Usaha Pemecahan Masalah dan Persepsi Belajar

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kolaborasi lebih unggul dalam menampilkan kinerja pemecahan masalah kompleks secara individu dibandingkan pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kompetitif.

Sebelum dibahas lebih jauh, perlu kiranya diperjelas terlebih dahulu bahwa dalam penelitian ini interpretasi tentang kolaborasi dengan kooperasi merupakan suatu hal yang dapat saling tukar. Dalam pembelajaran berbasis proyek, aktivitas kelompok untuk menyelesaikan tugas adalah hal yang disebut dengan kolaborasi. Sedangkan pada pembelajaran kelas lebih sesuai dengan sebutan kooperatif. Hal ini merujuk pada definisi bahwa dalam cooperative effort otoritas ada pada pengajar, sebagai pemberi tugas; sedangkan pada colaborative effort pengajar menyerahkan sepenuhnya otoritas kepada kelompok (Panitz, 1996). Terlihat di sini bahwa memang dengan kooperatif tidak terjadi empowerment pada kelompok. Sebaliknya dalam kerja kolaborasi terjadi empowerment (Rockwood, 1995).

Berdasarkan strukturnya, pembelajaran kelas dapat dikelompokkan dalam tiga macam, yaitu struktur pengelompokan, struktur otoritas, dan struktur penghargaan (Slavin, 1995). Struktur pengelompokan akan memiliki karakter yang mempengaruhi proses pembelajaran. Berdasarkan pengelompokan, pembelajaran dapat dilakukan dengan kelompok kecil, dan kelas keseluruhan. Struktur otoritas lebih menekankan seberapa banyak dosen atau fasilitator mengendalikan aktivitas-aktivitas pebelajar. Struktur penghargaan dapat dibedakan atas penghargaan individualistik, kompetitif, dan kooperatif.

Arends (1998) menyatakan bahwa struktur tugas dan tujuan memiliki pengaruh pada kinerja dan persepsi pembelajaran. Struktur tugas mengacu pada dua hal, cara pengorganisasian pembelajaran dan jenis kegiatan yang dilakukan. Sedangkan struktur tujuan merupakan tingkat kesalingtergantungan yang dibutuhkan dalam mengerjakan tugas. Struktur tujuan individualistik menempatkan pebelajar yang saling terpisah (tidak memiliki ketergantungan) dengan yang lainnya ketika mencapai tujuan. Sedangkan dalam pembelajaran yang terjadi selama ini lingkungan yang terbentuk lebih mengarah pada pembelajaran yang kompetitif. 

Dalam struktur tujuan kompetitif, pebelajar didorong oleh keinginan bersaing; dapat mencapai suatu tujuan jika orang lain tidak mencapai tujuan tersebut. (Arends, 1998; Qin & Johnson, 1995). Struktur tujuan kolaboratif dicirikan oleh tingkat kesalingtergantungan yang tinggi antar pebelajar dalam kelompok. Sehingga pencapaian tujuan terjadi jika anggota lain dalam kelompok yang sama dapat mencapai tujuan mereka bersama. Struktur tujuan kolaboratif memberikan persepsi pada belajar yang lebih baik dibandingkan struktur tujuan yang individualistik kompetitif. (Arends, 1998; Bennett, et al., 1991 Heinich, et al., 2002; Slavin, 1995; Qin &Johnson, 1995).

Hal ini dapat diterangkan juga dengan temuan dari Lin, dkk. (1996). Lin  menyatakan bahwa alam komunitas belajar yang baik salah satunya adalah adanya aktivitas kolaboratif, karena dengan kolaborasi setiap orang dapat mengambil keuntungan dari keahlian yang menyebar dalam komunitas. Perbedaan, kreativitas, dan fleksibilitas belajar menjadi sangat penting. Topik yang dikembangkan dapat dipilih sendiri dengan  mengidentifikasi isu yang berkaitan dengan permasalahan dan mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang relevan sangat berpengaruh positif pada rasa kepemilikan pada aktivitas.

