Menyiapkan Masa Depan Perguruan Tinggi DIY

Kesehatan dan Daya Saing
Dalam dokumen Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) DIY Tahun 2006-2025 disebutkan bahwa visi pembangunan DIY adalah mewujudkan DIY sebagai pusat pendidikan, budaya, dan daerah tujuan wisata terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan masyarakat maju, mandiri, dan sejahtera. Komitmen untuk menjadikan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan terkemuka sudah barang tentu sangat bagus, apalagi kota ini telah memiliki predikat sebagai Kota Pelajar dan Mahasiswa. Kota ini juga kaya dengan kaum intelektual yang kiprahnya belum terkontaminasi dengan kepentingan komersial.
Meski Yogyakarta memiliki daya dukung yang memadai untuk menjadi pusat pendidikan tinggi terkemuka akan tetapi ternyata masih banyak kekurangan di dalamnya. Dalam publikasi CINDOC, “The World Universites ‘Ranking on the Web’ edisi 27 Januari 2009 terdapat 33 perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam daftar 5.000 perguruan tinggi berkelas dunia. Ternyata 5 dari 33 perguruan tinggi tersebut berkiprah di Yogyakarta. Keberhasilan Yogyakarta memasukkan 5 ke dalam daftar 33 perguruan tinggi berkelas dunia tentu saja perlu diapresiasi, namun demikian jangan lupa ada kota lain yang jumlahnya lebih banyak, yaitu Jakarta sebanyak 6 perguruan tinggi, dan Bandung juga sebanyak 6 perguruan tinggi. Ini berarti bahwa di mata masyarakat dunia utamanya CINDOC, Centro de Informacion y Documentacion, Jakarta dan Bandung memiliki potensi yang lebih tinggi dibandingkan Yogyakarta untuk menjadi pusat pendidikan tinggi terkemuka.
Kiranya masyarakat sudah pada tahu kalau di Yogyakarta baru saja terjadi PTS yang menerbikan ijazah asli tetapi palsu, menjual ijazah, atau apa pun istilahnya. Kalau hal itu benar maka sudah selayaknya kalau Kopertis tidak memperpanjang izin penyelenggaraan program studinya karena hal itu benar-benar membikin malu civitas pendidikan tinggi. Bagaimana Yogyakarta bisa menjadi pusat pendidikan tinggi terkemuka kalau kehendak baik tersebut dikotori oleh kasus jual beli ijazah dan sejenisnya. Sebagaimana kita ketahui pula baru-baru ini kita mendapat informasi tentang banyaknya program studi pada PTS di Yogyakarta yang terpaksa ditutup karena kekurangan mahasiswa. Nama-nama PTS dan program studi yang ditutup pun terpampang di koran. Bagaimana mungkin Yogyakarta dapat menjadi pusat pendidikan tinggi terkemuka kalau banyak program studi yang ditutup karena kekurangan mahasiswa. Komitmen menjadikan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan tinggi terkemuka kiranya sangat bagus dan perlu kita dukung, namun melakukan introspeksi atas berbagai kekurangan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi kiranya merupakan tahap awal yang harus kita lewati.
Pada media massa sekitar Agustus 2008, disebutkan bahwa sebanyak 40 perguruan tinggi swasta di Provinsi DI Yogyakarta kekurangan mahasiswa. Enam di antaranya terancam tutup karena tahun ini tidak memperoleh mahasiswa baru. Jumlah perguruan tinggi swasta (PTS) yang kekurangan mahasiswa itu mencapai 30 persen dari 124 PTS yang ada di Provinsi DI Yogyakarta. Jumlah mahasiswa di PTS tersebut kurang dari 30 mahasiswa per program studi per angkatan, atau kurang dari syarat minimal kelayakan penyelenggaraan pendidikan,” katanya di Yogyakarta.Sementara itu, enam PTS di DI Yogyakarta terancam tutup karena tahun ini tidak lagi mendapat mahasiswa. Jika jumlah mahasiswa di bawah jumlah ideal, PTS tersebut akan sulit bertahan karena sumber pendanaan sebagian besar berasal dari mahasiswa. Dengan jumlah total mahasiswa di DIY sekitar 150 ribu di 116 PTS dan dosen 6.500an maka sesungguhnya rasio dosen mahasiswa di DIY sudah sangat bagus; hanya distribusinya yang tidak bagus. Di sisi lain, kebijakan pendidikan tinggi yang dikeluarkan pemerintah cenderung masih belum berpihak kepada perguruan tinggi swasta atau PTS. Akibatnya, PTS memiliki akses terbatas untuk bisa mendapat bantuan dari pemerintah pusat dan daerah untuk pengembangan kualitas layanan pendidikan. Meski pada dekade terakhir sudah terjadi perubahan dalam sistem alokasi dana pendidikan ke PTS.
Dalam cakupan nasional, hanya 50 persen dari 2.756 PTS di Indonesia saat ini yang dinyatakan ”sehat” dalam hal jumlah mahasiswa, rasio dosen- mahasiswa, dan ketersediaan fasilitas. Di Jawa Tengah 174 dari 323 PTS terancam ditutup karena kurang diminati mahasiswa. Ambruknya sejumlah PTS merupakan salah satu efek dari rendahnya mutu manajemen pendidikan tinggi atau PTS.

