Implikasi Usaha Pemecahan Masalah pada Belajar

Penelitian yang dilakukan oleh Slavin, Kagan, dan David & Johnson (Heinich,  dkk., 2002) menemukan bahwa aktivitas kolaborasi tidak hanya lebih baik dalam pemerolehan dan retensi isi pelajaran, tetapi juga memajukan keterampilan-keterampilan interpersonal dan berpikir yang lebih baik. Penelitian ini telah menekankan pada pentingnya unsur saling ketergantungan sebagai kunci sukses dalam kolaborasi. Anggota kelompok perlu  memiliki kepentingan dan persepsi dalam pemecahan masalah bersama.

Slavin (1995) juga menyatakan implikasi kolaborasi pada kinerja belajar. Penghargaan kelompok berdasarkan aktivitas-aktivitas individual untuk semua anggota kelompok dalam aktivitas kolaborasi secara ekstrim cukup penting dalam menghasilkan kinerja belajar yang positif. Strategi-strategi pembelajaran kolaborasi yang diarahkan melalui pembelajaran kooperatif memberikan hasil yang sesuai  dengan kerangka kerja teoretik yang diusulkan oleh Slavin bahwa tujuan kelompok akan berpengaruh positif pada peningkatan kinerja belajar.

Dalam kerangka kerja teoretik yang kembangkan oleh Slavin mengasumsikan bahwa perilaku-perilaku dalam kolaborasi mencakup elaborasi kognitif, saling membelajarkan,   pemodelan teman sebaya, dan pengukuran- pengukuran mutualistik. Perilaku tersebut yang akan mengarahkan pada peningkatan prestasi dan kinerja belajar. Faktor-faktor inilah yang menjelaskan mengapa kombinasi penghargaan kelompok dan strategi-strategi pembelajaran dapat memberikan dampak positif terhadap proses dan hasil belajar.

Slavin (1995) juga menyatakan bahwa selain implikasi pada kinerja belajar, aktivitas kolaborasi juga akan memperbaiki penghargaan diri, lokus kendali internal, kekompakan kerja sama, dan hubungan-hubungan interpersonal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kolaborasi dapat mengubah struktur-struktur penghargaan dan tugas kelas, sistem balikan, sistem otoritas dan peranan pengajar. Implikasi tersebut positif dan signifikan secara kuantitatif. Pernyataan Slavin tersebut bersesuaian dengan temuan Jacob (1999) bahwa kolaborasi akan secara efektif meningkatkan prestasi akademik dan penghargaan diri, memperbaiki sikap-sikap siswa terhadap teman sebaya mereka dan terhadap sekolah, dan memperbaiki hubungan-hubungan antar keanekaragam kelompok.

Metaanalisis yang dilakukan oleh Johnson dan Johnson (Jacob, 1999) menyimpulkan bahwa pengalaman proses elaborasi (elaborative rehearsal) tentang materi, dukungan dari anggota kelompok, dan pertentangan konstruktif antar anggota dapat meningkatkan prestasi. Kesimpulan ini sesuai dengan teori-teori kognitif Piaget dan Vygotsky, bahwa interaksi teman sebaya memberikan kontribusi terhadap pembelajaran siswa dalam kelompok. Di sisi lain, Piaget menekankan manfaat konflik kognitif antar para siswa adalah untuk membongkar miskonsepsi dan mengarahkan pemahaman dengan kualitas tinggi.

Cooper et al. (1999) menyatakan bahwa kolaborasi merupakan salah satu aktivitas yang dapat digunakan untuk mempercepat perolehan core skills, antara lain keterampilan-keterampilan kognitif, keterampilan-keterampilan afektif, dan keterampilan-keterampilan lain yang membantu individu untuk mengembangkan potensi-potensi mereka. Hal ini karena dengan kolaborasi memungkinkan untuk terjadinya keterlibatan secara aktif dengan konteks akademik, memanipulasi dan mengelaborasi materi konseptual dalam seting sosial. Setiap anggota kelompok menjadi tertantang oleh anggota lain untuk mengembangkan proses kognitif, seperti mengklasifikasi dan menjastifikasi, dan evaluasi argumen-argumen.

Cooper et al. (1999) menyatakan bahwa kolaborasi dengan kelompok-kelompok kecil merupakan suatu alat yang sangat bermanfaat untuk mempercepat proses berpikir kritis. Di samping itu, kolaborasi memiliki pengaruh yang bermanfaat pada sejumlah pengukuran-pengukuran prestasi dan sikap baik di tingkat sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Heinich (2002) menyatakan bahwa sumber balikan yang paling bermanfaat dan paling efektif dalam pembelajaran adalah ‘orang lain’. Ini berarti bahwa interaksi teman sebaya dalam kolaborasi memberikan pengaruh signifikan untuk efektivitas pembelajaran. Terdapat fakta bahwa pembelajaran dan pengajaran teman sebaya secara ekstrim cukup efektif untuk sejumlah tujuan, isi, dan tingkat perbedaan personalitas (McKeachie, 1994). Dengan saling membandingkan ide-ide antar anggota kelompok akan memberikan kontribusi dalam proses pemecahan masalah, terlebih bila anggota kelompok memiliki pengetahuan awal dan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang cukup terkait dengan masalah yang dipecahkan.

Sedangkan Bennett et al. (1991) menyatakan  bahwa dampak aktivitas kolaborasi adalah penghargaan diri dan prestasi menjadi lebih tinggi; meningkatkan retensi; perilaku lebih terfokus pada tugas; keterampilan-keterampilan kolaboratif, dukungan sosial, motivasi, dan penggunaan pemikiran tingkat tinggi menjadi lebih besar; sikap terhadap pengajar dan sekolah menjadi lebih baik; dan penyesuaian secara psikologis menjadi lebih positif.