Belajar dalam Perspektif

Ada empat kekuatan yang mempengaruhi praktek pendidikan dewasa ini, yaitu: (1) perubahan tujuan pendidikan. Dalam perspektif tradisional, tujuan pendidikan adalah menciptakan orang-orang terdidik. Dalam konteks ini pendidikan terbatas sebagai tujuan akhir. Dewasa ini, tujuan pedidikan adalah menghasilkan orang-orang yang mampu menerapkan pengetahuan dalam kondisi yang terus berubah, dan yang lebih penting adalah mampu belajar terus menerus dengan caranya. (2) Pergeseran fokus pembelajaran dari pengajar ke pebelajar. (3) Konsep belajar sepanjang hayat sebagai prinsip yang menggerakkan organisasi pendidikan. (4) Pengembangan sistem penyampaian yang baru untuk pembelajaran (Knowles, 1980).

Pergeseran yang terjadi dalam pendidikan sesungguhnya tidak lepas dari pergeseran yang terjadi dalam perkembangan industri. Sistem pendidikan selama ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri (Gardner, 1999; Kiyosaki, 2000). Sehingga sistem pendidikan juga berkembang menuruti paradigma sistem industri yang seragam pada produknya, penekanan interaksi subyek dengan obyek, pengabaian pada perbedaan kebutuhan antar pengguna (Kotler, 1998; Hartanto, 1995; Stoner, 1996).

Pergeseran sistem industri dewasa ini memberikan peluang (atau menuntut) bagi terjadinya perubahan dalam sistem pendidikan. Perbedaan kebutuhan ketrampilan pekerja dalam dunia industri menjadikan perlunya perubahan dalam pendidikan. Bate dalam Salisbury (1996) menyatakan bahwa dewasa ini telah terjadi kecenderungan perubahan dalam industri pada 9 aspek, yaitu: (1) dari resource based ke knowledge based, (2) dari manufacture ke service, (3) dari perusahaan besar ke perusahaan kecil, (4) dari full timer menjadi part timer, (5) dari employeed ke self-employeed, (6) dari specific skill level ke generic skill level, (7) dari brawn ke brain, (8) dari men ke women, (9) dari factory based ke home/ intransit based. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Galbreath (1999) dengan cara yang agak berbeda.

Konsekuensi perubahan basis industri tersebut salah satunya adalah perubahan tujuan pembelajaran. Selama ini pendidikan memberikan penekanan pada 3 R (Reading, Writing, Arithmetic) maka untuk memenuhi kebutuhan lebih luas perlu ditambahkan dengan 3 T (Technology, Teaming, Transference), yaitu kemampuan belajar, memanipulasi, dan menggunakan berbagai macam teknologi berbasis komputer, bekerja secara team dan kolaboratif dalam lingkungan yang berbeda-beda, dan kemampuan mentransfer pengetahuan dan ketrampilan ke situasi yang kadang tidak teridentifikasi sebelumnya (Galbreath, 1999).

Hal itu menjadikan lebih jelas bahwa pebelajar perlu melakukan aktivitas yang akan berkaitan dengan informasi yang sarat dan deras, bagaimana menemukan, mengelola, dan mendongkrak belajar untuk terjadinya akumulasi pengetahuan dan pengambilan keputusan bersama.  Inti dari pergeseran ini adalah untuk tercapainya peningkatan intellectual capital yang merupakan aset terpenting industri dewasa ini. Pengetahuan yang dimiliki individu maupun perusahaan menjadi sangat penting untuk memberi nilai pada pelanggan. (Hartanto, 2000; Galbreath, 1999).

            Pendidikan tinggi saat ini sedang dalam proses perubahan yang cepat. Perubahan ini didorong oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Pendidikan tinggi mulai melihat adanya pertimbangan untuk menggunakan cara-cara baru dalam berorganisasi. Hal ini agar lebih memungkinkan untuk menyelenggarakan perkuliahan bagi pebelajar dengan berbagai karakteristik yang berbeda dan cakupan yang lebih luas. Fleksibilitas merupakan konsep kunci dan teknologi merupakan alat bantu kunci (Collis & Gommer, 2001).

            Beberapa kecenderungan yang terjadi pada pendidikan tinggi dalam pe-ngembangan salah satunya adalah konteks sosial yang lebih luas. Pertama ada-lah virtualisasi. Orang semakin merasa nyaman dengan menggunakan internet sebagai alat bantu dalam sehari-hari. Berbagai aktivitas sosial tumbuh dengan pesat melalui jaringan ini, juga pendidikan. Kedua adalah lifelong learning. Temuan-temuan baru yang kemudian diadopsi dalam industri menjadikan orang perlu untuk terus menerus memperbaharui dan menambah pengetahuan yang dimiliki. Dan pebelajar merupakan bagian dari perubahan yang terjadi pada in-dustri. Ketiga adalah fleksibilitas. Perubahan paradigma dari mass production di era sebelumnya tidak memberi peluang yang cukup untuk perbedaan pada pe-makai. Dengan perubahan teknologi dan cara penyampaian, paradigma tersebut berubah menjadi mass customization. Dengan demikian fleksibilitas menjadi pen-ting untuk berorientasi pada pelanggan (individualized).