Minim Kompetensi
Suatu yang cukup strategis saat ini apabila perguruan tinggi mau dan mampu menciptakan terobosan-terobosan berlabel ’’revolusi dan inovasi model pembelajaran’’. Hal ini karena adanya tantangan perubahan untuk memperoleh lulusan yang memiliki komptensi tinggi. Rendahnya kompetensi ini berakibat banyak peluang yang akhirnya direbut para alumnus luar negeri, khususnya di perusahaan-perusahaan multinasional. Riset Howard Ckiff (2007) menunjukkan, dari 90 persen pekerja elit di perusahaan-perusahaan multinasional di seluruh dunia, hanya 0,0010 persen yang datang dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia.
Revolusi dan inovasi lebih urgen dilakukan bukan saja untuk kepentingan penyelematan masa depan lulusan, melainkan juga mencerminkan dinamika progresif dan citra perguruan tinggi bersangkutan dalam skala global. Kini manajemen perguruan tinggi harus mau dan mampu menunjukkan kinerja globalnya, jika mau alumnusnya dapat berkontribusi secara global. Hal ini sangat penting. Jika alumnus domestik dapat merebut pangsa pasar global, tidak saja mengangkat derajat almamaternya, tetapi juga derajat dan martabat bangsa. Kunci dari itu semua adalah perlunya keberanian para pengambil kebijakan pendidikan tinggi untuk terus melakukan inovasi, bahkan revolusi, terhadap model pembelajaran.

Bersikap positif Pada PTA
Karena globalisasi pendidikan tinggi menjadi konvensi WTO dan mendapatkan persetujuan dari kebanyakan anggotanya, terutama anggota dari negara-negara maju yang tentu saja lebih siap menjalankan praktik globalisasi itu sendiri, maka praktik globalisasi pendidikan tinggi akan sulit ditolak oleh negara-negara anggota, termasuk Indonesia. Terkecuali, anggota-anggota WTO itu sendiri bersepakat untuk tidak memasukkan pendidikan sebagai jasa yang dapat diperdagangkan atau dijualbelikan.
Meskipun secara politis kita perlu memperhitungkan kapan waktu yang tepat untuk mengizinkan kehadiran PTA di negara Indonesia, berapa jumlahnya, dari negara yang bagaimana, dengan kualifikasi yang seperti apa, dsb, pada dasarnya kehadiran PTA memang tidak perlu ditolak. Kalau kita berpikir positif, hadirnya PTA justru dapat dijadikan pemacu dan pemicu pengelola PTN dan PTS untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Mereka akan sadar bahwa tanpa meningkatkan mutu, lembaganya tidak akan ‘dilirik’ masyarakat. Sementara masyarakat yang memilih PTA pun tidak dapat dikatakan nasionalismenya rendah karena di era global sekarang ini pemilihan PTA, PTN, dan PTS kurang relevan bila dikaitkan dengan nasionalisme.

