Implikasi Proses Pembelajaran dan Pemecahan Masalah

Dalam perspektif tradisional, tujuan pendidikan adalah menciptakan orang-orang terdidik (deliberate and often painful attempts to learn). Dalam konteks ini pendidikan terbatas sebagai tujuan akhir. Dewasa ini, tujuan pedidikan adalah menghasilkan orang-orang yang mampu menerapkan pengetahuan dalam kondisi yang terus berubah, dan yang lebih penting adalah mampu belajar terus menerus dengan caranya (Thomas, 1986). Perbedaan tujuan pendidikan ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan pula dalam implementasinya pada proses pembelajaran.

Meski ada perbedaan, namum tetap bahwa model tentang proses pembelajaran yang diturunkan dari tujuan pendidikan yang manapun tetap akan merujuk pada kinerja belajar sebagai bagian terintegrasi dengan proses pembelajaran itu sendiri. Model hubungan antara komponen dan proses dalam belajar mencakup komponen karakteristik matakuliah, karakteristik pebelajar,  (yang keduanya akan berpengaruh pada persepsi dan intensi), aktivitas belajar, dan outcome (Thomas dan Rohwer, 1986). Model ini dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan kedua proses pembelajaran.

Meski pada dua komponen pertama, yaitu karakteristik matakuliah dan karakterisitk pebelajar sama, namun pada aktivitas dan outcome antara pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas memang berbeda. Perbedaan inilah yang akan menyebabkan adanya perbedaan yang terjadi pada pebelajar yang mengalami proses pembelajaran.

Perbedaan penekanan aspek belajar antara pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas tersebut menjadi penggerak adanya perbedaan pada outcome yang diperoleh untuk tiap proses pemebelajaran secara berbeda. Sehingga cukup rasional bila memang pada akhirnya terjadi perbedaan yang cukup signifikan pada proses pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran kelas.

Apps (1979) menyatakan bahwa tujuan proses pembelajaran saat ini sebaiknya adalah (1) membantu seseorang untuk dapat bertahan (survive), (2) membantu seseorang menemukan makna, (3) membantu seseorang belajar bagaimana belajar, (4) membantu masyarakat memberikan lingkungan yang lebih manusiawi pada setiap warganya. Pebelajar perlu lebih bersikap proactive untuk mencari apa yang ingin dipelajari. Konsep-konsep baru yang lebih mendekatkan pebelajar dengan dunia nyata menjadi salah satu penyebab munculnya pembelajaran berbasis proyek.

Sedangkan pembelajaran klasikal yang memang selama ini dilihat sebagai salah satu alternatif untuk tejadinya efisiensi sumber daya namun bukan efektivitas belajar, memberikan penekanan pada content of the subject matter  bukan pada nurturant effect of learning. Dan pebelajar dilihat sebagai sesuatu yang pasif atau sebagai obyek yang orang lain memegang kendali sehingga pebelajar perlu dibantu untuk ini dan itu. Dengan kata lain bahwa pada akhirnya untuk meningkatkan kompetensi dunia industri, pembelajaran berbasis proyek lebih berpeluang untuk itu.

Gagne (1985) menyebutkan bahwa tujuan proses belajar adalah peningkatan kapabilitas pada declarative knowledge (verbal information), procedural knowledge (intelectual skill), cognitive strategies (problem solving), motor skill, dan attitudes. Konsep di atas dikembangkan dari teori pemrosesan informasi. Belajar masih dilihat sebagai pembelajaran kelas yang terpisah dari kehidupan nyata, maka Gagne mempertanyakan “mungkinkah pengetahuan tentang proses belajar diterapkan untuk ‘task’ yang membuat seseorang lebih mampu untuk memecahkan masalah,  untuk berfikir secara jelas, dan mencipta-kan ide atau secuatu yang asli.

Teori belajar yang lain melihat bahwa belajar merupakan aktivitas yang dinamik (Schank, 2001). Teori dinamik melihat bahwa dalam proses belajar pe-nyimpanan memori saja tidaklah cukup. Pebelajar perlu memiliki konteks yang sesuai dengan informasi baru yang diperolehnya agar dapat menggunakannya sesuai dengan kecerdasannya. Siklus sejak identifikasi masalah hingga melakukan evaluasi atas alternatif yang terjadi pada pembelajaran berbasis proyek memberi peluang yang lebih baik untuk terjadinya aktivitas dinamik. Pemahaman yang lebih mendalam lebih mungkin untuk diperoleh dengan proses pembelajaran tersebut.

Mills (1985) dengan kalimat yang berbeda menyebutkan bahwa belajar adalah proses yang terus menerus dalam mengembangkan dan memodifikasi konseptual. Sedangkan Piaget melihat belajar sebagai aktivitas yang direpresen-tasikan pada perkembangan script/ scheme pada diri pebelajar.

Namun demikian perlu juga melihat bahwa pada era sekarang sesungguhnya pebelajar tidak saja aktif tetapi lebih dari itu. Lebih tinggi dari aktif adalah proaktif. Aktif menekankan pada kemampuan adapting (copying activity) sedangkan proactive lebih pada creating. Dan pebelajar dengan sifatnya yang intensional maka akan selalu melakukan creating dalam belajar.

Suatu yang perlu adalah bagaimana cara yang sesuai untuk mengukur atau menilai masing-masing. Tujuan yang berbeda akan menentukan teknik dalam proses assessment. Perlunya perubahan dalam proses penilaian atau assessment ini terjadi karena 3 faktor, yaitu: perubahan lingkungan tujuan belajar, hubungan antara penilaian dan pengajaran, dan pembelajaran. Juga karena adanya keterbatasan metode pencatatan kinerja dan pelaporan kredit (Marzano, Pickering, dan Tighe, 1994).