Pembelajaran Berbasis Proyek

            Lin et. all (1996) mengemukakan kinerja belajar dapat tercapai dengan baik dengan membangun komunitas belajar (learning communities). Penekanan pada konsep ini adalah fokus perhatian pada social context of learning.

            Berfikir tentang pembelajaran (instruction) sebagai lingkungan membe-rikan penekanan pada tempat atau ruang dimana proses belajar terjadi. Setidak-tidaknya dalam lingkungan belajar (learning environment) akan ada pebelajar dan ruang dimana pebelajar melakukan kegiatan, menggunakan alat bantu, mengumpulkan dan menginterpretasi informasi, berinterkasi dengan yang lain. (Wilson, 1996)

            Lingkungan dimana siswa belajar diberikan peluang untuk menggali, menentukan tujuan dan aktivitas belajar sebagai konsep yang menarik. Siswa diberi peluang untuk mengakses sumber-sumber informasi dan peralatan pen-dukung lain sehingga belajar didorong dan didukung untuk berkembang bukan suatu yang dikendalikan dan dibatasi.

            Jika pebelajar diberi peluang untuk merencanakan dan mengendalikan aktivitas belajarnya maka ketidakpastian dan ketidakterkendalian secara global menjadi muncul. Dengan demikian perlu terjadi pergeseran peran pengajar. Pengajar perlu memastikan bahwa lingkungan yang terjadi telah memenuhi dukungan dan guidence bagi pebelajar untuk belajar.

            Ide tentang komunitas belajar barangkali lebih tepat untuk digunakan. Komunitas dari pebelajar yang bekerja bersama dalam suatu proyek tertentu dan agenda belajar tertentu, saling mendukung dan belajar dengan yang lain. Dengan demikian lingkungan belajar yang konstruktivistik adalah tempat dimana pebelajar bekerja bersama dan saling mendukung, juga mereka menggunakan berbagai macam tools dan sumber-sumber informasi dalam mengarahkan proses belajar mereka dan dalam aktivitas pemecahan masalah.

            Project based learning pada dasarnya adalah Problem based learning juga; hanya saja pada project based learning,  masalah yang digunakan meru-pakan atau terdiri dari multiple sub-problem, juga waktu aktivitas untuk peme-cahan masalah relatif lebih panjang. Dalam pembelajaran pada umumnya masa-lah yang dipakai dalam problem based learning dapat diselesaikan dalam satu atau dua sesi. Sedangkan pada project based learning masalah yang diberikan merupakan masalah dengan rentang waktu yang lebih lama, mungkin hingga satu semester, sehingga pada mata kuliah tertentu diberikan satu atau beberapa  jenis masalah project untuk diselesaikan. (Milter dan Stinson, 1994)

Pembelajaran berbasis proyek pada dasarnya sebagaimana pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu pendekatan yang menggunakan teori-teori pembelajaran konstruktivistik. Pendekatan ini juga menganut tujuh nilai utama pembelajaran yaitu: kolaborasi, otonomi personal, generatif, refleksivitas, relevansi personal, active engagement, dan pluralisme (Lebow, 1989; Lawn, 1989). Dan konsep ini diadopsi oleh Gardner (1999) dalam usaha untuk menggabungkan kemampuan yang tersebar pada pebelajar (sinergi) melalui suatu program yang disebut Spectrum Project. Suatu aktivitas yang dapat dipandang dari berbagai jenis kecerdasan dan tingkat pengetahuan yang berbeda.

Pebelajar ketika masuk ke dalam kelas akan membawa konspsi awal yang terbentuk dari pengalaman yang dimilikinya. Dan barangkali benar bahwa tiap-tiap pebelajar memiliki sekumpulan pengalaman masa lalu yang bersifat unik. Hal ini lah yang akan mendasari proses pemahaman selanjutnya (Gardner, 1996; Minstrell, 1989). Dengan melihat bahwa belajar merupakan aktivitas yang intensional dan generatif (Senge, 1991; Wittrock, 1974; Jonassen, 1985), maka aktivitas yang dilakukan perlu memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada pelaku belajar (Slavin, 1995; Gardner, 1996; Weinsten dan Underwood, 1983).

Dalam pembelajaran dengan lingkungan yang konstruktivistik, tidaklah cukup hanya dengan memberikan tugas yang otentik. Pebelajar perlu juga untuk merasa memiliki tugasnya sehingga akan bersemangat untuk terus bekerja (Hannafin, Land dan Oliver, 1999). Hal lain akan menumbuhkan motivasi pebelajar untuk mengembangkan sasaran belajar mereka sendiri (Pintrich dan Schunk, 1996). Pebelajar dengan tujuan yang mereka kembangkan akan menumbuhkan efficacy untuk mencapainya dan mengembangkan aktivitas-aktivitas yang dipercaya akan mengarah pada pencapaian.