Brain Drain
Salah satu fenomena yang cukup memprihatinkan kita adalah kian gencarnya negara-negara tetangga, seperti Singapura memburu siswa-siswa brilian ke sejumlah sekolah di Indonesia. Mereka bergerak lewat agennya yang tersebar di sejumlah kota.. Singapura sangat agresif menawarkan kuliah di perguruan tinggi terkemuka di Singapura, siswa-siswa brilian juga dijanjikan fasilitas yang menggiurkan. Selain beasiswa, siswa cerdas juga ditawari subsidi biaya kuliah (tuition grant) dari Pemerintah Singapura sebesar 15.000 dolar Singapura (sekitar Rp 112,5 juta per tahun) atau pinjaman bank tanpa agunan untuk biaya kuliah. Jika siswa mengambil pinjaman bank, cicilan pinjamannya dibayar setelah mereka bekerja. Setidaknya 250-300 siswa brilian asal Indonesia setiap tahun berangkat ke Singapura untuk kuliah di perguruan tinggi top kelas dunia.
Sebagai balasan, mereka diharapkan bekerja untuk perusahaan yang terdaftar di Singapura atau perusahaan Singapura di seluruh dunia. Sisa biaya yang harus ditanggung mahasiswa internasional sekitar 9.000 dolar Singapura atau sekitar Rp 67,5 juta. Itu pun mahasiswa tidak perlu bingung. Mereka dapat mengajukan tuition loan atau pinjaman ke bank yang juga berlokasi di kampus. Pinjaman tidak dikenai bunga selama masih berkuliah. Setelah lulus, mereka masih diberikan waktu enam bulan untuk mencari pekerjaan dan setelah itu baru bunga pinjaman dihitung. Waktu pembayaran pinjaman bisa mencapai 20 tahun. Aksi Singapura merekrut mahasiswa brilian bukan hal baru. Mengutip artikel ”Singapore’s Failing Bid for Brainpower” yang dipublikasikan Far Eastern Economic Review terbitan Oktober 2007, Singapura menargetkan merekrut 150.000 mahasiswa asing hingga tahun 2015.
Ambisi itu bagian dari cepatnya pertumbuhan globalisasi pendidikan. Tren melanjutkan pendidikan strata satu ke Singapura meningkat 10-15 persen setiap tahun. Upaya pemburuan dan pemberian kemudahan kepada siswa berprestasi oleh perguruan tinggi asing itu oleh banyak pihak sering disebut dengan braindrain. (Kompas, 20/4/2009)

Trend Institusi
IBM membuat sebuah dokumen yang diberi judul Global Innovation Outlook (GIO). Buku ini berisi hasil diskusi senior technical and business experts dari IBM dengan 100 perusahaan dan institusi dari 24 negara / daerah. Ada banyak hal yang menarik dari buku tersebut. Ada satu bagian dari buku tersebut yang berjudul For The Knowledge Worker, Work Becomes Academic. Ada dua implikasi yang muncul dari tulisan tersebut. Yang pertama, para pekerja tidak dapat lagi mengandalkan kepada keahlian (termasuk gelar di perguruan tinggi) yang mereka kuasai di awal hidup mereka untuk tetap menjadi terdepan. Yang kedua, kecil kemungkinan bagi perguruan tinggi dan institusi pendidikan lainnya untuk mampu menangkap dinamika pekerjaan yang dinamis. Lebih lanjut lagi, inovasi membutuhkan kerjasama lintas bidang sehingga pekerja harus memahami berbagai bidang ilmu (cross disciplinary degree). Sementara saat ini perguruan tinggi cenderung tidak mampu (atau tidak mau?) membuat program studi lintas bidang yang dibutuhkan tersebut.
Para peserta GIO menganjurkan pendekatan lain. Mungkin perusahaanlah yang harus mendefinisikan (codify) pengetahuan baru. Pendekatan ini mendorong perusahaan untuk mengajukan diri untuk diakreditasi juga sebagai institusi pemberi gelar (degree). Bahkan mungkin gelar dari perusahaan ini lebih banyak diminati! Buktinya saat ini sertifikasi IT dari perusahaan atau vendor (seperti Cisco, Microsoft, Oracle, dan sejenisnys). Dalam bidang manajemen ada Black Belt untuk Six Sigma, Professional Project Management, dll yang juga lebih banyak dihargai ketimbang gelar di perguruan tinggi. Hal ini menjadi pemikiran pengelola pendidikan tinggi apakah perguruan tinggi lebih memfokuskan kepada dasar-dasar (foundation) yang sifatnya umum sehingga tetap dibutuhkan, sementara perusahaan memfokuskan kepada spesialisasi sebagai lanjutan dari proses pendidikan; ataukah perguruan tinggi mencoba mendidik keduanya; generalis dan spesialis sekaligus.

