Strategi dan Proses Pemecahan Masalah

            Problem solving dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang meliputi (a) membentuk representasi awal masalah, (b) merencanakan urutan tindakan (strategi, prosedur) untuk menyelesaikan masalah, dan (c) eksekusi rencana dan pengecekan hasil (Gagne, 1977; Brannigan, 1981; Qin, et. al., 1995; Wood, Mento dan Locke, 1987)

            Secara umum, strategi pemecahan masalah adalah teknik yang diguna-kan sebagai panduan dalam proses pemecahan masalah, meski belum menjamin tercapainya sebuah solusi (Mayer, 1983; Slavin, 1995; Gagne, 1985). Ada bebe-rapa strategi untuk pemecahan masalah seperti means-ends analysis, working forward, reasoning by analogy, dan brainstorming (Gagne, 1985).

            Pada dasarnya ada dua macam usaha untuk melakukan pemecahan masalah, yaitu kompetitif problem solving dan kolaboratif problem solving. Kompetisi diartikan sebagai adanya tujuan yang hanya dimiliki oleh seseorang atau beberapa orang yang mungkin dicapai dengan mengungguli yang lain (Qin, Johnson dan Johnson, 1995). Sedangkan kolaborasi diartikan sebagai sebagai kehadiran atau keberadaan tujuan bersama, saling menghargai (mutual reward), berbagi sumber daya, saling melengkapi peran di antara anggota kelompok (Dunlap dan Gabringer, 1994; Estes dan Clark, 1999; Wilson, 1996; Savery dan Duffy, 1996).

Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Usaha Pemecahan Masalah

Dari nilai rata-rata (mean) untuk kelompok yang mengalami pemecahan masalah secara kolaborasi maka dapat dilihat meannya adalah 11.5000 (dari 20) atau 57.5% dari nilai maksimum yang mungkin. Ini berarti bahwa sesungguhnya secara umum pebelajar belum dapat menampilkan kemampuan memecahkan masalah kompleks secara cukup baik dengan usaha pemecahan masalah kolaboratif. Dengan kata lain, sesungguhnya penyelenggaraan aktivitas kolaboratif meski dapat diunggulkan namun masih perlu penyempurnaan dalam implementasi. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan penyelenggaraan aktivitas kolaboratif. Ketidaksiapan bekerja sama, tingkat ketergantungan pada teman yang dianggap pandai, tingkat motivasi yang tidak berkembang dengan baik.

Pebelajar selama ini relatif tidak diberi peluang untuk melakukan aktivitas yang memungkinkan untuk bekerja sama. Kecenderungan umum adalah mereka belajar secara sendiri-sendiri. Pemberian makna pada informasi pun sudah ditentukan oleh pengajar, sehingga tidak ada perspektif yang bermacam-macam atas satu fenomena. Ketika peluang bekerja sama diberikan kepada mereka baik di kelas untuk pembelajaran kelas maupun di industri untuk pembelajaran proyek, pebelajar relatif tidak mampu untuk itu. Hal ini terlihat jelas dalam perilaku belajar mereka yang masih memiliki ketergantungan pada pebelajar lain yang dianggap paling pandai di kelompoknya. Kemampuan menyampaikan ide yang rendah, baik karena rasa rendah diri maupun kurangnya informasi yang akan digunakan menjadikan aktivitas kolaborasi kurang dinamis.

Meski secara umum pebelajar menampilkan tingkat motivasi yang lebih baik pada pemecahan masalah secara kolaboratif, namun dapat dikatakan bahwa tingkat motivasi berprestasi pebelajar relatif masih rendah. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa pebelajar yang mempersepsi bahwa aktivitas yang diselenggarakan merupakan kebutuhan pengajar/ fasilitator.

Teori motivasi yang ada memang dapat menerangkan bahwa kolaborasi dalam usaha pemecahan masalah dapat meningkatkan dan memperbaiki interaksi dengan teman sebaya; sebagai suatu peluang untuk saling memberikan dorongan yang saling menguntungkan; dan secara kognitif, metode tersebut menyediakan peluang untuk melakukan elaborasi—menempatkan materi ke dunianya seseorang—dan juga suatu kesempatan memulai disiplin dalam etos kerja (McKeachie, 1994). Schunk (1999) menyatakan bahwa peer coping model berpengaruh positif terhadap self-efficacy, motivasi, regulasi diri, dan prestasi.

Dengan menggunakan teori interaksi sosial, sesungguhnya level interaksi antar manusia dapat berupa interaksi yang tergantung, mandiri, atau kesalingtergantungan. Aktivitas kolaborasi dapat terselenggara apabila anggota kelompok menyadari akan pentingnya kesalingtergantungan. Ini berarti mereka perlu memiliki level tertinggi dalam interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain ketika seseorang belum mencapai kemandirian atau masih dalam level ketergantungan maka kolaborasi tidak akan berjalan secara efektif.

Dalam penelitian masih ada pebelajar yang karena perasaan minder dan merasa sebagai pebelajar yang tidak pandai membuat mereka relatif menyerahkan otoritas pemecahan masalah pada pebelajar lain yang dianggap pandai. Sehingga interaksi yang saling ketergantungan tidak terjadi. Keadaan ini menjadikan aktivitas kolaborasi berkurang efektivitasnya. Sesungguhnya ada banyak kemungkinan yang penyebabkan masih adanya ketergantungan anggota pada satu anggota tertentu dalam kelompok, namun karena hal ini tidak diungkap secara kuantitatif maka analisis lebih jauh tidak lah mungkin dilakukan. Hanya saja dapat dikatakan bahwa kesalingtergantungan antar anggota kelompok tidak berjalan secara cukup baik; dan ini berpengaruh pada keberhasilan aktivitas kolaborasi.