Dari beberapa kajian penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu pendekatan yang dapat dipakai untuk me-ningkatkan prestasi belajar. Dalam teori pembelajaran yang berfokus pada bela-jar, untuk dapat terjadi aktivitas belajar salah satu pende-katan yang dapat dila-kukan adalah dengan project-based learning di samping dengan problem-based learning, team-based learning, simulations, dan tutorials (Reigeluth, 1996). Meski penyertaan pebelajar dalam pengalaman riset yang serius merupakan cara yang terbaik untuk memperoleh pengalaman. Namun hal itu tidak lah mungkin diselenggarakan untuk semua jenis matakuliah. Dengan memberikan peluang-peluang pada pebelajar untuk bekerja bersama dalam aktivitas proyek belajar merupakan aktivitas pengganti yang diperoleh dalam partisipasi aktif sebuah riset (Capraiis, 2000). Dan proses pembelajaran yang memungkinkan partisipasi sepe-nuhnya antar pebelajar untuk melakukan revisi dan refor-mulasi dapat terjadi da-lam aktivitas proyek yang kompleks (Willis, 2000).

Aktivitas belajar seperti itu yang memungkinkan untuk mengurangi kesenjangan antara konteks dengan teori. Sedangkana Longworth (1999) menyebutkan juga bahwa dengan memberikan work-based assignment atau project based assignment maka kesenjangan dapat dikurangi. Proses pembelajaran yang memungkinkan partisipasi sepenuhnya antar pebelajar untuk melakukan revisi dan reformulasi dapat terjadi dalam kegiatan proyek yang kompleks (Willis, 2000). Dengan cara yang agak berbeda Hannafin, Land dan Oliver (1999) menyebutkan bahwa pada dasarnya belajar berbasis proyek adalah belajar kolaboratif yang memberi peluang pada pebelajar untuk menentukan tugas kompleks dan aktivitas-aktivitas pemecahan masalah dalam berbagai macam langkah dengan cara mereka sendiri.

Aktivitas dalam proyek belajar dilakukan dalam periode tertentu dan anggota kelompok merencanakan dan mengalokasikan tangung jawab masing-masing anggota yang akhirnya akan terjadi akumulasi dan sinergi kemampuan di antara pebelajar untuk co-contruct group goals based on what they know (Hung dan Wong, 2000; Bielaczyc dan Collins, 1999). Dalam aktivitas belajar berbasis proyek, outcome yang diharapkan adalah mendorong pengembangan interpersonal dan ketrampilan mengelola proyek kompleks dalam dunia kerja (Galbreath, 1999).

Dapat dilihat bahwa salah satu pendekatan proses belajar yang memungkinkan untuk mengurangi kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki lulusan dengan kemampuan yang diharapkan masyarakat salah satunya adalah dengan memberikan proses belajar yang berbasis pada proyek. Selain pendekatan ini memberikan konteks (kontekstual) dan otentik juga adanya peluang untuk mengembangkan katrampilan-ketrampilan bersaing dalam dunia nyata.

            Alam komunitas belajar berbasis proyek yang efektif dapat dituliskan sebagai berikut: (1) Rancang, kelola, awasi dan perbaiki proyek dan pemecahan masalah yang dibangun oleh mereka sendiri (2) Bekerja secara kolaboratif dan mengambil keuntungan dari keahlian yang menyebar dari komunitas yang membolehkan perbedaan, kreativitas, dan fleksibilitas dalam belajar. (3) Belajar topik yang dipilih sendiri dan identifikasi isu mereka apakah berkaitan dengan permasalahan dan identifikasi sumber-sumber yang relevan. (4) Gunakan berbagai macam teknologi pendukung macam untuk membangun pengetahuan lebih dari sekedar teknologi sebagai knowledge teller. (5) Dorong pemikiran ma-hasiswa menjadi visible sehingga mereka dapat memperbaiki pengetahuan, pemikiran dan argumen yang dimiliki. (Lin, dkk, 1996)

            Dalam komunitas belajar, pebelajar diberi peluang untuk merancang dan mengelola proyek dan pemecahan masalah mereka, dan peluang untuk bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan yang penting (Collin, Hawkins, dan Carver, 1991; Lamon, 1994). Dan sebagai tambahan komunitas belajar terka-dang menekankan pentingnya penyebaran keahlian (Pea, 1993). Siswa dibo-lehkan untuk spesialis dalam area tertentu sehingga komunitas dapat mengka-pitalisasi pengetahuan secara menyebar. Hal ini akan sangat nyata berbeda dengan lingkungan yang semua belajar pada hal yang sama pada waktu yang sama.

