Tujuan Proses Pembelajaran Berbasis Proyek

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek lebih unggul dibandingkan dengan pembelajaran kelas pada kinerja pemecahan masalah kompleks secara individual. Hal ini cukup rasional karena aspek yang ditekankan dalam proses pembelajaran memang sudah berbeda sejak awal. Selama pebelajar menyelesaikan proyek yang mereka kembangkan, pebelajar mengalami proses rekursif pemecahan masalah. Hal ini  berarti mereka memiliki pengalaman dalam pemecahan masalah dari dunia nyata dan kompleks. Sebaliknya pebelajar yang mengalami pembelajaran kelas mereka relatif memiliki pengalaman pemecahan masalah namun terbatas pada masalah yang terstruktur dan telah disederhanakan. Paparan di bawah ini mencoba melihat dan menerangkan mengapa pembelajaran berbasis proyek memberikan pengaruh yang lebih baik pada kinerja pemecahan masalah kompleks secara individu.

Hingga saat ini, masih banyak pebelajar yang melihat bahwa kuliah merupakan hal yang berbeda dengan belajar. Terutama pada aspek konteks dan kegunaannya. Hal ini terlihat pada tingkat penekanan domain belajar yang dilakukan pada tiap mata kuliah. Brown, Dransford, Ferrara dan Campione (1983) menyatakan bahwa kuliah merupakan academic cognition. Fokus utama perkuliahan ada pada kesengajaan dan kadang kerja keras untuk belajar (deliberate and often painful attempts to learn). Sehingga academic cognition relatif terisolasi karena lebih perhatian pada bagaimana pebelajar menjadi mampu belajar dengan secara mandiri.

Kalangan pengajar juga masih melihat bahwa pembelajaran klasikal masih memiliki kelebihan dalam hal cakupan materi yang lebih banyak; sesuatu yang mungkin tidak terjadi pada pembelajaran berbasis proyek (CTGV, 1992; Penuel dan Means, 2000). Dari penyelenggaraan penelitian justru ditemukan hal yang sebaliknya. Dalam aktivitas pembelajaran yang dilakukan selama penelitian menunjukkan bahwa cakupan materi yang disampaikan kepada pebelajar pada proses pembelajaran kelas jauh lebih banyak dibandingkan pebelajar pada proses pembelajaran berbasis proyek secara individu. Namun secara umum dalam pembelajaran berbasis proyek justru memiliki cakupan dan kedalaman yang lebih baik. Beberapa hasil penelitian lain menunjukkan bahwa dalam pembelajaran berbasis proyek lebih memungkinkan untuk memperoleh gain yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran klasikal dalam pemahaman materi (understanding of the subject matter) (Boaler, 1997) dan juga dalam pemahaman pada ketrampilan khusus (specific skill) (CTGV, 1992; Penuel dan Means, 2000). 

Dari penelitian menunjukkan bahwa memang tingkat keluasan materi pada pembelajaran berbasis proyek lebih rendah dari pembelajaran kelas untuk tiap pebelajar, namun ternyata tingkat kedalamannya justru lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat pada hampir semua laporan akhir yang dihasilkan oleh pebelajar yang mengalami proses pembelajaran berbasis proyek lebih dalam kajian yang dilakukan dibandingkan dengan materi yang diajarkan dalam pembelajaran kelas. Toh demikian mungkin hal ini tidak dapat menjadi ukuran bahwa pemahaman kognitif yang diperoleh pebelajar yang mengalami proses pembelajaran berbasis proyek lebih rendah dari pebelajar yang mengalami pembelajaran kelas.