Usaha Pemecahan Masalah dan Motivasi

Pembelajaran kolaborasi merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada interaksi-interaksi sosial, dinamika kelompok, proses belajar dan pembelajaran, pengakomodasian perbedaan-perbedaan individu, pencapaian tujuan-tujuan majemuk, pengembangan sosial dan personal para siswa, dan pengembangan keterampilan akademik dan interpersonal. Pendekatan pembelajaran kolaborasi berorientasi pada sifat dasar pembelajaran manusia.

Psikologi kognitif mungkin memiliki perspektif dominan dalam pendidikan masa kini yang berfokus pada bagaimana menusia memperoleh/ menyimpan, dan memproses apa yang dipelajarinya, dan bagaimana proses berpikir dan belajar itu terjadi. Dua psikolog kognitif, Piaget dan Vigotsky (Jacob, 1999; Jacob, et al., 1996) menekankan bahwa interaksi dengan orang lain adalah bagian penting dalam belajar. Interkasi dengan orang lain ini akan memperbaiki motivasi intrinsik dalam belajar. Dewey menyatakan bahwa salah satu penentu keberhasilan dalam belajar adalah adanya motivasi intrinsik. Peran pengajar dalam aktivitas belajar kolaboratif adalah menumbuhkan motivasi intrinsik pada pebelajar.

Teori yang dikembangkan oleh Patrick (1997) menyatakan bahwa ada hubungan antara persepsi kompetensi sosial seseorang dengan motivasi pada tugas. Dapat diterima oleh orang lain, dapat mengembangkan dan memelihara persahabatan, memiliki tanggung jawab sosial merupakan hal-hal yang berpengaruh signifikan pada keberhasilan belajar. Patrik (1997) juga menyebutkan bahwa kinerja belajar seseorang dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam mengelola tugas mereka. Termasuk di dalamnya adalah efficacy, comptence, autonmy, worth, dan personal goal orientation.

Secara motivasi, kolaborasi dalam usaha pemecahan masalah dapat meningkatkan dan memperbaiki interaksi dengan teman sebaya; sebagai suatu peluang untuk saling memberikan dorongan yang saling menguntungkan; dan secara kognitif, metode tersebut menyediakan peluang untuk melakukan elaborasi—menempatkan materi ke dunianya seseorang—dan juga suatu kesempatan memulai disiplin dalam etos kerja (McKeachie, 1994). Schunk (1999) menyatakan bahwa peer coping model berpengaruh positif terhadap self-efficacy, motivasi, regulasi diri, dan prestasi.

Untuk pebelajar yang memiliki kemampuan akademik rendah, manfaat kolaborasi adalah (Linda Lundgren, 1994) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; meningkatkan harga diri; memperbaiki sikap pebelajar terhadap matakuliah; penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar; mengurangi perilaku-perilaku mengganggu; mengurangi konflik antar pribadi; mengurangi sikap apatis; meningkatkan pemahaman; meningkatkan motivasi; meningkatkan hasil belajar; retensi atau penyimpanan lebih lama; dan meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.

Nicholls (1984) dan Dweck (1990) mengemukakan bahwa ada dua klasifikasi tujuan dalam situasi yang mementingkan prestasi atau kinerja. Tujuan yang berorientasi pada ego (ego-involved goal) dan tujuan yang berorientasi pada tugas (task-involved goal). Aktivitas kompetitif mendorong pada pengembangan tujuan yang berorientasi ego dan sebaliknya aktivitas kolaboratif mendorong pada tujuan yang berorientasi pada tugas.

Pebelajar yang berorientasi pada ego percaya bahwa kompetensi bersifat relatif terhadap kemampuan. Keyakinan ini membuat mereka berfikir yang berbeda tentang usaha. Pebelajar yang berorientasi ini akan menafsirkan bahwa usaha merupakan tanda kemampuan yang rendah, sehingga usaha hanya diperlukan bagi mereka yang memiliki kemampuan rendah. Sebaliknya pebelajar yang berorientasi pada tugas akan memusatkan perhatian pada tugas bukan pada dirinya. Mereka melihat bahwa kompetensi merupakan hasil dari pemahaman baru atau penyempurnaan kinerja sebelumnya.

Dengan model motivasi yang dikembangkan oleh Dweck dapat dijelaskan bahwa penekanan yang berlebihan pada  aktivitas yang berorientasi pada ego atau penampilan akan menyebabkan kerawanan pada pebelajar yang memiliki pola tingkah laku yang tidak berdaya; dimana seseorang akan melihat kegagalan sebagai kekurangmampuan dirinya. Dan sebagai akibatnya mereka memiliki persepsi yang negatif terhadap aktivitas yang mereka lakukan. Sebaliknya pada pebelajar yang berorientasi pada belajar atau tugas, kesalahan dan hambatan akan dilihat sebagai dorongan untuk meningkatkan keterlibatan dan usaha memecahkan masalah.

Dweck juga mengemukakan bahwa pada kenyataannya seseorang yang kurang mampu juga tetap berorientasi pada penguasaan ketrampilan-ketrampilan baru ketika mereka memiliki orientasi pada tugas. Berdasarkan hal ini maka aktivitas belajar akan menjadi lebih baik kinerjanya ketika seseorang diberi peluang dan didorong pada orientasi tugas bukan ego.

Penjelasan ini dapat digunakan untuk menemukan kerangka berfikir tentang keterkaitan antara pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kolaboratif menjadi lebih baik dalam pemecahan masalah kompleks secara individu dibandingkan dengan pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kompetitif. Pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kolaboratif menjadi lebih terdorong untuk berorientasi pada tugas. Sebaliknya, pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kompetitif menjadi lebih terdorong untuk berorientasi pada ego atau penampilan.

Sebagai akibatnya mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap usaha yang mereka lakukan. Pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kolaboratif menjadi lebih terdorong untuk mengembangkan ketrampilan baru yang dapat meningkatkan kompetensinya. Mereka juga mengusahakan tercapainya perasaan menguasai tugas atas dasar standar yang dibuat sendiri (Ames, 1992). Sebaliknya, pebelajar yang mengalami usaha pemecahan masalah kompetitif menjadi relatif lebih menarik diri.

Namun demikian ada situasi dimana ketika seseorang berorientasi pada ego dan dibarengi dengan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuannya juga akan menghasilkan kinerja yang tinggi juga. Dengan orientasi ego, mereka akan memilih tugas yang menantang dan ulet dalam mengerjakannya. Kegagalan mereka lihat karena kesalahan strategi dan usaha yang masih minim. Situasi ini akan menjadi terlihat pada situasi ketika mereka memiliki otoritas atas aktivitas mereka (Ames, 1992).