            Dengan komunitas belajar maka perlu dikembangkan sasaran dan kriteria keberhasilan yang open-ended. Hal ini dilakukan dengan kolaborasi pengajar dan siswa untuk terjadi peluang-peluang negosiasi, perbaikan dan konstruksi tujuan mereka dalam belajar. Suatu sasaran perlu ditumbuhkan melalui interaksi, obser-vasi dan pengamatan yang mendalam dalam kelas. Sehingga guideline dan prosedur untuk pengembangan sasaran yang dapat berubah-ubah sepanjang waktu belajar juga perlu dikembangkan. Dalam berbagai situasi, materi kuliah (isi kuliah) kadang disajikan kepada pebelajar secara sederhana, dekontekstualisasi, terisolasi yang mengarahkan pada menghafal daripada pemecahan masalah dan berfikir tingkat tinggi. Jenis pembelajaran seperti ini membuat kesulitan untuk membantu pebelajar melihat hubungan antar berbagai materi, kompleksitas dalam materi, penerapan materi dalam masalah nyata dan situasi yang bermakna.

            Jonassen (2000) menyebutkan juga bahwa dalam pembelajaran berbasis pada proyek terkadang juga memanfaatkan teknologi yang ada. Dan dalam hal ini maka perlu terjadi pergeseran peran pebelajar dari sebagai penerima menjadi penghasil, pencipta dan pengirim. Teknologi digunakan sebagai rekan intelektual yang berguna untuk:

1.      mengartikulasi apa yang merela ketahui

2.      cermin pada apa yang mereka telah pelajari dan bagaimana menjadi tahu

3.      pendukung negosiasi dalam menciptaan makna

4.      membangun representasi makna pribadi

5.      mendorong  intensional, dan mindful thinking.

                        Dari model-model pembelajaran berbasis proyek, pada dasarnya dapat dirangkum beberapa aktivitas yang dikembangkan di dalamnya, yaitu:

1.      Menumbuhkan minat belajar pebelajar; kegiatan yang dilakukan dapat berupa ice breaking, brainstorming dan lainnya yang relevan. Untuk dapat lebih terfokus pada minat masing-masing atau kelompok pebelajar dapat digunakan alat bantu dengan affinity diagram. Affinity diagram pada dasarnya merupakan alat bantu untuk mengelompokkan ide-ide yang sejenis yang diperoleh dari brainstorming.

2.      Dari affinity diagram maka akan diperoleh beberapa kelompok kegiatan yang kompleks yang merupakan gambaran dari harapan-harapan pebelajar terhadap matakuliah. Dari hal ini akan muncul peluang-peluang terbentuknya kelompok dengan beberapa macam jenis proyek yang relevan dengan harapan maupun konteks. Pada aktivitas ini didorong munculnya team belajar. Dosen dapat menggunakan topik ataupun metode untuk membangun kelompok (team building).

3.      Tiap kelompok kerja atau team kemudian difasilitasi untuk dapat membuat perencanaan proyek belajar sesuai dengan apa yang telah mereka bangun pada aktivitas sebelumnya. Untuk mengelola proyek belajar ini beberapa metode dapat digunakan misalnya dengan Gantt Chart. Dari alat bantu ini akan terlihat aktivitas apa saja, ukuran keberhasilan, pembagian peran dalam kelompok, target waktu, dan milestone aktivitas yang akan dilakukan oleh tiap kelompok selama satu semester.

4.      Team melakukan aktivitas belajar sesuai dengan proyek yang mereka rancang sebelumnya. Selama proses ini berlangsung tiap kelompok bertanggung jawab penuh dalam mengendalikan aktivitas. Pelaksa-naan aktivitas tidak dibatasi pada saat pertemuan kelas. Pertemuan kelas lebih sesuai digunakan sebagai arena diskusi, melaporkan kemajuan, maupun untuk saling berbagi pengalaman dengan kelom-pok yang lain. Pebelajar juga diberi peluang untuk melakukan perba-ikan maupun penjadwalan ulang proyek belajar yang mereka lakukan sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi di lapangan. Sehingga siklus Plan-Do-Study-Act akan berlangsung selama pelaksanaan proyek.