            Untuk dapat proaktif terhadap perubahan ini, pada akhirnya akan ada tiga jenis level pebelajar yang akan dilayani oleh institusi pendidikan tinggi. Pertama adalah entry-level learner. Pebelajar ini dapat dicirikan pada pebelajar yang mungkin tidak memiliki pengalaman profesional yang cukup dan juga memiliki pengalaman yang kurang berhasil dalam memilih situasi belajar dan memotivasi pribadi. Mereka akan membutuhkan kurikulum yang telah terencana dengan baik dan berharap akan kejelasan apa yang mereka lakukan dan bagaimana melaku-kan proses pembelajaran. Sehingga mereka merasa puas dengan pembelajaran tatap muka di kelas. Tipe kedua adalah transitional-level learner. Tipe ini dicirikan meski mereka lebih menginginkan dalam fleksibilitas belajar, namun pada bebe-rapa sisi mereka tetap menginginkan adanya pembelajaran yang telah ditetapkan dengan jelas. Mereka juga menginginkan adanya pengurangan perkulihan de-ngan tatap muka di kelas. Ketiga adalah professional-level learner. Tipe ini meru-pakan tipe pebelajar yang telah matang. Mereka mampu untuk mengaitkan pem-belajaran mereka secara profesional dengan pengalaman hidup. Mereka mampu untuk membedakan aktivitas untuk kebutuhan belajar, keluarga, dan komitmen profesional lain. Dan akhirnya mereka menginginkan kurikulum yang sesuai dan dapat dipilih oleh mereka sendiri berdasar pada interes mereka. Tuntutan fleksi-bilitas waktu, ruang, isi, tipe tugas menjadi keinginan yang utama.

            Sedangkan Brown dan Duguid (2000) melihat bahwa pembelajaran saat ini merupakan sistesis dari demand driven, a social act, dan as indentity infor-mation. Dalam perspektif demand driven, permasalahan dihadapi dalam konteks situasi di tempat kerja. Dan hal ini menciptakan kebutuhan pebelajar yang mam-pu memecahkan masalah melalui kemampuan dan kinerja yang berbasis pada keberhasilan solusi. Sedangkan dalam perspektif belajar sebaga aksi sosial, lite-ratur saat ini mengarah pada penekanan aspek kognitif, bagaimana seseorang secara sosial membangun makna, kecukupan sosial, dan norma budaya. Dalam proses belajar tidak hanya ketrampilan dan hukum-hukum yang akan didapat tetapi juga kepercayaan, dan norma lain. Dengan demikian seolah-olah dengan belajar mereka memperoleh lensa baru untuk melihat fenomena. Dan ini yang pada akhirnya menjadikan belajar merupakan identias informasi (Hung, 2001).

            Pada masa kini dan ke depan ukuran keberhasilan pendidikan akan meli-puti tiga level, yaitu masyarakat (mega/ outcome), organisasi (macro/ output) dan pebelajar(micro/ product). Model-model penyampaian belajar yang terjadi selama ini baru sampai pada level mikro, yaitu terbentuknya produk atau educa-ted person (Kaufman, Watkin, & Guerra, 2001).

            Terkait dengan tiga level ukuran keberhasilan di atas barangkali tepat apa yang diungkapkan oleh Apps (1979) bahwa tujuan pendidikan sebaiknya adalah (1) membantu seseorang untuk dapat bertahan (survive), (2) membantu sese-orang menemukan makna, (3) membantu seseorang belajar bagaimana belajar, (4) membantu masyarakat memberikan lingkungan yang lebih manusiawi pada setiap warganya.

            Pengamatan atas pernyataan di atas menunjukkan bahwa saat ini dalam belajar bukan hanya memberikan penekanan pada content of the subject matter tapi pada sesuatu yang kadang sebagai nurturant effect of learning. Dan untuk itu maka perlu diubah bahwa pebelajar bukan lagi sebagai sesuatu yang pasif atau sebagai obyek yang orang lain memegang kendali sehingga pebelajar perlu dibantu untuk ini dan itu. Pebelajar perlu lebih bersikap proactive untuk mencari apa yang ingin dipelajari.

