikan diri untuk melepaskan seluruh atribut dan kepentingan. Kemampuan untuk memisahkan diri dari seluruh kedekatan apapun adalah suatu yang sangat penting dalam pengambilan keputusan. Pemisah paling utama dalam konflik kepentingan ini adalah konsep kafir. Kafir perlu dimaknai lebih luas, bukan sekedar tidak beragam Islam. Kafir berarti ingkar. Ingkar kepada sunnatullah; hukum-hukum allah yang dapat dibaca pada semua tanda-tanda kebesaranNya. Dapat dikatakan bahwa kekafiran akan terkait dengan moralitas atau akhlaq yang buruk dalam mengelola alam (= dalam terminologi ini alam adalah makhluk yaitu segala sesuatu di luar Allah). Wali dalam beberapa makna dapat disamakan dengan pemimpin yang kita bersedia menyerahkan pengelolaan diri kita padanya. Sehingga perwalian itu memberikan ketundukan kita kepada pemimpin.
Benang merah dari ayat ini adalah seorang pemimpin tidaklah memperhatikan asal usul kedekatan dengan diri kita, namun adalah seorang yang memiliki kedekatan pada Allah untuk mampu mengelola sumber daya untuk mendorong semua orang yang di’wali’kannya untuk semakin dekat pada Allah.

Lanjutan ayat ini di ayat ke 24 mempertegas kembali posisi keluarga dalam interaksi kecintaan pada Allah, yaitu:

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Wallahu a’lam.