Motivasi dan Proses Pembelajaran Berbasis Proyek

Motivasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran, selain juga dalam proses penyelesaian suatu masalah. Motivasi memiliki kaitan yang sangat erat dengan prestasi, yaitu sebagai faktor penentu kegagalan atau keberhasilan dalam penyelesaian tugas tertentu. Seseorang yang memiliki motivasi tinggi akan memiliki kecenderungan selalu menunjukkan semangat penyelesaiam tugas secara konsisten, bekerja terus menerus meski tidak memperoleh pengawasan seseorang, atau secara sukarela mempertahankan kinerja dalam usaha mencapai tujuan.

Motivasi selain dipengaruhi oleh pengalaman pebelajar, namun juga ditentukan oleh persepsi dan interpretasi terhadap pengalaman tersebut. Dengan demikian, motivasi dilihat sebagai suatu proses yang melibatkan (1) variabel kepribadian pebelajar, (2) variabel situasional atau kontekstual, (3) variabel persepsi pada variabel internal dan eksternal (Copley, 1991).

Dengan menggunakan pembahasan berdasarkan teori motivasi, maka kelebihan proses pembelajaran berbasis proyek dibandingkan dengan pembelajaran kelas dapat lah dijelaskan. Menumbuhan motivasi yang dilakukan pada awal aktivitas pembelajaran berbasis proyek akan mempengaruhi motivasi intrinsik pebelajar. Rasa kepemilikan aktivitas dalam proyek secara langsung mempengaruhi kinerja seseorang dalam belajar dan ini berarti bahwa motivasi untuk menunjukkan prestasi secara terus menerus menjadi lebih mungkin. Alasan-alasan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek memungkinkan untuk terjadinya peningkatan motivasi intrinsik.

Reeve (1992) menyebutkan bahwa motivasi intrinsik mencakup kebutuhan psikologis untuk keingintahuan (curiosity), keinginan mencari penyebab (causation), menghasilkan sesuatu (effectence), dan yang sejenisnya. Membandingkan cakupan motivasi intrinsik ini dengan aktivitas yang tumbuh dan berkembang dalam pembelajaran berbasis proyek maka dapat diindikasikan bahwa pebelajar memang meningkat motivasi intriksiknya. Hal ini terlihat dengan artifak yang mereka hasilkan yang melampuai yang dihasilkan pebelajar pada pembelajaran klasikal.

Menurut teroi belajar sosial, ada dua faktor utama yang mempengaruhi motivasi, yaitu (1) pengharapan akan hasil dan self-efficacy, dan (2) tujuan yang dimiliki seseorang (Bandura, 1992). Pengharapan seseorang terhadap hasil tidak hanya ditentukan oleh akibat langsung tingkah laku dan pengalaman pribadi tetapi juga pengaruh pengalaman orang lain. Sedangkan faktor kedua adalah tujuan; tujuan yang jelas dan sejalan dengan kebutuhan pribadi akan memusatkan dan meningkatkan usaha seseorang dalam mewujudkannya (Hamilton dan Ghatala, 1994).

Dengan pendekatan teori belajar sosial, dapat dijelaskan berbagi informasi dan pengalaman dengan pebelajar lain selain mempersepsi pengalaman pribadi juga akan berpengaruh pada motivasi. Menggunaan sumber daya bersama memungkinkan pebelajar saling memberikan pengaruh positif dalam belajar. Tujuan pengembangan proyek yang dimunculkan bersama-sama akan memberi peluang untuk terjadinya negosiasi antara kebutuhan pribadi dengan kebutuhan bersama. Sebagai akibatnya maka tujuan yang spesifik dengan tingkat kesukaran sedang, dan dapat dicapai (menantang) akan menjadi pendorong semangat pencapaian tujuan (Geen, 1995; Mento, dkk., 1987; Bandura, 1992). Hal yang berbeda dalam pebelajaran kelas, tujuan dan struktur aktivitas ditentukan oleh pengajar (Slavin, 1994). Hambatan umum yang ditemui dalam pembelajaran kelas adalah untuk tetap menjaga perhatian dan keinginan pebelajar pada proses belajar yang terselenggara (Slavin, 1994). Sehingga motivasi intrinsik pebelajar relatif tidak tumbuh dengan baik dan ini berpengaruh pada tingkat pemahaman pebelajar.

Aktivitas-aktivitas yang berkembang dalam proses pembelajaran berbasis proyek memungkinkan terjadinya pengaturan pribadi dalam belajar (self-regulated learning). Pebelajar dapat mengetahui kapan menggunakan pengetahuan atau ketrampilan tertentu dan kapan tidak. Mereka lebih proaktif untuk mencari informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas. Dengan aktivitas yang mereka miliki mereka akan selalu melakukan self-orientedfeedback. Dengan pembelajaran berbasis proyek, pebelajar juga membangun proses kesalingtergantungan motivasi (Zimmerman, 1990). 

Dengan melihat (1) bagaimana pebelajar memilih, mengorganisasi, membangun aktivitas; (2) bagaimana pebelajar merencanakan dan mengendalikan aktivitas antara proses pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas maka akan terlihat bahwa tingkat motivasi yang tumbuh menjadi berbeda. Perbedaan motivasi ini yang pada akhirnya akan mempengaruhi perbedaan kinerja pebelajar dalam pemecahan masalah secara individu. Ketika seseorang mengubah tujuan atau strategi dalam suatu tugas atau harapan dan usahanya, maka mereka akan mendekati suatu masalah dengan cara yang berbeda pula. Dalam proses pembelajaran yang dinamis, perubahan ini dapat terjadi secara langsung dan cepat (Paris dan Newman, 1990).