            Beberapa ahli menyebutkan bahwa belajar sesungguhnya adalah proses untuk memperoleh pengetahuan atau ketrampilan untuk kualitas lebih dari sekedar perolehan yang temporer (Husen dan Postlethwaite, 2001). Belajar tidak selalu karena pengalaman fisik dan perubahan perilaku fisik (Wilson, 1996; Dryden dan Vos, 2000).

            Griffin dan Nix (1991) melihat ada lima dimensi dalam belajar, yaitu:

1.      Possitive attitude and Perception about learning

2.      Acquiring and integrating knowledge

3.      Extending and refining knowledge

4.      Using knowledge meaningfully

5.      Productive Habit of Mind

          Suatu yang perlu adalah bagaimana cara yang sesuai untuk mengukur atau menilai masing-masing. Tujuan yang berbeda akan menentukan teknik dalam proses assessment. Perlunya perubahan dalam proses penilaian atau assessment ini terjadi karena 3 faktor, yaitu: perubahan lingkungan tujuan belajar, hubungan antara penilaian dan pengajaran, dan pembelajaran. Juga karena adanya keterbatasan metode pencatatan kinerja dan pelaporan kredit dewasa ini (Marzano, Pickering, dan Tighe, 1994).

            Sementara itu, Gagne (1985) menyebutkan bahwa tujuan proses belajar adalah peningkatan kapabilitas pada declarative knowledge (verbal information), procedural knowledge (intelectual skill), cognitive strategies (problem solving), motor skill, dan attitudes. Konsep di atas dikembangkan dari teori pemrosesan informasi. Belajar masih dilihat sebagai pembelajaran kelas yang terpisah dari kehidupan nyata, maka Gagne mempertanyakan “mungkinkah pengetahuan tentang proses belajar diterapkan untuk ‘task’ yang membuat seseorang lebih mampu untuk memecahkan masalah,  untuk berfikir secara jelas, dan mencipta-kan ide atau secuatu yang asli.

            Teori belajar yang lain melihat bahwa belajar merupakan aktivitas yang dinamik (Schank, 2001). Teori dinamik melihat bahwa dalam proses belajar pe-nyimpanan memori saja tidaklah cukup. Pebelajar perlu memiliki konteks yang sesuai dengan informasi baru yang diperolehnya agar dapat menggunakannya sesuai dengan kecerdasannya.

            Mills (1985) dengan kalimat yang berbeda menyebutkan bahwa belajar adalah proses yang terus menerus dalam mengembangkan dan memodifikasi konseptual. Sedangkan Piaget melihat belajar sebagai aktivitas yang direpresen-tasikan pada perkembangan script/ scheme pada diri pebelajar.

            Namun demikian perlu juga melihat bahwa pada era sekarang sesungguhnya pebelajar tidak saja aktif tetapi lebih dari itu. Lebih tinggi dari aktif adalah proaktif. Aktif menekankan pada kemampuan adapting (copying activity) sedangkan proactive lebih pada creating. Dan pebelajar dengan sifatnya yang intensional maka akan selalu melakukan creating dalam belajar.

            Berdasar pada hampir kebanyakan prinsip-prinsip psikologi kognitif yang diterima secara universal, diketahui bahwa ada perbedaan asumsi tentang bagai-mana pebelajar memproses informasi. Lebih dari sekedar respon secara pasif pada kendali belajar yang dilakukan oleh pengajar, pebelajar secara aktual butuh untuk memperluas pengetahuan, memasuki pengetahuan yang berkaitan, menyesuaikan informasi baru dan akhirnya menyusun kembali pengetahuan yang ada dalam memori. Dengan demikian makna ditumbuhkan oleh pebelajar yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh pengajar. Penggunaan pengetahuan yang ada sebagai dasar untuk menginterpretasi informasi dan membangun pengetahuan baru (Jonassen, 2001).

            Sama dengan Jonassen, Wittrock (1974), Dimyati (2000), dan Gardner (1999) melihat bahwa sesungguhnya belajar adalah aktivitas generatif, jiwa manusia selalu memancar. Hal ini berarti bahwa sesungguhnya manusia itu adalah makhluk belajar (Senge, 1995; Dimyati, 2000; Dryden dan Vos, 1999) sehingga kebiasaan menumbuhkan aktivitas belajar perlu dimiliki oleh pebelajar. Weinsten dan Underwood (1983) menyebutkan ada 3 strategi yang dapat digunakan, yaitu: (1) reorganisasi (asking questions that require a shift in perspective), (2) integrasi (linking incoming material with previously stores material), (3) elaborasi (making links interesting and usual through imagery, analogies, humors). Strategi yang hampir sama juga di nyatakan oleh Gardner (1999) yaitu:  observasional, konfrontasional,  sistem dan terfokus.