Ketrampilan Baru Dalam Dunia Kerja

Tuntutan dari perubahan yang terjadi  dari berbagai sisi telah memun-culkan kebutuhan baru dalam tenaga kerja agar dapat bertahan dalam kehidupan di masyarakat. Dan hanya dengan pendidikan yang kondusif maka seseorang akan lebih mampu untuk itu (Rudduck, 1991).  Agar dapat bertahan dalam kehidupan di masayarakat saat ini, pada akhirnya perlu pengajaran yang  baik sehingga dapat terjadi saling berbagi makna (creating shared meaning) dan berbagi komitmen (a shared commitment) di antara individu dan kelompok kerja (Senge, 1995). Namun demikian terkadang ada hambatan dalam pelaksana-annya. Meski pengajar tahu bahwa mereka berperan sebagai fasilitator atau guide untuk menuju kematangan intelektual namun tidak semuanya melakukan hal tersebut (Fox, 1979).

            Perubahan masyarakat saat ini telah berubah secara mendasar dan cepat. Untuk itu, perlu adanya penyesuaian baik untuk saat ini maupun untuk menen-tukan masa depan. Dan sekolah diharapkan mampu untuk menghadapi peru-bahan tersebut. Sebagai masyarakat, pada akhirnya perlu adanya perubahan pada tujuan pendidikan yang terpancar pada program yang diselenggarakan. Ornstein dan Levine, (1985) menyarankan beberapa aktivitas yang dilakukan untuk terjadinya peningkatan sekolah dan reformasi dapat dilakukan dengan: (1) adaptive problem solving, (2) school level focus, (3) leadership and shared agreement, (3) teacher involvement, (4) multiple obstacles, (5) combination top-down and bottom-up approach, (6) data collection, (7) training of staff. 

            Dengan adanya perubahan dalam sekolah akan membuka pembelajaran yang memberi peluang pada tiap individu menampilkan kemampuannya yang mungkin berbeda dengan yang lain dalam lingkungan yang sama. Barangkali tepat yang diungkapkan oleh Gagne dan Glasser (1987) bahwa di antara empat level sistem (yakni level institusional, level administratif, level instruksional dan level pengalaman belajar) maka penekanan yang sebaiknya dilakukan adalah pada level pengalaman belajar.

            Kajian yang dilakukan oleh Prange, Jowet dan Fogel (1982) menunjukkan bahwa ada kecenderungan pendidikan tinggi saat ini relatif tidak relevan dengan kebutuhan sosial dan juga pendidikan tinggi diragukan keefektifannya dalam melayani kebutuhan masyarakat. Sejumlah besar lulusan tidak memiliki ketrampilan/ kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan akhirnya mereka menjadi pengangguran. Kebutuhan pendidikan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman kehidupan nyata menjadi sangat perlu. Untuk itu pendidikan tinggi perlu membangun dan mengembangkan kemampuan-kemampuan untuk belajar terus menerus pada pebelajar.

            Jika lulusan pendidikan tinggi dituntut untuk memahami dan hidup dalam perubahan yang cepat dalam dunia nyata, maka institusi pendidikan perlu kembali memodelkan kurikulum dan struktur institusi. Hal ini dilakukan untuk dapat menyesuaikan dengan perubahan yang diharapkan pada pebelajar, hubungan antara pendidikan dengan masyarakat dan filosofi pendidikan tinggi dewasa ini. Dengan ini maka institusi dapat membantu pebelajar mencapai pengetahuan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dirinya dan masyarakat kapan dan dimanapun (Joyce, 1990; Peterson, 1990). Sehingga tuntutan akan sistem pembelajaran yang dapat menghasilkan kemampuan bersaing secara global menjadi tinggi (Rudduck, 1991; Jonassen, 2000; Salisbury, 1996).

Kecenderungan-kecenderungan pergeseran pada dunia industri seba-gaimana yang ditulis oleh Salisbury (2000) akan berkonsekuensi pada perlunya pengembangan kemampuan dan ketrampilan baru untuk tenaga kerja. Galbreath (1999) menyatakan bahwa pada era ilmu pengetahuan ada sepuluh ketrampilan yang perlu dikuasai untuk dapat bersaing dalam dunia kerja, yaitu: ketrampilan komunikasi, inovasi dan kreativitas, kerja secara team dan pemberdayaan, mena-jemen informasi, melek teknologi informasi, visualnetics, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, pengembagan dan pengelolaan pengetahuaan, kecer-dasan bisnis.

Hutton (1997) menengarai ada sepuluh kemampuan dan ketrampilan untuk dapat bersaing pada era belajar sepanjang hayat, yaitu: (1) belajar cara belajar, (2) menerapkan pengetahuan baru dalam praktek, (3) mempertanyakan dan merasionalkan, (4) mengelola diri sendiri dan orang lain, (5) mengelola informasi, (6) ketrampilan komunikasi, (7) kerja kelompok, (8) ketrampilan memecahkan masalah, (9) adaptabilitas dan fleksibilitas, (10) belajar sepanjang hayat.