Merger: Strategi Alternatif
Dengan memperhatikan lingkungan persaingan pendidikan tinggi saat ini, ada beberapa alasan mengapa merger atau akuisisi perlu dilakukan. Dengan strategi ini akan dapat mengurangi biaya pengelolaan perguruan tinggi melalui skala ekonomi atau peningkatan pengetahuan, melakukan perbaikan posisi terhadap pesaing (terutama PTA), memasuki pasar baru untuk merekrut mahasiswa asing, memperbaiki usaha-usaha riset dan pengembangan, dan memperbaiki kualitas. Konsep ini berjalan lancar ketika Inggris melihat ada beberapa perguruan tinggi yang terlalu kecil dan under-capitalised. Dengan merger akan mampu memberikan layanan kepada mahasiswa dan komunitas lebih baik (Floud dan Corner, 2007). Di Inggris, proses merger ini didukung dan difasilitasi oleh Higher Education Funding
Council for England (HEFCE). Barangkali untuk kasus di DIY, Kopertis Wilayah V dapat berperan lebih banyak dalam proses merger ini. Ketika merger berjalan lancar dan mantap, perguruan tinggi baru yang merupakan gabungan dari perguruan tinggi akan memungkinan untuk membangun diri sebagai pusat pendidikan tinggi terkemuka. Dan tuntutan untuk menjadi perguruan tinggi berkelas dunia memang yang semakin tidak terelakkan akan dapat dicapai. Model konkrit proses ini misalnya adalah Melbourne, Victoria, Australia. Kota ini menjadi pusat perguruan tinggi terkemuka dikarenakan memiliki banyak perguruan tinggi berkelas dunia, sebut saja University of Melbourne, Victoria University, Deakin University, Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University, Monash University, La Trobe University, Swinburne University of Technology, dan sebagainya. Situasi Melbourne semakin ‘ramai’ karena satu perguruan tinggi pada umumnya memiliki beberapa kampus sekaligus, misalnya saja University of Melbourne memiliki Parkville Campus, Creswick Campus, Shepparton Campus, Dookie Campus, Howthorn Campus, dan Werribee Campus, La Trobe University memiliki Bendigo Campus dan Bundoora Campus, Deakin University memiliki Melbourne Campus, Geelong Campus, Burwood Campus, dan Warrnambool Campus, dan sebagainya.

Referensi:
1. Bernadette Conraths dan Annamaria Trusso, MANAGING THE UNIVERSITY COMMUNITY: EXPLORING GOOD PRACTICE, 2007, the European University Association
2. llan Alon dan John R. Mclntyre, BUSINESS EDUCATION AND EMERGING MARKET ECONOMIES, 2005, Springer Science + Business Media, Inc.,Boston
3. David Rooney, Greg Hearn, dan Abraham Ninan, HANDBOOK ON THE KNOWLEDGE ECONOMY, 2005, Edward Elgar,Cheltenham
4. -, World development report 2006, The World Bank,Washington
5. -, GLOBAL INNOVATION OUTLOOK, 2004, IBM
6. Darwis Syahruddin, “Braindrain” Ancam Masa Depan Bangsa, 2009, http://sinarharapan.co.id/berita/0904/29/opi01.html
7. Helena Srimurti, 40 Perguruan Tinggi Di Yogyakarta Kekurangan Murid, 2009, http://bukuohbuku.wordpress.com/2008/08/12/40-perguruan-tinggi-negeri-di-yogyakarta-kekurangan-murid/
8. Helena Srimurti, Perguruan Tinggi Swasta Cenderung Diabaikan Dalam Pendidikan Indonesia, http://bukuohbuku.wordpress.com/2008/08/07/perguruan-tinggi-swasta-cenderung-diabaikan-dalam-pendidikan-indonesia/
9. Ki Supriyoko, Liberalisasi Pendidikan Tinggi, http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Liberalisasi-Pendidikan-Tinggi