Menggabungkan konsep yang diperoleh tersebut dengan definisi kerja team yang dilakukan oleh Lippett (1982) bahwa kerja team sebagai kelompok orang yang mampu memecahkan masalah mereka sendiri maka dapat ditarik sebuah kerangka pemahaman mengapa dalam aktivitas kolaboratif menghasilkan kinerja pemecahan masalah kompleks secara individu yang lebih baik dibandingkan dengan aktivitas yang kompetitif. Kerja kelompok dalam group ditunjukkan oleh dua hal, yaitu kemampuan kelompok untuk secara konstan menguji proses mereka untuk terjadinya perbaikan sebagai team, dan adanya persyaratan yang disepakati untuk saling percaya dan terbuka dalam komunikasi dan berhubungan. Kedua hal ini dicirikan pada interaksi, hubungan interpersonal, tujuan kelompok, dan komunikasi. Meski tetap memberi peluang yang luas untuk terjadi perbedaan pendapat dan personalitas.

Pemahaman yang lebih lengkap dapat ditambahwakan dengan temuan Myers (1991) bahwa aktivitas kolaboratif memungkinkan terjadinya transaksi orientasi yang mengkompromikan posisi. Pebelajar cenderung menjadi pemecah masalah (problem solvers). Dengan memberikan peluang pada penciptaan lingkungan yang interaktif melalui aktivitas kelompok maka pebelajar menjadi lebih bertanggung jawab pada belajar mereka dan pada teman mereka.

Sedangkan Valentino (2004) menyatakan bahwa esensi usaha kolaboratif adalah pada spirit kelompok yang memotivasi pebelajar untuk berkontribusi saling membelajarkan. Karena keberhasilan kelompok tergantung pada belajar individu, berbagi idea dan informasi, menginterpretasi ulang informasi dengan yang lain. Sehingga dengan kolaborasi akan membawa pebelajar pada lingkungan yang lebih bernilai dan nyaman.

Penelitian yang dilakukan Tao (1999) memperkuat teori Valentino. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa pebelajar jurusan fisika yang menyelesaikan masalah secara kolaborasi dengan teknik dyads lebih baik kinerjanya dalam menyelesaikan tugas dibandingkan dengan pebelajar yang bekerja secara individu. Selain itu, penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam penyelesaian masalah tidak terlalu tergantung pada ability seseorang tetapi lebih pada bagaimena mereka berinteraksi dan bagaimana mereka menggunakan prinsip dan strategi yang relevan.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Sonnenwald dan Li (2004) menyimpulkan bahwa pebelajar yang berada dalam lingkungan yang berkompetisi secara kolaboratif memiliki persepsi positif terhadap belajar, dan sebaliknya pebelajar yang berkompetisi secara individualistik memiliki persepsi negatif terhadap belajar. Temuan ini sesungguhnya menerangkan hal yang sama, bahwa dalam penelitian diperoleh bahwa pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah secara kolaborasi memiliki kinerja pemecahan masalah yang lebih baik dibanding dengan pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah secara kompetitif/ individualistik.

Johnston, dkk. (2000) menyatakan bahwa mengapa dalam lingkungan yang berkolaborasi memiliki kinerja yang lebih baik adalah karena lebih memungkinkan pebelajar untuk belajar mendalam (deep learning). Pebelajar dapat dengan segera memahami hubungan antara satu fenomena dengan fenomena lain dan dengan konteks yang lain pula. Qin, Johnson dan Johnson (1995) menyatakan bahwa implikasi praktis kerja kolaborasi adalah terjadinya perbaikan pada kemampuan problem solving. Kelompok kolaborasi menjadi lebih baik kinerjanya ketika menghadapi masalah kompleks dibandingkan dengan persaingan yang berkerja sendiri-sendiri.