Rantai Nilai Industri Produk Inovasi IPTEK

Daya saing bangsa, tidak dapat dipungkiri sangat ditentukan oleh inovasi IPTEK. Berbagai ukuran daya saing seperti GCI (Global Competitive Index), TAI (technology achievement index), HDI (human development index) memasukkan ukuran inovasi sebagai salah satu indikator daya saing.
Dalam rantai nilai inovasi akan terkait dengan technology supply dan technology demand. Dua hal ini yang akan menentukan kebermanfaatan dan keberlanjutan inovasi.
Dengan menggunakan teori kesisteman sistem industri, ada 5 M penting yang perlu diperhatikan, yaitu: Man, Money, Machine, Methode, Material.
Man/ SDM kita dari rasio peneliti tiap 1000 penduduk sanat rendah, belum lagi kasus braindrain para ahli iptek kita, pendidikan yang belum menyediakan tenaga terampil bidang iptek secara cukup, distribusi SDM Iptek antar daerah merupakan beberapa hal yang terkait dengan Man.
Money, anggaran riset indonesia baru sebesar 0,05% PDB. Angka yang sangat kecil dibanding negara-negara benchmark lain. Itupun belum terserap dengan baik karena berbagai masalah. Machine, terkait infrastruktur riset, fasilitas riset yang terbatas, pusat-pusat unggulan yang terbatas dan kadang tidak sesuai kebutuhan nasional. Method, berbagai peraturan terkait kebijakn teknologi belum sinkron antar departemen. Hal ini salah satunya dapat dilihat belum digunakannya KPI (key performance indicator) IPTEK bagi berbagai institusi. SInergi antara ABG (academician, business, government). Material, indonesia sangat kaya dan beragam. dan ini belum digunakan sebagai basis keunggulan.
Pertanyaannya adalah bagaimana mengintegrasikan semua itu hingga menjadi produk dalam skala industri yang terserap pasar. Hanya dengan itu maka daya saing akan tumbuh.