5.      Untuk melihat kemajuan belajar tiap kelompok maka waktu yang tersedia setiap minggu yang sesuai jadwal dapat dipakai untuk diskusi, progress report, shared vision, presentasi, dsb. Sehingga akan dapat dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap pelaksanaan proyek ke depan

6.      Pada akhir semester evaluasi dilakukan berdasarkan hasil belajar yang mereka lakukan. Hal ini dapat berupa apa saja yang menunjukkan prestasi belajar, seperti: progress report, produk barang, kuantitas diskusi, atau yang lainnya.

 

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran berbasis proyek. Ketidaksiapan pada metode baru, rendahnya ketrampilan belajar pebelajar, ketidakjelasan fasilitator dalam memberikan penjelasan aktivitas, keterbatasan sumber informasi, keterbatasan kemampuan mengelola sumber daya.

Selama ini proses pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran kelas dengan penekanan pada direct lesson instruction. Pengalaman belajar seperti ini yang dialami oleh pebelajar. Sebagai akibatnya adalah tingginya inersia untuk dapat berubah. Dengan adanya perubahan proses pembelajaran yang dilakukan maka sesungguhnya tidak dapat dengan serta merta pebelajar dapat mengubah persepsi mereka pada belajar. Pengalaman belajar dengan metode baru yang belum dimiliki sebelumnya akan menyebabkan rendahnya efektivitas penggunaan metode baru tersebut.

Penekanan tujuan belajar yang lebih pada akuisisi pengetahuan dengan cara melakukan replikasi informasi cenderung mendorong pebelajar tidak dapat mengembangkan ketrampilan belajar yang cukup. Pebelajar cenderung memposisikan diri sebagai penerima pengetahuan, bukan pencari dan penemu. Ketika mereka berada pada situasi yang menuntut ketrampilan baru maka mereka menjadi gagap, tidak dapat segera beradaptasi dan mengadopsi pengetahuan atau ketrampilan tersebut. Meski sumber informasi saat ini telah demikian beragam, namun karena rendahnya kemampuan dalam mencari sumber informasi dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang dimiliki menyebabkan rendahnya kinerja belajar secara keseluruhan.

Sumber informasi yang banyak merupakan pendukung bagi keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran berbasis proyek. Dalam penelitian ini, karena keterbatasan sarana yang ada, maka dalam beberapa hal sumber informasi menjadi terbatas. Akses internet yang semula diharapkan dapat mendukung kegiatan ternyata tidak connect dalam beberapa waktu. Jumlah komputer yang terbatas, menyebabkan pebelajar perlu melakukan antrian untuk akses informasi global. Sebagai akibatnya terkadang informasi yang sama akan disalingtukarkan dengan pebelajar yang lain. Dan ini tentu berakibat pada variabel menjadi tidak terkendali secara baik.

Salah satu ciri dari sebuah proyek adalah pada pengelolaan sumber daya. Pencapaian tujuan proyek dapat menjadi efektif ketika sumber daya yang dimiliki dapat dikelola dengan baik. Keterbatasan pengalaman pebelajar dengan alat-alat bantu pengelolaan proyek menyebabkan tingkat penggunaan waktu di luar pembelajaran berbasis proyek itu sendiri menjadi lebih panjang. Sementara proyek yang diselenggarakan juga berbatas waktu; sehingga waktu efektif menjadi berkurang.

Meski fasilitator telah diberi pelatihan dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis proyek, namun sesungguhnya metode yang akan digunakan merupakan hal yang baru bagi fasilitator. Ini berarti bahwa tingkat internalisasi metode juga masih rendah. Pengalaman mengimplementasi metode baru yang pertama kali ini digabungkan dengan habit pebelajar yang hanya sebagai penerima infomrasi akan membuka peluang adanya miskomunikasi atau interpretasi atas penjelasan fasilitator yang berbeda. Hal ini tentu berbeda dengan pengajar di kelompok pembelajaran kelas. Pengajar telah mengalami dan melakukan aktivitas tersebut lebih lama; yang berarti tingkat internalisasinya lebih baik.

Dengan menggunakan konsep kurva pembelajaran, maka sesungguhnya pebelajar belum berada dalam situasi yang steady state. Sementara pada kelompok pebelajar yang mengalami pembelajaran kelas, mereka sudah pada situasi yang steady state. Keberadaan posisi dalam kurva pembelajaran yang berbeda ini menjadikan tingkat keberhasilan relatif yang rendah. Ekstrapolasi atas kesimpulan ini adalah bahwa sesungguhnya apabila pada kelompok yang mengalami pembelajaran berbasis proyek telah berada pada situasi steady state maka interaksi antara variabel proses pembelajaran dan usaha pemecahan masalah akan terjadi secara signifikan.