Bertemu Ibu

Kupandangi foto itu dengan seksama. Foto sebuah kaldera dari sebuah gunung yang sangat tinggi. Foto itu kuambil dari atas gunung yang lebih tinggi lagi. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Seperti kawah di Tangkupan Perahu tetapi jauh lebih indah karena kawah sudah mendingin, kontur tebing ke kawah yang dipenuhi tanaman hijau besar yang rimbun. Seperti kawah bromo, tetapi yang ini juga jauh lebih indah. Pada sisi yang tampak dari tempat pengambilan gambar terlihat aktivitas orang-orang yang sedang menuruni kawah dengan berbagai cara. Ada yang dengan berjalan tetapi seperti terbang karena sedemikian cepat dan terlihat melayang. Ada juga yang dengan mengendarai kuda yang hampir terjatuh kuda itu karena tergelincir, namun malah akhirnya kuda itu turun dengan terbang melayang. Sangat indah. Di puncaknya ada beberapa rumah hijau karena di bangun dari pepohonan di antara pepohonan. Di bagian paling bawah terlihat kawah berair menyegarkan dengan bentuk seperti ellips yang tertekuk diujungnya dan pada bagian itu adalah dataran yang menghijau menyegarkan pandangan.
Semua itu sesungguhnya berapa pada jarak yang cukup jauh dari tempat aku berdiri. Namun mataku mampu untuk melihat itu semua secara detail. Dan tiba-tiba saja kuda yang kulihat dari jauh tadi muncul di depanku dalam bentuk yang sudah berubah. Seperti srigala sebesar kuda dengan bagian depan badan yang lebih besar dari bagian belakang. Kulitnya berbintik-bintik seperti kulit rusa. Taring dan giginyanya tajam menyeringai. Namun dibalik tampilannya yang seram ia ternyata lembut dan sangat jinak. Ada beberapa peristiwa yang agak kabur setelah itu. Hanya saja rasanya aku masuk ke dalam sebuah film science fiction dan terlibat di dalamnya. Ada beberapa pemain anak perempuan yang sedang bermain, tapi aku tidak terlalu ingat apa yang mereka lakukan. Ketika tiba-tiba saja keadaan menjadi kacau karena berbagai binatang berbahaya yang telah disimpan dalam kotak-kotak terlepas semua tanpa sisa kecuali wadah dan cairan kehidupan yang ada di dalamnya. Keadaan sepertinya akan menjadi genting.
Belum selesai kusadari situasi yang akan terjadi, tiba-tiba saja aku sudah berada di depan sebuah televisi yang sedang menayangkan film tentang setan. Setan itu terlihat di taman sebuah gereja atau bangunan kastil jaman Gothic. Aku tidak terlalu yakin itu gereja atau kastil. Yang di tengahnya ada sebuah airmancur berundak dengan beberapa kolam yang melingkarinya. DI ujung terlihat pagar besi dengan ornamen kuno dan berat masih tertutup rapat. Suasana sangat sepi. Setan itu dapat berubah-ubah karena unsurnya berasal dari kabut hitam. Ia berubah menjadi banyak dan menyebar bergerak menuju gerbang. Pada saat sampai di airmancur mereka menyebar ke kiri ke kanan dan bertemu kembali setelah melewati air mancur dan menyatu kembali menjadi sosok manusia yang tegap dengan menggunakan jas panjang warna hitam seperti yang banyak dipakai orang eropa masa lalu. Tiba-tiba saja muncul wajah nabi Isa, namun tidak dalam televisi karena televisi itu sudah hilang. Ia sebagaimana kukenal sebagai salah satu penghulu sufi hadir dengan pakaian kebesaran para sufi. Baju bertambal, namun bersih dan juga memakai ikat kepala. Rambut ikalnya masih terlihat mengurai ke bawah. Ia bersabda Ya seperti itulah umat-umat sekarang yang memanfaatkan diriku. Namun kata-kata itu tidak kulihat dari mulutnya yang bergerak, hanya tiba-tiba masuk dalam pendengaranku. Karena yang kulihat di wajahnya hanya lah senyumnya yang agung.
Dan belum sampai aku menikmati pertemuan itu, tiba-tiba aku sudah berada di rumahku. Rumah lama yang masih berlantai tanah, berdinding bambu. Sangat nyaman rasanya. Di situ ada kakak dan dua adikku. Aku tiba-tiba menjadi anak-anak kembali. Bapak yang berdiri di depan pintu antar kamar berkata, “ wah, aku nelpon Sulis suwe banget tak kiro mung pitu seket ning kok enthek sewidak ewu.” Sambil menunjukkan handphone kepada Ibu yang muncul dari kamar lain. Ibu berwajah seperti ketika aku masih anak-anak. Muda dan bersemangat. Saat itu aku merasa ini semua adalah mimpi. Kucoba untuk menggigit tanganku. Dan ternyata terasa sakit. Tapi aku masih tidak yakin. Karena Ibu sudah meninggal beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja ibu sudah duduk di atas dingklik sambil menempel dinding kamar. Ia tersenyum manis sekali. Aku masih merasa ini hanya sebuah mimpi. Namun sesaat kemudian terdengar ayat sesungguhnya mereka tidak mati, mereka hidup. Hanya kamu tidak mengerti. Tapi di situ aku mengira apakah ibu hidup kembali dari kubur. Tapi aku kok tidak pernah tahu, karena aku sendiri yang menguburkannya. Kupupus pikiran itu. Aku menghambur memeluknya menhunjamkan wajahku dipahanya. Aku menangis terus menerus di sana karena rasa senang dan kerinduan yang dalam. Aku menangis terus-menerus.
Dan akupun terbangun dalam keadaan menangis. Air mataku mengalir terus. Aku ke kamar mandi untuk membuang ingus yang menyertai tangisku. Aku mencoba kembali tidur. Sambil membaca doa untuk orang tua. Tapi tangisku masih belum hilang. Kulihat waktu pukut satu kurang lima menit dini hari. Akhirnya kuambil air wudhu dan aku sholat malam sambil menangis. DI setiap akhir sujud tetap kupanjatkan doa untuk orang tuaku. Aku juga berdoa Ya Allah pertemukan keluarga kami sebagai hambaMu yang sholih di hari akhir nanti. Selesai sholat kutuliskan semua ini agar aku masih dapat mengingat peristiwa ini. Tepat pukul 01.53 selesai kutulis semua. Dan akan kuunggah ke blog. Air mataku masih meleleh. Ya Allah kepadaMU aku berserah diri.