Sedangkan Dryden dan Vos (1999) secara lebih ringkas menyebutkan untuk dapat survive dalam lingkungan yang terus berubah seseorang perlu untuk mengembangkan 4 macam kemampuan, yaitu: self-esteem dan personal deve-lopment, lifeskill, learning how to learn and to think, specific academic.

            Dari kondisi yang ada saat ini telah terjadi kesenjangan yang  cukup jelas antara kemampuan lulusan perndidikan tinggi dengan kemampuan yang dibutuh-kan di dunia kerja. Tak dapat disangkal bahwa sistem pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini telah menyebabkan terjadinya kesenjangan tersebut.

            Ada dua tipe kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran dewasa ini, yaitu: (1) terjadinya perbedaan tentang pemahaman untuk suatu fenomena yang sama antara orang awam, orang terpelajar dan ahli. Sedangkan sesungguhnya suatu fenomena perlu dipahami secara mendalam. Ini yang disebut dengan kesenjangan belajar yang pertama. (2) Sedangkan kesenjangan yang lain adalah terjadinya unitary way of knowing. Padahal untuk terjadinya  pemahaman yang mendalam dapat dilakukan bila menggunakan multiple ways of knowing (Gardner, 1999).

            Reitmen (1977) sebelumnya telah mengantisipasi bahwa bagaimanapun perlu terjadi reformasi dalam bidang pendidikan. Hal itu dilakukan untuk terjadinya pema-haman yang mendalam. Untuk tercapainya pemahaman yang mendalam sebagai tujuan pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan bersaing secara luas maka perlu terjadi pergeseran dari closed teaching system menjadi open learning system.

            Closed Teaching System bersifat (1) berpusat pada pengajar atau insti-tusi, (2) sistem yang ketat, (3) belajar membutuhkan disiplin, kerja keras, pengulangan dan menghafal, (4) pengajar sebagai sumber pengetahuan, (5) kepemimpinan secara hirarki. Open Learning System bersifat: (1) berpusat pada pebelajar, (2) longgar, (3) belajar menjadi menyenangkan, selaras dengan kei-nginan, (4) belajar dari berbagai sumber, (5) pluralistik, partisipatori (Reitmen, 1977).

            Jonassen (2000) juga menuliskan hal yang hampir sama namun untuk membedakan proses belajar pada era industri dengan era informasi/ penge-tahuan, dengan beberapa tambahan lain. Pada dasarnya memang belajar merupakan kebutuhan hidup yang didorong oleh masing-masing individu. Dan pembedaan era industri dengan era informasi/ pengetahuan sesungguhnya kembali pada paradigma mass production di era industri dan mass customization di era informasi. (Hartanto, 1995). Kemudahan-kemudahan yang diberikan pada teknologi yang telah mendorong perubahan dan pergeseran tersebut.

            Dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan kompleks dewasa ini, tidaklah cukup bila hanya mengandalkan pemahaman dalam menggunakan alat untuk mengumpulkan informasi. Namun lebih dari itu perlu kemampuan untuk kreatif dan mampu memecahkan masalah. Sebagai konsekuensi, kemampuan berifkir kritis dan kreatif, menganalisis dan mensintesis informasi untuk memecahkan masalah teknis, sosial, ekonomi dan yang lain menjadi penting. Kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang kompleks dalam suatu aktivitas proyek perlu dikembangkan dalam ruang kelas pada pendidikan tinggi (Dunlap dan Gabringer, 1996).

            Salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan pada pendidikan tinggi dimana mampu mengurangi kesenjangan antara lulusan pendidikan tinggi dengan persyaratan pekerja adalah menggunakan lingkungan yang kondusif untuk belajar secara aktif. Memberikan alternatif pendekatan belajar yang kondusif adalah merupakan sistem pembelajaran yang: (1) mendorong siswa bertanggung jawab dan mengambil keputusan dan belajar secara intensional dalam atmosfer kolaborasi di antara siswa dan pengajar, (2) memberi peluang studi dan investigasi dengan konteks yang bermakna dan informasi yang mendukung, (3) menggunakan partisipasi aktivitas dinamis yang mendorong pada proses berfikir tingkat tinggi, penyelesaian masalah kompleks, kreativitas, diskusi dalam berbagai perspektif.

            Syarat yang penting pada lingkungan belajar yang konstruktivistik adalah pembelajaran perlu bersifat generatif (tumbuh).  Generative learning adalah belajar dimana siswa didorong untuk menciptakan makna dari apa yang mereka kaji (Wittrock, 1978).  Dengan cara ini peran pebelajar menjadi investigator, pencari dan memecah masalah. Sedangkan pengajar berperan sebagai fasilitator, dan pengarah lebih dari sekedar menyampai pengetahuan.