IPTEK untuk Pembangunan Ekonomi

Bila memperhatikan HDI sebagai indeks daya saing suatu negara, maka sesungguhnya IPTEK merupakan salah satu parameter perhitungan indeks tersebut. Pembahasan tentang IPTEK akan mencakup empat hal, yaitu: brainware, organoware, software, dan hardware. Dari sisi brainware, tidak dapat dipungkiri bahwa cukup banyak para ahli bidang IPTEK bangsa Indonesia yang lari ke negara lain dengan berbagai alasan (braindrain). Situasi ini tentu semakin menambah sedikitnya ahli yang dimiliki Indonesia. Selain itu, secara internal kita ketahui bahwa APK Pendidikan Tinggi juga masih rendah. Bagaimanapun tingkat pendidikan akan berpengaruh pada tingkat produktivitas secara agregat. Usaha peningkatan kualitas SDM agar melek (literate) terhadap teknologi menjadi penting, termasuk mengubah braindrain menjadi braingain.
Dari sisi organoware, sesungguhnya banyak lembaga di Indonesia yang menjalankan peran pemajuan IPTEK di tiga institusi yang berbeda, yaitu di Pemerintah (LIPI, KemenRistek, Lapan, BPPT, dll), di Perguruan Tinggi dengan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pegabdian Masyarakat), dan di dunia usaha pada R& D yang dimiliki. Struktur yang terpisah dan apabila rendah dalam komunikasi akan menyebabkan pemanfaatan sumber daya yang efisien kurang dapat dicapai. Dari sisi software, dapat dilihat pada peraturan, kebijakan, dan kesepakatan yang digunakan sebagai rujukan dalam pemajuan IPTEK. Bagaimana partnership dapat dibangun untuk menentukan IPTEK unggulan yang berbeda (differenciation strategy) sebagai daya ungkit persaingan adalah sangat penting. Salah satu hal yang menyebabkan braindrain adalah ketersedian sarana prasarana penelitian yang kadang tidak memuaskan bagi para peneliti. Ketika tuntutan time to market yang pendek sangat tinggi, di sisi lain sarana dan anggaran/ sumber daya yang dibutuhkan (hardware) untuk riset terbatas.
Pembangunan IPTEK pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Sejalan dengan paradigma baru di era globalisasi yaitu Tekno-Ekonomi (Techno-Economy Paradigm), teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa IPTEK merupakan modal dan berkorelasi positif untuk dapat membangun daya saing dalam bidang ekonomi. Konsep KBE (knowledge based economy) merupakan konsep yang harus didukung oleh IPTEK yang handal. Product/ service life cycle ataupun waktu paruh yang semakin pendek hanya dapat diantisipasi dengan IPTEK. Implikasi paradigma ini adalah terjadinya proses transisi perekonomian yang semula berbasiskan pada sumber daya (Resource Based Economy) menjadi perekonomian yang berbasiskan pengetahuan (Knowledge Based Economy/KBE). Pada KBE, kekuatan bangsa diukur dari kemampuan IPTEK sebagai faktor primer ekonomi menggantikan modal, lahan dan energi untuk peningkatan daya saing.